MERAHPUTIH.COM — IRAN beralih dari serangan balasan terbatas menjadi serangan berkelanjutan terhadap musuh-musuhnya. ‘Negeri Para Mullah’ memperingatkan Amerika Serikat tidak akan mampu mengendalikan harga minyak. Pernyataan itu disampaikan juru bicara markas komando militer Khatam al-Anbiya Central Headquarters di Teheran, Rabu (11/3).
“Kami tidak akan mengizinkan bahkan satu liter minyak pun mencapai Amerika Serikat, kaum Zionis (Israel), dan para mitra mereka. Kapal apa pun atau tanker yang menuju ke sana akan menjadi target yang sah,” kata Ebrahim Zolfaqari.
“Bersiaplah menghadapi harga minyak USD 200 per barel karena harga minyak bergantung pada keamanan kawasan yang telah kalian destabilkan,” tambahnya.
Sementara itu, tiga kapal lagi dilaporkan terkena proyektil tak dikenal di Selat Hormuz. Dengan insiden terbaru tersebut, jumlah kapal yang terkena serangan di kawasan itu sejak konflik Iran dimulai kini mencapai setidaknya 14 kapal.
Baca juga:
Prancis Kerahkan Kapal Induk Charles de Gaulle ke Selat Hormuz, Amankan Jalur Minyak Dunia
Lalu lintas pelayaran di selat sempit tersebut hampir terhenti sejak Amerika Serikat dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Situasi ini menghambat ekspor sekitar seperlima pasokan minyak dunia sehingga mendorong harga minyak global melonjak ke level tertinggi sejak 2022.
Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz akan menjadi sasaran. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengancam akan meningkatkan serangan AS terhadap Iran jika negara tersebut terus menghalangi jalur pelayaran di selat tersebut.(dwi)
Baca juga:
3 ABK WNI Hilang Usai Kapal Terbakar di Selat Hormuz, DPR Desak Pemerintah Maksimalkan Pencarian