12 Negara Bagian Ajukan Gugatan untuk Hentikan Merger Raksasa Paramount dan Warner Bros, Bisa Rusak Iklim Usaha

Dwi AstariniDwi Astarini - Rabu, 15 Juli 2026
12 Negara Bagian Ajukan Gugatan untuk Hentikan Merger Raksasa Paramount dan Warner Bros, Bisa Rusak Iklim Usaha

Paramount yang Ogah Kalah Gugat Warner Bros soal Detail Kesepakatan dengan Netflix, Siapkan Perebutan Kekuasaan lewat Proxy Fight.(foto: the Korea times)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — SEBANYAK 12 negara bagian di Amerika Serikat mengajukan gugatan untuk menghentikan rencana merger bernilai USD 110 miliar (sekitar Rp 1.790 triliun) antara Warner Bros dan Paramount. Para penggugat menilai konsolidasi media terbesar dalam sejarah Hollywood itu akan menghambat persaingan usaha dan menyebabkan kenaikan harga bagi konsumen.

Negara Bagian California, negara bagian yang menjadi lokasi kantor pusat dan studio produksi Paramount maupun Warner Bros, menjadi pemimpin dalam gugatan kelompok itu. Jaksa Agung California Rob Bonta, dikutip BBC, mengatakan merger itu pada akhirnya akan merugikan penonton di setiap sofa rumah maupun kursi bioskop di seluruh Amerika Serikat.


Baca juga:

Netflix Justru Untung Rp 47,4 Triliun dari Kemenangan Paramount Akuisisi Warner Bros


Merger Berpotensi Kuasai 86 Persen Pasar Film




Jika merger disetujui, perusahaan hasil penggabungan tersebut akan menguasai lebih dari seperempat keseluruhan film besar yang dirilis di Amerika Serikat. Bersama Disney, Universal, dan Sony, hanya empat konglomerasi media yang akan mengendalikan sekitar 86 persen pasar film besar.

Paramount dan Warner Bros bersama-sama memiliki berbagai waralaba legendaris seperti Harry Potter, Batman, Mission: Impossible, dan Top Gun, serta saluran televisi seperti CNN, MTV, dan Nickelodeon.

Jika disetujui, perusahaan hasil merger akan menguasai hampir sepertiga pasar film bioskop dan saluran televisi kabel dasar di Amerika Serikat.

Menurut Bonta, kondisi itu akan menyebabkan harga yang lebih mahal, kualitas yang lebih rendah, serta lebih sedikit konten film dan televisi sehingga merugikan bioskop, distributor televisi kabel, dan pada akhirnya seluruh penonton di Amerika Serikat.

Baca juga:

Netflix Mundur, Paramount Siap Akuisisi Warner Bros Senilai Rp 1.866 Triliun


Paramount Bersiap Pindah Kantor



Situs berita Semafor melaporkan David Ellison, pemegang saham pengendali sekaligus CEO Paramount Skydance dan putra miliarder teknologi Larry Ellison, didesak para penasihatnya untuk memindahkan operasional perusahaan keluar dari California. Padahal, Paramount telah berkantor pusat di negara bagian tersebut selama lebih dari 100 tahun. Bonta mengatakan ia mengetahui laporan tersebut.

"Saya mendengar pernyataan itu secara langsung. Bahkan saya merasa itu seperti ancaman dan tampaknya merupakan upaya terakhir untuk memeras regulator agar mengizinkan kesepakatan yang melanggar hukum. Itu tidak berhasil. Tidak akan berhasil. Memang tidak akan berhasil,” ujarnya.

Namun, Paramount menolak berkomentar mengenai kemungkinan pemindahan operasional perusahaan dari California maupun menanggapi pernyataan Bonta.



Mengakhiri Rivalitas Satu Abad




Apabila merger terlaksana, hal itu akan mengakhiri lebih dari 100 tahun persaingan antardua studio terbesar Hollywood tersebut.

Namun, tantangan hukum menjadi hambatan besar bagi kedua perusahaan dalam upaya menyatukan operasional mereka.

Pada Juni lalu, Departemen Kehakiman AS sebenarnya telah menyetujui merger tersebut. Namun, koalisi jaksa agung dari 12 negara bagian meminta kedua perusahaan menghentikan proses transaksi hingga ada keputusan pengadilan. Mereka juga mengancam akan mengajukan perintah penangguhan sementara apabila permintaan tersebut diabaikan.

Baca juga:

Paramount yang Ogah Kalah Gugat Warner Bros soal Detail Kesepakatan dengan Netflix, Siapkan Perebutan Kekuasaan lewat Proxy Fight



Dikhawatirkan Kurangi Persaingan dan Penaikan Harga



Gugatan tersebut berfokus pada tiga sektor utama, yakni film bioskop, film blockbuster, dan saluran televisi kabel.

Menurut para penggugat, hilangnya persaingan antara Paramount dan Warner Bros akan melemahkan posisi tawar bioskop maupun jaringan televisi. Saat ini, jika salah satu studio menetapkan harga yang dianggap tidak wajar, distributor masih bisa beralih bekerja sama dengan studio pesaing.

Namun, jika kedua perusahaan bergabung, pilihan tersebut akan hilang. Akibatnya, bioskop dan jaringan televisi diperkirakan harus membayar biaya lisensi yang lebih tinggi. Hal itu pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen melalui harga tiket bioskop yang lebih mahal, biaya langganan televisi kabel yang meningkat, serta pilihan tontonan yang semakin terbatas.

"Tidak ada alasan yang dapat membenarkan kerugian besar terhadap persaingan ini," ujar penggugat dalam gugatan tersebut.



Merger Jadi Siasat Hadapi Krisis




Di sisi lain, para pendukung merger berpendapat industri media tradisional saat ini sedang menghadapi krisis. Jumlah penonton televisi kabel terus menurun, sedangkan industri bioskop menghadapi tekanan berat dari perusahaan teknologi dan platform layanan streaming. Dalam kondisi tersebut, skala bisnis yang lebih besar dianggap sebagai kebutuhan ekonomi agar perusahaan tetap mampu bersaing.

Dalam pernyataannya, Paramount menyebut gugatan tersebut sebagai cacat secara mendasar dan keliru serta menegaskan akan membela proses merger ini dengan segala upaya hukum.

Perusahaan juga menyatakan penundaan merger hanya akan semakin merugikan para pekerja industri hiburan yang telah terdampak perubahan teknologi selama beberapa tahun terakhir, serta menyebabkan California kehilangan puluhan ribu lapangan pekerjaan di sektor hiburan.(dwi)

Baca juga:

Warner Bros Tolak Tawaran Paramount meski telah Direvisi, Tetap Pilih Netflix

#Film #Paramount #Warner Bros.
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

ShowBiz
'The Hunchback, Soul of Paris' Tayang di Netflix November 2026, Bawa Kisah Quasimodo yang Berbeda
The Hunchback, Soul of Paris membawa kisah Quasimodo ke Paris 1830 di tengah wabah kolera, konflik politik, dan eksperimen medis.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 28 September 2026
'The Hunchback, Soul of Paris' Tayang di Netflix November 2026, Bawa Kisah Quasimodo yang Berbeda
ShowBiz
Sutradara 'Filosofi Teras' Ungkap Relevansi Stoisisme dengan Kehidupan Anak Muda
Sutradara Filosofi Teras Affandi Abdul Rachman mengungkap relevansi Stoisisme dengan kehidupan anak muda, termasuk soal kendali dan overthinking.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 28 September 2026
Sutradara 'Filosofi Teras' Ungkap Relevansi Stoisisme dengan Kehidupan Anak Muda
ShowBiz
Tom Holland Jadi Fred Astaire, Sabrina Carpenter Perankan Ginger Rogers di Film Biografi Legenda Hollywood
Tom Holland akan memerankan Fred Astaire dalam film biografi terbaru Sony Pictures. Sabrina Carpenter menjadi Ginger Rogers dan Margaret Qualley sebagai Adele Astaire.
Frengky Aruan - Minggu, 27 September 2026
Tom Holland Jadi Fred Astaire, Sabrina Carpenter Perankan Ginger Rogers di Film Biografi Legenda Hollywood
ShowBiz
Netflix Siapkan Film Aksi "Helo", Gabungkan Nuansa End of Watch dan Top Gun
Netflix kembali menyiapkan film aksi terbaru "Helo", film thriller yang mengangkat tema helikopter polisi dengan pendekatan yang mirip dengan End of Watch dan Top Gun.
Frengky Aruan - Minggu, 27 September 2026
Netflix Siapkan Film Aksi
ShowBiz
Johnny Depp Comeback! Tampil Misterius di Trailer Perdana Film Thriller Day Drinker
Johnny Depp kembali ke layar lebar lewat film thriller Day Drinker garapan Marc Webb.
Frengky Aruan - Minggu, 27 September 2026
Johnny Depp Comeback! Tampil Misterius di Trailer Perdana Film Thriller Day Drinker
ShowBiz
Jadwal Tayang 'Gremlins' Kembali Diundur, Jadi Meluncur 6 Oktober 2028
Warner Bros kembali mengundur jadwal tayang Gremlins. Film itu dijadwalkan meluncur 6 Oktober 2028.
Soffi Amira - Sabtu, 26 September 2026
Jadwal Tayang 'Gremlins' Kembali Diundur, Jadi Meluncur 6 Oktober 2028
ShowBiz
Film 'Filosofi Teras' Tayang 24 Desember 2026, Diadaptasi dari Buku Henry Manampiring
Film Filosofi Teras siap tayang di bioskop pada 24 Desember 2026. Film ini diadaptasi dari buku populer Henry Manampiring.
Soffi Amira - Sabtu, 26 September 2026
Film 'Filosofi Teras' Tayang 24 Desember 2026, Diadaptasi dari Buku Henry Manampiring
ShowBiz
Kembali Tayang di Bioskop, 'Avengers: Endgame Encore' Raup Untung Rp 68 Miliar
Avengers: Endgame Encore meraup keuntungan Rp 68 miliar sejak kembali tayang di bioskop.
Soffi Amira - Sabtu, 26 September 2026
Kembali Tayang di Bioskop, 'Avengers: Endgame Encore' Raup Untung Rp 68 Miliar
ShowBiz
Sinopsis 'The Doll Ghawiah', Teror Boneka Angker yang Hantui Keluarga Pranata
The Doll Ghawiah bakal tayang 29 Oktober 2026 di bioskop. Film ini siap meneror bioskop lewat format IMAX.
Soffi Amira - Jumat, 25 September 2026
Sinopsis 'The Doll Ghawiah', Teror Boneka Angker yang Hantui Keluarga Pranata
ShowBiz
Film Horor 'Lingsir Wengi' Angkat Kisah Ghost Hunter, Teror Bermula dari Kamar Terlarang
Film horor Lingsir Wengi mengikuti Putik dan teman-temannya yang menghadapi teror setelah membuka kamar terlarang di sebuah motel tua.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 24 September 2026
Film Horor 'Lingsir Wengi' Angkat Kisah Ghost Hunter, Teror Bermula dari Kamar Terlarang
Bagikan