MerahPutih.com - Mantan Gubernur Jawa Tengah sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo hadir dalam acara nonton bareng film Ghost in the Cell karya Joko Anwar.
Nonton bareng ini digelar oleh Kulturnesia di Metropole XXI, Jakarta Pusat, dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno.
Usai pemutaran film, Ganjar memberikan kesannya yang cukup blak-blakan. Ia mengaku film horor tersebut memiliki sindiran yang "nyelekit" dan pesan kritik sosial yang kuat, meskipun membuat istrinya berkali-kali menutup mata karena ketakutan.
Menarik ya. Teman-teman di Badan Kebudayaan menampilkan ruang-ruang seni yang bisa dinikmati masyarakat banyak. Kemarin dengan Bu Mega, Bang Rano, kita ke Jogja nonton pameran lukisan tentang Bung Karno. Luar biasa bagus. Hari ini kita ajak nonton film Indonesia, karya anak-anak bangsa yang keren menurut saya. Sindirannya lumayan nyelekit gitu ya, meskipun horornya juga wah, ngeri juga. Tapi pesan-pesannya menjadi sampai, bahwa kondisi Republik seperti ini,
ujar Ganjar kepada awak media, usai mobar.
Menurutnya, di bulan Bung Karno ini, ada harapan agar anak bangsa bisa mengekspresikan daya pikir dan kerisauan mereka.
Anak-anak bangsa bisa mengekspresikan seluruh daya pikir, apa yang menjadi kerisauan, dan mesti didengarkan oleh banyak orang. Oke aja, nggak apa-apa, karena ini sesuatu yang menurut saya baik,
* tambahnya.
Ganjar juga menyoroti salah satu pesan sentral dalam film Ghost in the Cell yang disutradarai Joko Anwar. Ia menangkap adanya gambaran tentang perbedaan kelas di dalam lembaga pemasyarakatan, termasuk praktik bisnis dan premanisme di balik jeruji besi.
Oh ternyata orang di penjara itu pesannya bisa macam-macam. Ada kelasnya kali ya? Ada kelas atas tempatnya tersendiri, kelas bawah tempatnya lain. Bahkan tadi ada tur ke penjaranya, disebutkan 'oh itu ada kelompoknya dia, ini ada kelompok ini'. Ada preman bayaran di dalam, ada bisnisnya. Saya tidak tahu apakah itu merepresentasikan cerita nyata, tapi saya kira sutradara sudah melihat situasi kondisi untuk ditampilkan dalam sebuah visual film,
jelas Ganjar.
Ia menilai kritik semacam itu penting agar kelembagaan Indonesia lebih baik, pengelolaan negara lebih governance, integritas tetap terjaga, dan masyarakat mendapat pesan tentang kondisi yang mesti diperbaiki.
Menurut saya pilihannya bagus, meskipun tentu ada kemasan. Namanya juga film horor, wah bikin orang merinding. Istri saya bentar-bentar tutup mata, tutup mata, karena ya ada nuansa lain dari tampilan filmnya,
candanya.
Menanggapi pertanyaan tentang pentingnya budaya dalam perfilman dan bentuk seni lain seperti musik, Ganjar menegaskan bahwa semua bentuk ekspresi diperlukan, terutama untuk merepresentasikan kegelisahan generasi muda.
Oh perlu, semuanya. Orang ekspresi musik sekarang, genre-genre musik anak-anak muda juga luar biasa. Kritik sosial, politik, ekonomi, lingkungan, kesehatan mental itu banyak diberikan oleh mereka. Menurut saya itu ruang ekspresi yang bisa merepresentasikan berbagai kelompok dan kegelisahan. Jadi ada lukis, ada film, mungkin nyanyi, puisi, atau barangkali mendongeng,
paparnya.
Ganjar menambahkan bahwa media seni dan budaya penting untuk melatih kepekaan agar para pemimpin dan masyarakat selalu sadar terhadap realitas.
Latihan kepekaan untuk tidak pekok itu penting. Media-media seni budaya ini penting untuk lebih banyak ditampilkan, sehingga suasana relasi sosialnya tidak terlalu hard, tidak terlalu kelihatan konfrontatif, tapi lebih mengasah rasa apa yang sedang terjadi,
tutupnya. (Pon)