Iran Layangkan Surat Panas, Sebut Israel dan AS Terlibat Kejahatan Perang
Ilustrasi - Serangan rudal Israel ke Iran. ANTARA/Anadolu
Merahputih.com - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengakui Tel Aviv dan Washington sebagai pihak yang memulai agresi terhadap Iran. Iran menuntut agar mereka bertanggung jawab penuh, termasuk memberikan kompensasi atas kerugian yang diderita selama serangan tersebut.
Permintaan ini disampaikan Araghchi dalam surat resmi kepada Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, sebagaimana dilaporkan oleh Kantor Berita Rusia Ria Novosti pada hari Senin (30/6).
"Kami secara resmi meminta agar Dewan Keamanan mengakui rezim Israel dan Amerika Serikat sebagai inisiator tindakan agresi dan mengakui tanggung jawab mereka, termasuk pembayaran kompensasi dan reparasi," demikian isi surat yang dikutip dari saluran Telegram resmi menteri.
Baca juga:
Serangan AS ke Iran Berpotensi Bangkitkan Sel Terorisme, Indonesia Mesti Waspada
Selain itu, sebagaimana dikutip Antara, Araghchi juga menyerukan agar Dewan Keamanan PBB meminta mereka bertanggung jawab atas agresi tersebut dan mencegah terulangnya kejahatan serupa di masa mendatang.
Konflik ini bermula ketika Israel melancarkan operasi terhadap Iran pada malam 13 Juni, menuduh Iran menjalankan program nuklir militer rahasia. Serangan udara dan operasi sabotase Israel menargetkan fasilitas nuklir, jenderal militer, fisikawan nuklir terkemuka, dan pangkalan udara Iran.
Iran dengan tegas menolak tuduhan tersebut dan membalas dengan serangan militer. Kedua belah pihak terlibat dalam saling serang selama 12 hari, dengan Amerika Serikat juga terlibat dalam konflik ini setelah melancarkan satu serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada malam 22 Juni.
Baca juga:
Sebagai respons, Teheran menembakkan rudal ke pangkalan militer AS di Al Udeid, Qatar, pada malam 23 Juni, sembari menegaskan tidak berniat melakukan eskalasi lebih lanjut.
Presiden AS Donald Trump kemudian menyatakan harapannya bahwa serangan terhadap pangkalan militer AS tersebut menjadi "pelampiasan" dan membuka jalan menuju perdamaian serta harmoni di Timur Tengah. Ia juga mengumumkan bahwa Israel dan Iran telah sepakat untuk melakukan gencatan senjata, yang secara resmi mengakhiri perang 12 hari setelah 24 jam.
Bagikan
Angga Yudha Pratama
Berita Terkait
Israel Belum Siap Serangan Balasan, Trump Batalkan Serangan ke Iran
Negara-Negara Eropa Perintahkan Warganya Secepatnya Tinggalkan Iran
Ancaman Invasi AS dan Kerusuhan Iran, DPR Soroti Keselamatan WNI
Ancaman Invasi AS ke Iran, Pemerintah RI Keluarkan Imbauan untuk WNI
Korban Tewas di Iran Bertambah Jadi 2.500, Jumlah Terbesar dalam Beberapa Dekade Terakhir
Kemenlu Belum Akan Evakuasi WNI Dari Iran
Trump Kembali Ancam Iran, Siap Ambil Tindakan Keras
Iran Bergolak, Demo Ekonomi Berubah Ricuh hingga 2.000 Orang Tewas
Kelompok HAM Sebut Sedikitnya 648 Pengunjuk Rasa Tewas dalam Penindakan di Iran, Khawatirkan Jumlahnya Bisa saja Lebih Banyak
Ancaman Terbaru Trump, AS Kenakan Tarif 25% ke Negara Rekan Dagang Aktif Iran