Parenting

Ibu Bertahan dalam Hubungan KDRT, ini Dampaknya pada Anak

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 20 Agustus 2024
Ibu Bertahan dalam Hubungan KDRT, ini Dampaknya pada Anak

KDRT memberi dampak buruk pada anak.(foto: Pexel/?rem Çevik)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - IBU yang bertahan di hubungan rumah tangga yang kerap diwarnai kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) memberikan dampak buruk bagi sang anak. Kekerasan merupakan bentuk kejahatan yang masuk ranah pidana. Hukuman pidana bahkan belum setera jika dibandingkan dengan efek traumatis yang dirasakan korbannya.

Korban kekerasan biasanya menyasar ibu atau istri bahkan suami. Kekerasan muncul karena adanya ketimpangan relasi kuasa antara suami dan istri dan sebaliknya. Kendati demikian, anak bisa terkena efek buruk kekerasan yang terjadi di rumah.

Seperti dilansir American Academy of Pediatrics, rumah dengan kondisi KDRT membuat anak mengalami masalah perkembangan dan kesehatan mental yang signifikan.



1. Meniru Perilaku Kekerasan



Anak ialah seorang pembelajar. Ia akan meniru lingkungan terdekatnya dalam berinteraksi. Pemandangan sehari-hari yang penuh kekerasa akan dianggap wajar oleh anak.

Nantinya anak bisa tumbuh menjadu individu kasar sebab meniru apa yang dilihat dan dirasakannya.

Baca juga:

8 Alasan Korban KDRT Sulit Keluar dari Hubungannya



2. Trauma emosional


KDRT yang terjadi di rumah membuat berisiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Gejalanya bisa berupa mimpi buruk dan perasaan takut yang intens.



3. Gangguan perkembangan


KDRT yang terjadi di rumah menghambat perkembangan emosional dan sosial anak. Ini bisa mencakup keterlambatan dalam perkembangan bahasa, keterampilan sosial, hingga kemampuan untuk membangun hubungan yang sehat.


4.Kesulitan menjalin hubungan



KDRT yang terjadi di rumah bisa memunculkan trust issue pada diri anak. Anak jadi sulit membangun hubungan sehat dengan orang lain di masa depan. Anak selalu bermasalah dalam menyelesaikan urusannya dengan orang lain.


5. Gangguan kesehatan mental




KDRT yang terjadi di rumah menimbulkan rasa khawatir, ketakutan, tekanan, dan beban. Anak yang tidak tahu mengolah emosi tersebut bisa mengalami gangguan kesehatan mental. Makanya banyak anak mengalami depresi dini akibat kejadian KDRT yang dialami di dalamnya.(tka)

Baca juga:

Psikolog Ungkap Dampak Buruk KDRT pada Ibu

#Parenting #KDRT #Relationship
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Lifestyle
Rumah Cerebral Palsy Dorong Pemerintah Perkuat Dukungan bagi Anak Penyandang CP
Iis R. Soelaeman mendorong dukungan pemerintah bagi anak dengan cerebral palsy melalui akses terapi, kesehatan, pendidikan inklusif, dan fasilitas aksesibel.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 26 Oktober 2026
Rumah Cerebral Palsy Dorong Pemerintah Perkuat Dukungan bagi Anak Penyandang CP
Lifestyle
Mendampingi Anak dengan CP, Rumah Cerebral Palsy Tekankan Pentingnya Support System
World Cerebral Palsy Day 2026 jadi momentum untuk memperkuat dukungan bagi anak dengan CP. Tekankan potensi anak dan pentingnya support system bagi keluarga.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 26 Oktober 2026
Mendampingi Anak dengan CP, Rumah Cerebral Palsy Tekankan Pentingnya Support System
Lifestyle
Karya Raya 2026, ketika Karya Bertumbuh, Anak Ikut Bertumbuh
Dengan membawa tema Garden of Kindness: Where Creativity Grows on You, Karya Raya menegaskan pertumbuhan bukan hanya tentang banyaknya karya yang dihasilkan.
Dwi Astarini - Kamis, 24 September 2026
Karya Raya 2026, ketika Karya Bertumbuh, Anak Ikut Bertumbuh
Lifestyle
8 Cara Keluarga Cegah Anak Terpapar Pemahaman Kekerasan dan Radikalisme
Regulasi penggunaan sosial media pada anak di Indonesia belum seketat negara maju lainnya.
Dwi Astarini - Senin, 07 September 2026
8 Cara Keluarga Cegah Anak Terpapar Pemahaman Kekerasan dan Radikalisme
Indonesia
Menteri PPPA Soroti Pola Asuh di Era Digital, Anak Lebih Nyaman Curhat ke Teman
Survei Forum Anak di Jawa Tengah terhadap lebih dari 20 ribu anak menunjukkan 80 persen lebih nyaman curhat kepada teman dibanding orang tua.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 24 Agustus 2026
Menteri PPPA Soroti Pola Asuh di Era Digital, Anak Lebih Nyaman Curhat ke Teman
Lifestyle
AIMI Ingatkan Risiko Mitos Menyusui yang tidak Berbasis Bukti
Masyarakat diharapkan lebih kritis dalam menerima informasi, terutama yang disampaikan key opinion leader (KOL) atau figur publik.
Dwi Astarini - Jumat, 31 Juli 2026
AIMI Ingatkan Risiko Mitos Menyusui yang tidak Berbasis Bukti
Indonesia
DPR Nilai Penggunaan Gawai Anak sudah Lampaui Batas, Minta Sekolah Punya Aturan Jelas
Penggunaan perangkat digital yang berlebihan dapat mengurangi interaksi sosial hingga memengaruhi kesehatan mental peserta didik.
Dwi Astarini - Rabu, 29 Juli 2026
DPR Nilai Penggunaan Gawai Anak sudah Lampaui Batas, Minta Sekolah Punya Aturan Jelas
Lifestyle
Cara Batasi Waktu Bermain Roblox Anak: Panduan Parental Control dan Blokir Jaringan
Langkah sistematis ini memastikan batas waktu bermain berjalan otomatis tanpa perlu penyitaan perangkat secara fisik
Angga Yudha Pratama - Selasa, 28 Juli 2026
Cara Batasi Waktu Bermain Roblox Anak: Panduan Parental Control dan Blokir Jaringan
Fun
S-26 Exceptional Journey Hadir di Jakarta, Ajak Orang Tua Pahami Perkembangan Otak Anak
S-26 Exceptional Journey: Journey Inside The Brain menghadirkan pengalaman edukatif imersif yang mengajak orang tua memahami perkembangan anak.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 25 Juli 2026
S-26 Exceptional Journey Hadir di Jakarta, Ajak Orang Tua Pahami Perkembangan Otak Anak
Indonesia
Kasusnya Sampai Bareskrim, Polisi Tegal Aniaya Perempuan Cirebon Sejak 2023 Akhirnya Ditangkap
Propam Polda Jateng menahan Aiptu N, oknum Polres Tegal Kota, atas dugaan penganiayaan terhadap perempuan Cirebon sejak 2023. Kasus pidana ditangani Bareskrim Polri.
Wisnu Cipto - Jumat, 03 Juli 2026
Kasusnya Sampai Bareskrim, Polisi Tegal Aniaya Perempuan Cirebon Sejak 2023 Akhirnya Ditangkap
Bagikan