Merahputih.com - Film horor romantis Obsession sukses mencuri perhatian penonton di berbagai negara dan menjadi salah satu kejutan terbesar di box office tahun ini. Namun, di tengah popularitasnya yang terus meningkat, film tersebut justru tidak masuk dalam daftar tayang bioskop Indonesia.
Obsession mengisahkan Bear, seorang pemuda pendiam yang bekerja di toko alat musik bekas dan diam-diam menaruh perasaan pada rekan kerjanya, Nikki. Selama bertahun-tahun ia tak pernah berani mengungkapkan isi hatinya.
Suatu hari, hidup Bear berubah setelah mengalami kehilangan besar yang membuatnya terpuruk. Dalam kondisi rapuh, ia menemukan sebuah jimat misterius bernama One Wish Willow yang konon mampu mengabulkan satu permintaan.
Baca juga:
Film 'Love Barista' Tayang 5 Juni 2026, Simak Sinopsis hingga Daftar Pemainnya
Didorong rasa putus asa, Bear berharap Nikki mencintainya lebih dari siapa pun. Awalnya keinginannya tampak menjadi kenyataan. Nikki mendadak sangat perhatian dan ingin selalu berada di dekatnya.
Namun, kebahagiaan itu perlahan berubah menjadi mimpi buruk. Perasaan cinta Nikki berkembang menjadi obsesi yang mengerikan. Sikapnya semakin tidak terkendali dan membuat Bear menyadari bahwa ada harga mahal yang harus dibayar karena mencoba mengendalikan hati orang lain.

Film yang dibintangi Michael Johnston, Inde Navarrette, Cooper Tomlinson, Megan Lawless, dan Andy Richter ini memadukan unsur romansa, thriller psikologis, dan horor supranatural dalam satu cerita yang menegangkan.
Proyek ini dikerjakan oleh sutradara Curry Barker. Sosok yang sama di balik sejumlah film seperti Milk and Serial, Chair, Warnings hingga Anytging but Ghost. Namun Obsession jadi film yang gemilang secara komersialisasi dan ranting.
Secara rating, Obsession mendapatkan sambutan positif dari kritikus. Di situs agregator ulasan film Rotten Tomatoes, “Obsession” memperoleh skor fantastis antara 94 persen hingga 96 persen dan menyandang status Certified Fresh.
Alasan Obsession tidak tayang di Indonesia
1. Diproduksi sebagai film independen berbiaya rendah
Obsession merupakan film independen dengan anggaran produksi yang relatif kecil. Pada awal pengembangannya, film ini tidak didukung oleh studio Hollywood besar yang memiliki jaringan distribusi internasional luas.
Kondisi tersebut membuat peluang film untuk masuk ke pasar bioskop internasional, termasuk Indonesia, menjadi lebih terbatas dibandingkan film-film produksi studio besar.
2. Tidak memiliki distributor besar di Indonesia
Keberhasilan sebuah film tayang di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kualitas cerita, tetapi juga dukungan distributor lokal. Hingga saat ini, belum ada distributor besar yang diketahui mengambil hak edar Obsession untuk pasar Indonesia.
Tanpa dukungan distribusi yang kuat, film independen sering kali kesulitan mendapatkan slot penayangan di jaringan bioskop nasional.
Baca juga:
Sinopsis 'Backrooms', Film Horor A24 yang Siap Teror Bioskop Indonesia Juni 2026
3. Pertimbangan bisnis jaringan bioskop
Pengelola bioskop biasanya mempertimbangkan potensi keuntungan sebelum memutuskan menayangkan sebuah film. Faktor seperti popularitas aktor, kekuatan promosi, hingga nama studio menjadi bahan pertimbangan utama.
Karena Obsession tidak dibintangi superstar Hollywood dan lahir dari produksi independen, distributor lokal kemungkinan menilai risiko finansialnya cukup tinggi untuk diputar secara luas di Indonesia.
Meski demikian, kesuksesan film ini membuktikan bahwa karya beranggaran kecil tetap mampu menarik perhatian publik melalui cerita yang unik dan konsep horor psikologis yang berbeda dari kebanyakan film mainstream. (Tka)

