Inspirasi Ngilmu di Negeri Aing Lewat Hidup Sepuh Layar Perak Indonesia

Ikhsan Aryo DigdoIkhsan Aryo Digdo - Rabu, 28 Juli 2021
Inspirasi Ngilmu di Negeri Aing Lewat Hidup Sepuh Layar Perak Indonesia

Teguh Karya meraih enam piala kategori sutradara terbaik Festival Film Indonesia. (Foto: Unsplash/Adi Goldstein)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

PETUALANGAN menantinya, tapi namanya belum terkenal seantero negeri nusantara. Bahkan belum ada satupun yang mengenal dirinya, selain keluarganya. Nama anak laki-laki itu adalah Steve Liem Tjoan Hok. Dirinya lahir di Pandeglang, Banten.

Ketika dirinya masih kecil, dia diasuh oleh neneknya dan sahabat dari pihak neneknya. Meskipun begitu, anak dari Naomi Yahya dan Laksana Karya selalu menunjukkan keunggulannya yang berbeda. Keunggulan itu ditunjukkan setelah dirinya menginjak bangku SMP. Saat SD, dirinya hanya murid yang terbiasa pulang-pergi.

Baca juga:

Kekuatan Ilmuwan Cilik Buat Ngilmu di Negeri Aing

Dirinya tidak menguasai aljabar ataupun hal berhubung hitung-menghitung. Akan tetapi, dia sangat mendalami ilmu di bidang bahasa, sejarah, dan visual (nama keren menggambar). Steve Liem Tjoan Hok mewarisi kegemaran membaca dari pamannya. Karena dirinya pindah ke rumah pamannya yang berlokasi di ibu kota Indonesia, Jakarta. Hal itu disebabkan gesekan etnik di tempat tinggal.

Kelak dirinya dipanggil Teguh Karya seiring berjalan karier kehidupannya. Setelah pulang dari pendidikan tertingginya di Hawai, yaitu bidang art directing (seni berakting), Steve Liem atau Teguh Karya bekerja sebagai manajer panggung di hotel Indonesia.

teguh karya
Teguh Karya. (Dok.FFI)

Tentunya, bukan manajer panggung biasa, melainkan panggung untuk pementasan teater populer. Teater populer adalah perkumpulan anggota teater Indonesia yang didirikan Teguh Karya pada 1968. Nama Teguh Karya diterima Steve Liem setelah dirinya lulus Akademi Teater Nasional (ATNI) pada 1957-1961.

Setelah lulus dari ATNI, dia menempuh pendidikan luar negerinya di Hawaii, tepatnya di Universitas Hawaii (university of hawaii) pada 1962-1963. Barulah dirinya bekerja di perhotelan.

Teguh karya selalu berkecimpung di dunia pertunjukkan teater. Seperti mendirikan Badan Pembina Teater Nasional Indonesia pada 1962, sebelum hadirnya teater populer. Serta menjadikan teater populer sebagai pondok seniman-seniman Indonesia memacu kreativitasnya.

Teater populer didirikan Teguh Karya di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Selanjutnya, dikenal Teater Populer Hotel Indonesia karena penampilan anggota ditujukan sebagai pengisi acara. Teater populer diisi seniman teater independen, mahasiswa, serta alumni Teater Nasional (ATNI). Saat waktunya tiba, teater populer menjadi peninggalan terpenting Teguh Karya.

Setelah puas dalam dunia teater, mulai tenggelamlah dirinya di dunia layar kaca. Layar kaca disebut layar perak, yang berarti perfilman. 'Si sepuh' memulai uji coba dengan meluncurkan film anak-anak pada 1968, tapi merasa jenis penceritaan anak-anak kurang ‘masuk’ baginya.

Baca juga:

Keunikan Ngilmu di Negeri Aing, Siswa Pulau Dewata Sekolah Pakai Pakaian Adat

Di 1971, dirinya memproduksi dan merilis film pertama berjudul Wajah Seorang Laki-Laki. Cerita dan skenarionya dibuat oleh sang sutradara, sedangkan pemainnya berasal dari dunia teater seperti Slamet Rahardjo, hingga Tuti Indra Malaon.

Teguh Karya memiliki banyak prestasi. (Foto: Instagram/@kebudayaanjakbar)

Namun, film pertama tidak berjalan mulus. Gagal dari segi bisnis karena kurang diminati masyarakat, sedangkan kekuatan visual belum menggaet Festival Film Indonesia (FFI) pada 1972. Namun, kritikus film dan media memuji karya pertama sutradara domisili Banten ini. Karena gayanya berbeda dengan sutradara umumnya saat itu.

Hal itu terjadi karena Teguh pernah menulis skenario untuk film semi dokumenter guna setoran ke Perusahaan Film Negara (PFN). Saat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dirinya menyaksikan pekerjaan sutradara seperti Djadoeg Djajakusuma, Nya Abbas Akup, Misbach Yusa Biran, hingga Wim Umboh.

Kegagalan film pertama tidak menyurutkan niat Teguh menyajikan film-film terbaru. Lalu, gapaian dirinya mendapat Anugerah Seni Indonesia oleh pemerintah pada 1969 menjadi motivasi dirinya. Selanjutnya, dia merilis film Cinta Pertama (1973), Kawin Lari (1974), Ranjang Pengantin (1974), Perkawinan Dalam Semusim (1976), Badai Pasti Berlalu (1977), dan judul-judul yang belum dituliskan.

Teguh meraih enam piala kategori sutradara terbaik Festival Film Indonesia aka Piala Citra. Enam judulnya adalah Cinta Pertama (1973), Ranjang Pengantin (1974), November 1828 (1979), Di Belakang Kelabu (1983), Ibunda (1986), dan Pacar Ketertinggalan Kereta (1989).

Di luar enam piala citra, sepuh teater juga memiliki tiga nominasi sutradara terbaik lewat film Usia 18 (1980), Secangkir Kopi Pahit (1985), dan Doea Tanda Mata (1985). Prestasi yang diraih Teguh karena filmnya memberikan detail pada akting, setting, cerita, unsur drama, dan mengambil masalah kehidupan sehari-hari saat itu.

Namun, prestasi terbaik yang dihasilkan Teguh Karya adalah menyediakan tontonan sinetron untuk masyarakat Indonesia. Mulai dari sinetron Pulang (1987), Arak-Arakan (1992), Pakaian & Kepalsuan (1994), serta Indonesia Berbisik (1995) sebagai film televisi.

Teguh Karya memproduksi dan merilis film pertama berjudul 'Wajah Seorang Laki-Laki'. (Foto: Unsplash/Brands&People)

Pacar Ketertinggalan Kereta adalah karya terakhir Teguh Karya di bagian film, tapi Indonesia Berbisik (1995) menjadi karya penutupnya sebelum sakit menggempurnya. Akhir dari kisah sang sutradara legenda diturunkan kepada pewarisnya. Tentunya, bukan pada anaknya, melainkan aktor dan aktris didikan Teguh.

Warisan Teguh adalah Teater Populer dan artis didikannya. Slamet Rahardjo, Alex Komang, Christine Hakim, Roy Marten, Ayu Azhari, Eros Djarot, Ria Irawan, Yessy Gusman, Henky Sulaiman, Niniek L Karim, banyak belajar dari Teguh karya.

Para artis didikannya juga berprestasi. Salah satunya Christine Hakim meraih piala citra sebagai artis pemeran utama. Meskipun disalip Putri Marino, aktris pemeran film Posesif (2017), Christine mengukuhkan piala citra yang kesembilan pada Desember 2020.

Meskipun menghasilkan dua warisan untuk negeri ini, ada satu warisan Teguh karya yang terlupakan. Yaitu formula alur sinetron karya Teguh Karya. Seperti hal filmnya, sinetronnya memiliki nilai tersendiri di hati penonton.

Oleh karena itu, ada baiknya sinetron tanah air mementingkan alur penceritaan dan mengambil cerita sehari-hari di luar isu internal. Karena cepat atau lambat sinetron tanah air akan mati, dan terlupakan. Berbeda dengan Teguh Karya yang dikenang memori sampai sekarang. (bed)

Baca juga:

Aku Belajar Gaya Hidup Minimalis di Masa Pandemi

#Juli Ngilmu Di Negeri Aing #Film #Artis #Teguh Karya
Bagikan
Ditulis Oleh

Ikhsan Aryo Digdo

Learner.

Berita Terkait

ShowBiz
Sinopsis dan 3 Fakta Menarik Film Horor 'Pemikat Jiwa', Kisah Pelet yang Berujung Petaka
Film horor 'Pemikat Jiwa' mengangkat kisah cinta tak berbalas, obsesi, dan praktik pelet yang berujung petaka. Simak sinopsis serta fakta menariknya.
Ananda Dimas Prasetya - 29 menit lalu
Sinopsis dan 3 Fakta Menarik Film Horor 'Pemikat Jiwa', Kisah Pelet yang Berujung Petaka
Indonesia
Nobar 'Ghost in the Cell', Ganjar Pranowo: Sindirannya Nyelekit
Ganjar menambahkan bahwa media seni dan budaya penting untuk melatih kepekaan agar para pemimpin dan masyarakat selalu sadar terhadap realitas.
Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 07 Juni 2026
Nobar 'Ghost in the Cell', Ganjar Pranowo: Sindirannya Nyelekit
ShowBiz
Sinopsis dan Fakta Menarik Film 'Warkop DKI: Viralin Dong', Misi Jadi Konten Kreator Berujung Diteror Arwah
Warkop DKI: Viralin Dong segera tayang 11 Juni 2026. Berikut ini adalah sinopsis dan empat fakta menariknya.
Soffi Amira - Minggu, 07 Juni 2026
Sinopsis dan Fakta Menarik Film 'Warkop DKI: Viralin Dong', Misi Jadi Konten Kreator Berujung Diteror Arwah
Indonesia
Rayakan Bulan Bung Karno, PDIP Dorong Apresiasi Film Indonesia Lewat 'Ghost in the Cell'
Kulturanesia menggelar pemutaran film Ghost in the Cell dalam rangka merayakan bulan Bung Karno.
Soffi Amira - Minggu, 07 Juni 2026
Rayakan Bulan Bung Karno, PDIP Dorong Apresiasi Film Indonesia Lewat 'Ghost in the Cell'
ShowBiz
Sherina Munaf Bintangi Film 'Filosofi Teras', Adaptasi Buku Best Seller Henry Manampiring
Sherina Munaf dipercaya menjadi pemeran utama film Filosofi Teras produksi MD Pictures. Film ini diadaptasi dari buku best seller karya Henry Manampiring.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 06 Juni 2026
Sherina Munaf Bintangi Film 'Filosofi Teras', Adaptasi Buku Best Seller Henry Manampiring
ShowBiz
Taylor Swift Kembali ke Musik Country lewat 'I Knew It, I Knew You' sebagai Soundtrack 'Toy Story 5'
Taylor Swift merilis lagu baru berjudul 'I Knew It, I Knew You' sebagai soundtrack utama Toy Story 5. Lagu ini menandai kembalinya Swift ke nuansa country.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 06 Juni 2026
Taylor Swift Kembali ke Musik Country lewat 'I Knew It, I Knew You' sebagai Soundtrack 'Toy Story 5'
ShowBiz
'Night Shift for Cuties' Dobrak Stereotipe Perempuan di Industri K-Pop
Serial 'Night Shift For Cuties' tayang 4 Juni 2026 hanya di Netflix.
Dwi Astarini - Jumat, 05 Juni 2026
'Night Shift for Cuties' Dobrak Stereotipe Perempuan di Industri K-Pop
ShowBiz
‘Nobody Loves Kay’ Tayang Hari ini, Mengaduk Emosi dengan Kisah Perjuangan Gen Z
Film ini didedikasikan untuk setiap anak muda yang sedang bertaruh nyawa demi masa depannya.
Dwi Astarini - Kamis, 04 Juni 2026
‘Nobody Loves Kay’ Tayang Hari ini, Mengaduk Emosi dengan Kisah Perjuangan Gen Z
ShowBiz
Nick Jonas dan Paul Rudd Adu Akting di 'Power Ballad', Drama Musikal tentang Ambisi dan Persahabatan
Nick Jonas kembali ke layar lebar lewat Power Ballad. Film garapan John Carney ini mengisahkan persahabatan, ambisi, dan konflik dua musisi.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 03 Juni 2026
Nick Jonas dan Paul Rudd Adu Akting di 'Power Ballad', Drama Musikal tentang Ambisi dan Persahabatan
ShowBiz
3 Alasan Film 'Obsession' Tidak Tayang di Bioskop Tanah Air
Didorong rasa putus asa, Bear berharap Nikki mencintainya lebih dari siapa pun
Angga Yudha Pratama - Rabu, 03 Juni 2026
3 Alasan Film 'Obsession' Tidak Tayang di Bioskop Tanah Air
Bagikan