Inovasi, Adaptasi, dan Kolaborasi Jadi Kunci Perkembangan Pariwisata
Pandemi COVID-19 telah mempercepat karakteristik ekonomi pariwisata baru. (Foto: Unsplash/Ruben Hutabarat)
SEKTOR pariwisata menjadi salah satu yang berdampak di masa pandemi COVID-19. Maka dari itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyampaikan kunci dalam menghadapi megashift (perubahan besar) di sektor pariwisata adalah aspek inovasi, adaptasi, dan kolaborasi.
Aspek inovasi yakni memanfaatkan platform digital dalam memasarkan produk kreatif sehingga layanan yang diberikan lebih maksimal. Aspek adaptasi, yakni menerapkan protokol kesehatan yang berlaku di era kenormalan baru. Kemudian aspek kolaborasi yang dimaksud adalah bekerja sama degan seluruh unsur pentahelix, sehingga pemulihan dan kebangkitan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dapat segera terwujud.
Baca juga:
Hal ini dikarenakan dampak dari pandemi COVID-19 yang telah mempercepat karakteristik ekonomi pariwisata baru, yaitu berdasarkan hygiene, low mobility, less crowd, dan low touch atau yang basa disebut Menparekraf dengan personalized, customized, localized, dan smaller in size.
"Ini yang harus kita sadari sebagai realita baru, untuk mencetak peluang-peluang baru di tengah pandemi. Untuk itu, inovasi adaptasi, dan kolaborasi adalah kunci utama kita dalam menghadapi dinamika yang terus terjadi," kata Sandiaga mengutip laman ANTARA.
Sandiaga menjelaskan bahwa konsep 3A (attraction, amenity, access) juga mengalami perubahan karena terbentuknya ekonomi pariwisata baru. Atraksi pariwisata saat ini lebih mengedepankan budaya dan alam, karena atraksi yang menawarkan konsep eco, wellness, dan petualangan akan lebih diminati dan menjadi arus utama baru di industri pariwisata.
Baca juga:
Berminat Masuk Perguruan Tinggi Negeri Pariwisata? Cek Website Ini
Selain itu, amenity berdasarkan aspek keramahtamahan menjadi hal penting yang harus dilakukan para pelaku usaha kepada konsumen. Pelayanan ini tentunya disempurnakan dengan karakteristik dari ekonomi pariwsata baru yang mengedapnkan kebersihan, kontak yang diminimalkan, dan tidak terlalu ramai orang.
"Karena di era pandemi, wisatawan semakin peduli terhadap cleanliness, health, safety, dan environmental sustainability," ujarnya.
Kemudian, akses yang meliputi pariwisata mikro domestik karena di tenah pandemi pergerakan wisatawan antar negara kian dibatasi. Dalam menghadapi perubahan yang terjadi, Menparekraf juga mendorong agar para pelaku usaha di sektor parekraf menyiapkan secara 360 derajat the side, the sound, the feel, the taste, the vibration, dan the resonance.
"Ini yang harus kita hadirkan dengan baik dan semenarik mungkin sebagai produk unggulan di tiap destinasi," tutupnya. (and)
Baca juga:
Sumatera Selatan Jadikan Pariwisata sebagai Program Unggulan
Bagikan
Berita Terkait
Promo Ancol 2026: Tiket Masuk Rp 35 Ribu, Gratis Voucher Makan Rp 20 Ribu
Syahbandar Larang Kapal Wisata Labuan Bajo Berlayar Malam Hari
Kereta Panoramic Jadi Favorit Wisata Nataru 2025-2026, Pelanggan Capai 11.819 Orang
Cirebon Jadi Tujuan Pariwisata Baru saat Nataru 2026, KAI Catat 274 Ribu Penumpang Kereta Api Turun dan Naik
Penumpang KA Panoramic Tembus 150 Ribu Orang per Tahun, Bukti Naik Kereta Jadi Tren Baru Berlibur
Menikmati Keindahan Senja di Pantai Pattaya, Wajah Lain Wisata Alam Thailand
Teater Bintang Planetarium Buka Sampai April 2026, Fasilitas Canggih Siap Bikin Pemuda Jakarta Pintar
Setelah Kemalingan, Museum Louvre Alami Kebocoran yang Merusak Koleksi Buku
Ketok Harga Bikin Orang Kapok Liburan di Banten, DPRD Desak Regulasi Tarif Wisata
Wisatawan Indonesia Andalkan Fitur AI untuk Rekomendasi dan Layanan Hotel