Hindari Kekejaman Myanmar, Puluhan Ribu Pengungsi Rohingya Berjalan Kaki Selama Enam Hari

Luhung SaptoLuhung Sapto - Selasa, 05 September 2017
Hindari Kekejaman Myanmar, Puluhan Ribu Pengungsi Rohingya Berjalan Kaki Selama Enam Hari

Pengungsi Rohingya melewati perbatasan Bangladesh-Myanmar di Teknaf, Bangladesh, Minggu (3/9). (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Gelombang pengungsi Rohingya yang berusaha menyelamatkan diri terus terjadi. Menurut data PBB, jumlah pengungsi Rohingya yang menyeberang dari Myanmar ke Bangladesh mencapai lebih dari 35.000 kedatangan baru dalam 24 jam terakhir.

Disebutkan, hingga saat ini sudah lebih dari 123.000 warga Rohingya telah meninggalkan lokasi kekerasan di Rakhine, Myanmar, sejak 25 Agustus.

Kekerasan terbaru itu meletus sejak terjadinya serangan militan Rohingya terhadap pos polisi Burma.

Militer kemudian melancarkan serangan pembalasan yang memaksa penduduk Rohingya keluar menyelamatkan diri dari desa mereka.

Rohingya adalah etnis minoritas tanpa negara yang kebanyakan beragama Islam yang dipersekusi di Myanmar. Banyak yang telah meninggalkan wilayah Rakhine menjelaskan bahwa tentara Burma dan kelompok massa Budha menghancurkan desa-desa mereka dan menyerang dan membunuh warga sipil untuk memaksa mereka keluar.

Pihak militer mengatakan mereka sekadar menumpas militan Rohingya yang menyerang warga sipil.

Memverifikasi situasi di lapangan secara independen sangatlah sulit karena akses dibatasi, namun sejak serangan di pos polisi itu banyak keluarga yang akhirnya mengungsi ke arah ke utara menuju Bangladesh.

PBB mengatakan bahwa gelombang pengungsi baru akan membutuhkan makanan dan tempat bernaung yang melonjak secara dramatis.

Dua kamp penampungan pengungsi yang dibangun PBB untuk mereka saat ini penuh, sehingga banyak orang tidur di luar atau membangun tempat bernaung di lapangan terbuka dan sepanjang jalan, kata seorang juru bicara.

Kebanyakan orang berjalan 50-60 km selama enam hari untuk mencapai lokasi aman dan sangat membutuhkan makanan dan air, kata laporan situasi PBB.

Sementara itu berbagai suara keprihatinan muncul dari para pemimpin dunia.

"Pihak keamanan perlu segera menghentikan segala bentuk kekerasan di sana dan memberikan bantuan kemanusiaan dan bantuan pembangunan untuk jangka pendek dan panjang," kata Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi.

Menteri Retno bertemu pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, pada Senin (4/9) dan akan tiba di ibu kota Bangladesh hari ini.

Pakistan dan Malaysia juga telah angkat bicara, sementara Maladewa telah menghentikan sementara perdagangan dengan Myanmar.

Warga India, Chechnya dan bagian Kashmir yang dikuasai India juga melangsungkan unjuk rasa sementara Kyrgyzstan telah menunda pertandingan kualifikasi sepakbola Asian Cup dengan Myanmar, akibat adanya kemungkinan protes.

Hari Senin (4/9), seorang pejabat HAM senior PBB mengatakan bahwa sudah saatnya Suu Kyi mengambil tindakan melindungi Rohingya.

Suu Kyi, penerima Nobel Peace yang dikenakan tahanan rumah selama bertahun-tahun untuk aktivitas pro demokrasinya, belum berkomentar akan kekerasan yang terbaru ini.

Dia saat ini berada di bawah tekanan untuk mengutuk kampanye militer itu, namun ia juga harus menghadapi militer yang berkuasa dan warga Myanmar yang sama-sama tidak menyukai Rohingya.

Pada Selasa (5/9) ini, Perdana Menteri India Narendra Modi tiba di Myanmar untuk kunjungan resmi, namun sejauh mana dia akan membicarakan isu itu masih tidak jelas.

Bulan lalu, pemerintahnya - yang ingin mendorong hubungan ekonomi dan militer dengan Myanmar - mengumumkan rencana untuk mendeportasi 40.000 pengungsi Rohingya dari India, karena merupakan imigran ilegal.

Meski begitu, menemukan sebuah negara yang dapat menerima mereka akan sangat sulit, karena Myanmar tidak menganggap mereka sebagai warga negara, begitu juga Bangladesh, yang telah menampung ratusan ribu Rohingya. (*)

Sumber: BBC Indonesia

Baca juga berita terkait pengungsi Rohingya di: 20.000 Massa Ormas Islam Kepung Kedubes Myanmar

#Pengungsi Rohingya
Bagikan
Ditulis Oleh

Luhung Sapto

Penggemar Jones, Penjelajah, suka makan dan antimasak

Berita Terkait

Indonesia
Polri Tangkap WNI Terkait TPPO Warga Rohingya, Perluas Jaringan Hingga Turkiye
Ini bukan kali pertama HS menjadi pelaku TPPO. Berdasarkan catatan kepolisian, HS pernah terjerat kasus serupa.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 23 Januari 2026
Polri Tangkap WNI Terkait TPPO Warga Rohingya, Perluas Jaringan Hingga Turkiye
Indonesia
Nyaris 100 Pengungsi Rohingya Datangi Aceh, Ada yang Nekat Berenang ke Bibir Pantai
Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Aceh Timur hingga kini terus berkoordinasi dengan pihak terkait
Angga Yudha Pratama - Kamis, 31 Oktober 2024
Nyaris 100 Pengungsi Rohingya Datangi Aceh, Ada yang Nekat Berenang ke Bibir Pantai
Berita
[HOAKS atau FAKTA]: Jokowi Hentikan Bantuan dan Ingin Usir Pengungsi Rohingya
Sebuah video yang diunggah akun TikTok @pangeranaldi0, menampilkan Presiden Jokowi ingin mengusir pengungsi Rohingnya. Lalu, apakah informasi itu benar?
Soffi Amira - Rabu, 24 Januari 2024
[HOAKS atau FAKTA]: Jokowi Hentikan Bantuan dan Ingin Usir Pengungsi Rohingya
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Konspirasi Amerika Serikat Dibalik 70 Juta Pengungsi Rohingnya Pindah ke Indonesia
Video di Tiktok membagikan klaim tentang 70 juta pengungsi Rohingya yang akan mengungsi ke Indonesia akibat dari konspirasi Amerika Serikat.
Pradia Eggi - Kamis, 18 Januari 2024
[HOAKS atau FAKTA]: Konspirasi Amerika Serikat Dibalik 70 Juta Pengungsi Rohingnya Pindah ke Indonesia
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Pemerintah Tutup Kantor UNHCR di Indonesia
Kantor UNHCR di Jakarta harus ditutup karena memicu para pengungsi dari berbagai negara datang ke Indonesia.
Wisnu Cipto - Rabu, 17 Januari 2024
[HOAKS atau FAKTA]: Pemerintah Tutup Kantor UNHCR di Indonesia
Indonesia
Polri Turunkan Tim Usut Dugaan TPPO Pengungsi Rohingya
Badan Reserse Kriminal Polri melalui Satgas Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) menurunkan tim untuk mengusut dugaan jaringan TPPO pada arus kedatangan pengungsi Rohingya ke Indonesia.
Mula Akmal - Jumat, 22 Desember 2023
Polri Turunkan Tim Usut Dugaan TPPO Pengungsi Rohingya
Indonesia
Jokowi Tegaskan Penampungan Pengungsi Rohingya Bersifat Sementara
Pemerintah akan menampung sementara pengungsi asal Myanmar yang mendapatkan diskriminasi itu.
Zulfikar Sy - Senin, 11 Desember 2023
Jokowi Tegaskan Penampungan Pengungsi Rohingya Bersifat Sementara
Indonesia
Din Syamsuddin Dukung Pengungsi Rohingnya Dipindah ke Pulau Galang
Din Syamsuddin menyambut baik usulan Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang membuka peluang menjadikan Pulau Galang, Kota Batam, Provinsi Riau sebagai lokasi penempatan pengungsi rohingnya.
Mula Akmal - Jumat, 08 Desember 2023
Din Syamsuddin Dukung Pengungsi Rohingnya Dipindah ke Pulau Galang
Indonesia
Masyarakat Aceh Dorong Kembali Kapal Rohingya ke Laut, Pusat Harus Berperan Aktif
Pemerintah pusat perlu mengambil sikap soal gelombang kedatangan pengungsi etnis Rohingya di Aceh.
Zulfikar Sy - Sabtu, 18 November 2023
Masyarakat Aceh Dorong Kembali Kapal Rohingya ke Laut, Pusat Harus Berperan Aktif
Dunia
AS Gelontorkan Bantuan Kemanusiaan Rp 1,78 Triliun untuk Pengungsi Rohingya
Kelompok etnis di Rakhine, Myanmar tersebut bahkan banyak menempuh perjalanan laut ke negara tetangga akibat dari konflik.
Zulfikar Sy - Sabtu, 23 September 2023
AS Gelontorkan Bantuan Kemanusiaan Rp 1,78 Triliun untuk Pengungsi Rohingya
Bagikan