MerahPutih.com - Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor menyikapi penolakan serta pembubaran kegiatan seminar Pelurusan Sejarah 1965/66 yang dilaksanakan pada hari Minggu (17/9) di gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Jl. Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat.
Sekretaris Jenderal PP GP Ansor Abdul Rochman mengatakan, pihaknya menghargai dan menjunjung tinggi hak setiap warga negara untuk melakukan diskusi dan kajian atas sejarah peristiwa 1965/66.
"Bahkan (ANSOR) mendorong dilakukannya pengkajian yang mendalam dan komprehensif pengungkapan kasus PKI sejak 1948 secara terang benderang," ujar Rochman dalam siaran pers yang diterima MerahPutih.com, Senin (18/9).
Ansor, sambung Rochman, juga mengimbau agar sesama anak bangsa memperkuat soliditas untuk menghadapi bahaya paham-paham yang merongrong NKRI, Pancasila dan kebhinekaan.
Diketahui, Gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (LBHI) di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, dikepung ratusan massa sejak Minggu (17/9) malam hingga Senin (18/9) dinihari. Massa menuding bahwa di dalam gedung tersebut sedang dilakukan kegiatan yang berkaitan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Untuk membubarkan aksi massa tersebut, polisi terpaksa menembakkan gas air mata. Sebab, saat hari sudah menginjak Senin dini hari, massa semakin beringas.
Aksi mereka pun ditahan oleh polisi yang berjaga, namun massa aksi justru malah makin beringas hingga melempari para petugas polisi menggunakan botol plastik dan batu. Hingga Senin sekitar pukul 01.00, massa pun mulai melakukan penyerangan.
Polisi pun mengambil tindakan tegas dengan mendorong massa aksi dan menembakan gas air mata untuk membubarkan massa aksi. (Pon)
Baca juga berita terkait massa kepung gedung YLBHI/LBH di: Lihat Nih, 3 Video Suasana Mencekam Di Dalam Kantor YLBHI Saat Dikepung Dan Diserang Massa

