MerahPutih.com – Pemerintah memastikan pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) tidak akan mengganggu keberlangsungan kebijakan moneter maupun stabilitas ekonomi nasional.
Menteri Sekretaris Negara sekaligus Juru Bicara Presiden Prabowo Subianto, Prasetyo Hadi, meminta publik tetap tenang menghadapi transisi kepemimpinan di bank sentral.
Baca juga:
Perry Warjiyo Putuskan Mundur dari Gubernur BI, Ekonom Sebut Rupiah dan Pasar Bisa Tertekan
“Pemerintah menjamin seluruh proses berjalan transparan dan tidak mengganggu keberlangsungan kebijakan moneter maupun stabilitas ekonomi nasional sehingga masyarakat," kata Prasetyo, Senin (27/7), dikutip dari unggahan akun Instagram @sekretariat.kabinet.
Khususnya, Prasetyo menekankan agar pelaku usaha atau kalangan pengusaha tidak perlu panik menghadapi perubahan kepemimpinan BI, karena kebijakan moneter Indonesia tetap aman dan terjaga.
Pelaku usaha diharapkan tetap tenang,
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi
Destry Damayanti Jadi Plt Gubernur BI
Posisi Perry kini digantikan Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, yang ditunjuk sebagai Pejabat Sementara alias Plt Gubernur Bank Sentral .
Baca juga:
Kronologi Bos BI Perry Warjiyo Mundur tanpa Alasan Detail: Internal Tahu Sabtu Sampai Istana Minggu
Destry memastikan operasional BI tetap berjalan normal selama masa transisi. Menurutnya, seluruh tugas bank sentral akan dijalankan seperti biasa dengan mekanisme pengambilan keputusan yang telah berlaku.
Jadi tentunya nanti kami berlima di sini akan juga terus melanjutkan tugas dan amanah yang harus dijalankan oleh Bank Indonesia secara kolektif kolegial,
Plt Gubernur BI Destry Damayanti
Sistem Kolektif Kolegial Pimpinan BI
BI menerapkan sistem pengambilan keputusan melalui komite dan Rapat Dewan Gubernur. Kepemimpinan bersifat kolektif kolegial sehingga tugas dan kewenangan tetap dijalankan bersama oleh seluruh anggota Dewan Gubernur.
Dengan sistem ini, pemerintah menegaskan tidak ada kekosongan kepemimpinan di BI. Stabilitas moneter tetap dijaga, termasuk dalam menghadapi tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kini telah menembus di atas Rp 18.000 per dolar

