MERAHPUTIH.COM - BADAN Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) dihadang aparat kepolisian ketika akan menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI) untuk menggelar aksi demonstrasi, Jumat (12/6).
"Penahanan dan blokade serta represivitas dilakukan polisi kepada kami. Kami juga dipaksa melakukan demonstrasi di Gedung DPR. Padahal, kami merencanakan, dan juga mengirimkan surat kepada kepolisian, kami akan mengadakan aksi di Bundaran HI," kata Ketua BEM UI Yatalathof Ma’shum Imawan di kawasan HI.
Parahnya, ungkapnya, aparat melanggar Undang-undang (UU) 1945 tentang kebebasan beribadah. Ia mengklaim massa aksi tertahan ketika akan melaksanakan salat Jumat.
"Pada pukul 11.55, kami tepatnya di Dukuh Atas, ditahan polisi. Saat itu, kami sedang ingin menjalankan ibadah salat Jumat. Hal itu telah diatur dalam Undang-Undang 1945 Konstitusi dan Pancasila," ucapnya.
Baca juga:
Tak Ada Aksi BEM UI di HI, Massa Tertahan di Kawasan Senayan
Yatalathof menyatakan massa mahasiswa telah menyampaikan surat pemberitahuan aksi kepada Kepolisian Republik Indonesia dan Polres Metro Jakarta Pusat. Namun, saat bergerak menuju titik aksi, mereka mengaku mendapat penghadangan dari aparat.
Padahal kami telah merencanakan aksi ini dan juga sudah mengirimkan surat pemberitahuan kepada kepolisian bahwa kami akan mengadakan aksi di Bundaran HI. Namun, pada pukul 11.55 WIB, tepat saat berada di Dukuh Atas, kami ditahan oleh polisi.
Yatalathof Ma’shum Imawan, Ketua BEM UI
Ia juga mengaku penghadangan tidak hanya terjadi di kawasan Dukuh Atas, tetapi juga di sejumlah titik lain seperti Semanggi, Gelora Bung Karno (GBK), Velodrome hingga sekitar kompleks parlemen Senayan. Akibatnya, rombongan mahasiswa terpecah dan tidak dapat bergerak secara bersama-sama menuju Bundaran HI.
Ia menambahkan situasi tersebut membuat mahasiswa memilih melakukan konsolidasi ulang dengan berjalan kaki menuju kawasan Tugu Tani agar dapat kembali bergabung dengan kelompok massa lain yang terpisah.
"Akhirnya kami mengambil langkah preventif. Bersama massa yang masih terhimpun, kami melakukan long march menuju Tugu Tani untuk bergabung dengan teman-teman yang terpisah di titik lain. Saat ini teman-teman yang sebelumnya tertahan di depan DPR sudah bergabung di Tugu Tani, sedangkan teman-teman yang masih berada di Velodrome sedang bergerak menuju lokasi yang sama," katanya.
Meski mengaku menghadapi berbagai hambatan, mahasiswa menegaskan tidak akan membatalkan aksi. Mereka tetap memilih Bundaran HI sebagai lokasi penyampaian aspirasi karena dianggap sebagai ruang publik yang dapat diakses masyarakat luas.
Kami tetap akan beraksi di Bundaran HI. Kami memilih melakukan long march menuju Tugu Tani untuk mengonsolidasikan massa yang terpisah, bukan untuk mengalihkan aksi ke DPR maupun lokasi lain.
Yatalathof Ma’shum Imawan, Ketua BEM UI
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan kritik terhadap pemerintah dan lembaga legislatif. Mereka menilai ruang partisipasi publik semakin menyempit dan suara mahasiswa kerap tidak mendapatkan perhatian yang memadai.
"Hari ini kami menyampaikan kekecewaan kepada pemerintah. Kami tidak ingin aksi mahasiswa hanya dibatasi di gedung-gedung pemerintahan. Kami ingin tuntutan yang kami bawa benar-benar didengar dan dievaluasi demi perbaikan keadaan," pungkasnya.(Asp)
Baca juga:
BEM UI Turun ke Bundaran HI, Bawa Spanduk ‘Menuju Indonesia Bangkrut’