MERAHPUTIH.COM - INDONESIA diprediksi menjadi raja pasar keuangan digital di wilayah regional Asia Tenggara. Direktur PT Invetra Teknologi Berjangka Jufri Sinurat mencontohkan, berdasarkan laporan e-Conomy SEA dari Google, Temasek, dan Bain & Company, ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai USD 360 miliar pada 2030.
Angka itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar dengan potensi pertumbuhan layanan keuangan digital terbesar di Asia Tenggara. Pertumbuhan itu terjadi bersamaan dengan ekspansi pesat penetrasi smartphone dan layanan keuangan digital di seluruh Indonesia.
"Indonesia merupakan rumah bagi komunitas trader forex dan komoditas yang berkembang pesat dan semakin sophisticated," ujar jelas Jufri dalam keterangannya kepada warfawan di Jakarta dikutip Jumat (29/5).
Berdasarkan data Bappebti, total nilai transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) di Indonesia mencapai Rp 33.214,89 triliun pada 2024. Angka itu meningkat 29,34 persen jika dibandingkan dengan 2023 yang tercatat sebesar Rp 25.679,97 triliun. Jufri melihat trader Indonesia semakin membutuhkan platform yang stabil dan responsif.
Infrastruktur Invetra dirancang untuk menjawab kebutuhan tersebut, terutama dalam kondisi pasar yang bergerak cepat.
Direktur PT Invetra Teknologi Berjangka Jufri Sinurat
Hal itu relevan dengan karakteristik trader Indonesia yang aktif dan mobile-first.
Baca juga:
Perdagangan Volume Trading Pintu Meningkat, Tokenisasi Aset Jadi Primadona Baru
Jufri menegaskan trader dapat menjelajahi platform melalui website, Android, maupun iOS untuk mendapatkan pengalaman langsung dengan beragam instrumen trading unggulan, seperti forex, logam, indeks, dan komoditas, seluruhnya dalam lingkungan trading yang mengacu pada standar regulasi dan praktik industri.
“Invetra menempatkan diri sebagai bagian dari perkembangan ekosistem trading digital Indonesia yang semakin matang,” tutup Jufri.(knu)
Baca juga:
Foto : Ilustrasi Trading

