Nobar 'Ghost in the Cell', Ganjar Pranowo: Sindirannya Nyelekit

Alwan Ridha RamdaniAlwan Ridha Ramdani - Minggu, 07 Juni 2026
Nobar 'Ghost in the Cell', Ganjar Pranowo: Sindirannya Nyelekit

Ganjar Pranowo. (Foto: ANTARA/Narda Margaretha Sinambela)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Mantan Gubernur Jawa Tengah sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo hadir dalam acara nonton bareng film Ghost in the Cell karya Joko Anwar.

Nonton bareng ini digelar oleh Kulturnesia di Metropole XXI, Jakarta Pusat, dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno.

Usai pemutaran film, Ganjar memberikan kesannya yang cukup blak-blakan. Ia mengaku film horor tersebut memiliki sindiran yang "nyelekit" dan pesan kritik sosial yang kuat, meskipun membuat istrinya berkali-kali menutup mata karena ketakutan.

Menarik ya. Teman-teman di Badan Kebudayaan menampilkan ruang-ruang seni yang bisa dinikmati masyarakat banyak. Kemarin dengan Bu Mega, Bang Rano, kita ke Jogja nonton pameran lukisan tentang Bung Karno. Luar biasa bagus. Hari ini kita ajak nonton film Indonesia, karya anak-anak bangsa yang keren menurut saya. Sindirannya lumayan nyelekit gitu ya, meskipun horornya juga wah, ngeri juga. Tapi pesan-pesannya menjadi sampai, bahwa kondisi Republik seperti ini,

ujar Ganjar kepada awak media, usai mobar.

Menurutnya, di bulan Bung Karno ini, ada harapan agar anak bangsa bisa mengekspresikan daya pikir dan kerisauan mereka.

Anak-anak bangsa bisa mengekspresikan seluruh daya pikir, apa yang menjadi kerisauan, dan mesti didengarkan oleh banyak orang. Oke aja, nggak apa-apa, karena ini sesuatu yang menurut saya baik,

* tambahnya.

Ganjar juga menyoroti salah satu pesan sentral dalam film Ghost in the Cell yang disutradarai Joko Anwar. Ia menangkap adanya gambaran tentang perbedaan kelas di dalam lembaga pemasyarakatan, termasuk praktik bisnis dan premanisme di balik jeruji besi.

Oh ternyata orang di penjara itu pesannya bisa macam-macam. Ada kelasnya kali ya? Ada kelas atas tempatnya tersendiri, kelas bawah tempatnya lain. Bahkan tadi ada tur ke penjaranya, disebutkan 'oh itu ada kelompoknya dia, ini ada kelompok ini'. Ada preman bayaran di dalam, ada bisnisnya. Saya tidak tahu apakah itu merepresentasikan cerita nyata, tapi saya kira sutradara sudah melihat situasi kondisi untuk ditampilkan dalam sebuah visual film,

jelas Ganjar.

Ia menilai kritik semacam itu penting agar kelembagaan Indonesia lebih baik, pengelolaan negara lebih governance, integritas tetap terjaga, dan masyarakat mendapat pesan tentang kondisi yang mesti diperbaiki.

Menurut saya pilihannya bagus, meskipun tentu ada kemasan. Namanya juga film horor, wah bikin orang merinding. Istri saya bentar-bentar tutup mata, tutup mata, karena ya ada nuansa lain dari tampilan filmnya,

candanya.

Menanggapi pertanyaan tentang pentingnya budaya dalam perfilman dan bentuk seni lain seperti musik, Ganjar menegaskan bahwa semua bentuk ekspresi diperlukan, terutama untuk merepresentasikan kegelisahan generasi muda.

Oh perlu, semuanya. Orang ekspresi musik sekarang, genre-genre musik anak-anak muda juga luar biasa. Kritik sosial, politik, ekonomi, lingkungan, kesehatan mental itu banyak diberikan oleh mereka. Menurut saya itu ruang ekspresi yang bisa merepresentasikan berbagai kelompok dan kegelisahan. Jadi ada lukis, ada film, mungkin nyanyi, puisi, atau barangkali mendongeng,

paparnya.

Ganjar menambahkan bahwa media seni dan budaya penting untuk melatih kepekaan agar para pemimpin dan masyarakat selalu sadar terhadap realitas.

Latihan kepekaan untuk tidak pekok itu penting. Media-media seni budaya ini penting untuk lebih banyak ditampilkan, sehingga suasana relasi sosialnya tidak terlalu hard, tidak terlalu kelihatan konfrontatif, tapi lebih mengasah rasa apa yang sedang terjadi,

tutupnya. (Pon)
#Bung Karno #Film #Ganjar Pranowo
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Alwan Ridha Ramdani

Alwan Ridha Ramdanu adalah Jurnalis kelahiran di Bandung, Jawa Barat. Sudah 20 tahun menjadi jurnalis dengan mayoritas fokus pada liputan atau menulis terkait ekonomi makro. Selain jurnalis, Alwan juga adalah pendamping petani sawit swadaya dan juga berpengalaman dalam communication dan community terkait isu keberlanjutan dan lingkungan hidup.
Show More

Berita Terkait

ShowBiz
Charli XCX Dirumorkan Bintangi 'What Happens at Night' bersama Leonardo DiCaprio
Charli XCX dirumorkan bergabung dalam 'What Happens at Night' bersama Leonardo DiCaprio dan Jennifer Lawrence. Simak proyek film lainnya.
Ananda Dimas Prasetya - 47 menit lalu
Charli XCX Dirumorkan Bintangi 'What Happens at Night' bersama Leonardo DiCaprio
ShowBiz
Sinopsis 'Misty Green', Kisah Aktris Hollywood yang Berjuang Bangkit
Film Misty Green karya Chris Rock bakal tayang di Netflix pada 9 November 2026. Simak sinopsisnya di sini.
Soffi Amira - Jumat, 23 Oktober 2026
Sinopsis 'Misty Green', Kisah Aktris Hollywood yang Berjuang Bangkit
Indonesia
Putar Film Nasional, Pramono Beri Potongan Pajak 50 Persen
Pramono berharap Jakarta bisa menjadi kota sinema seperti Busan yang merupakan kota sinema di Korea Selatan.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 23 Oktober 2026
Putar Film Nasional, Pramono Beri Potongan Pajak 50 Persen
ShowBiz
'Avengers: Endgame' Tembus 12 Juta Penonton, Kembali Jadi Film Terlaris di Indonesia
Avengers: Endgame kembali jadi film terlaris di Indonesia. Film ini mencatatkan 12 juta penonton sekaligus menggeser Agak Laen.
Soffi Amira - Jumat, 23 Oktober 2026
'Avengers: Endgame' Tembus 12 Juta Penonton, Kembali Jadi Film Terlaris di Indonesia
ShowBiz
Keanu Reeves Gabung Don Lee di 'The Gangster, the Cop, the Devil' Versi Hollywood
Keanu Reeves akan membintangi versi terbaru The Gangster, the Cop, the Devil bersama Don Lee. Paramount Pictures menggarap adaptasi film Korea 2019 ini.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 23 Oktober 2026
Keanu Reeves Gabung Don Lee di 'The Gangster, the Cop, the Devil' Versi Hollywood
ShowBiz
Berawal dari Kisah Cinta Remaja, 'In Waves' Menghadirkan Perjalanan Emosional tentang Kehilangan
Film animasi 'In Waves' diadaptasi dari memoar grafis AJ Dungo, film ini mengisahkan cinta AJ dan Kristen serta perjalanan menghadapi kehilangan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 22 Oktober 2026
Berawal dari Kisah Cinta Remaja, 'In Waves' Menghadirkan Perjalanan Emosional tentang Kehilangan
ShowBiz
Nicolas Cage Tampil Nyaris Tak Dikenali di Film Thriller Kriminal 'Best Pancakes in the County'
Cuplikan perdana Best Pancakes in the County rilis, thriller kriminal terbaru Nicolas Cage tentang rahasia CIA dan penyanderaan. Tayang 20 November 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 22 Oktober 2026
Nicolas Cage Tampil Nyaris Tak Dikenali di Film Thriller Kriminal 'Best Pancakes in the County'
ShowBiz
Film 'Hungry Ghost Festival' Tayang 26 November 2026, Angkat Teror Usai Langgar Pantangan
Film horor-komedi Hungry Ghost Festival garapan Imam Darto dibintangi Endy Arfian, Aci Resti, dan Fajar Nugra. Tayang di bioskop 26 November 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 21 Oktober 2026
Film 'Hungry Ghost Festival' Tayang 26 November 2026, Angkat Teror Usai Langgar Pantangan
ShowBiz
Setelah Series 'Reacher', Agnez Mo Bakal Beradu Akting dengan Nicholas Cage di Film 'C.L.A.Y.'
Agnez Mo mengonfirmasi keterlibatannya dalam film C.L.A.Y. bersama Nicolas Cage. Simak sinopsis dan kabar debut film panjang berbahasa Inggrisnya.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 20 Oktober 2026
Setelah Series 'Reacher', Agnez Mo Bakal Beradu Akting dengan Nicholas Cage di Film 'C.L.A.Y.'
ShowBiz
Kisah Masa Muda Buya Hamka Diangkat ke Layar Lebar, Simak Sinopsis Film 'Hamka Awal Mula Vol. 3'
Film Hamka garapan Fajar Bustomi dibintangi Vino G. Bastian. Simak sinopsis perjalanan Buya Hamka dari Maninjau hingga Mekah sebelum tayang 19 November 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 20 Oktober 2026
Kisah Masa Muda Buya Hamka Diangkat ke Layar Lebar, Simak Sinopsis Film 'Hamka Awal Mula Vol. 3'
Bagikan