MerahPutih.com - Bertepatan dengan momentum Hari Diabetes Nasional yang jatuh pada 18 April, Indonesia masih menduduki peringkat kelima dunia dengan jumlah penderita diabetes terbanyak.
Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF), jumlah penderita diabetes di Tanah Air mencapai puluhan juta jiwa. Kondisi ini menjadi alarm serius bagi sistem kesehatan nasional.
Menyikapi hal tersebut, dr. Kelvin Candiago, M.M., MARS., DABRM., menyoroti perlunya evaluasi dalam tata laksana diabetes tipe 2 yang selama ini masih bertumpu pada pendekatan medicine-centric.
Baca juga:
Diabetes Kini Serang Usia Muda, Gaya Hidup Jadi Pemicu Utama
Pendekatan Konvensional Dinilai Belum Cukup
Berdasarkan pengalaman pribadi mendampingi ayahnya yang mengidap diabetes dengan komplikasi jantung serta praktik klinis menangani ribuan pasien, dr. Kelvin menilai pengendalian gula darah saja tidak cukup.
Menurutnya, tanpa perbaikan sistem tubuh dan gaya hidup, maka risiko komplikasi tetap tinggi.
"Pendekatan medicine-centric sangat penting untuk stabilisasi kondisi awal, namun secara desain belum ditujukan untuk perbaikan pola hidup jangka panjang. Dalam penanganan diabetes yang berkelanjutan, medikasi seharusnya diposisikan sebagai jembatan, bukan tujuan akhir," ujarnya.
Ia menambahkan, penanganan diabetes membutuhkan kombinasi terstruktur antara medikasi, nutrisi, dan monitoring.
Baca juga:
62 Persen ASN Pemprov DKI Obesitas, Dinkes Juga Buka Data Hipertensi, Diabetes hingga Kejiwaan
Protokol 3R: Rescue, Reverse, Remission untuk Diabetes Tipe 2
Sebagai solusi, dr. Kelvin memperkenalkan kerangka metodologis Protokol 3R dalam pengelolaan diabetes tipe 2, yang terdiri dari:
- Road to Rescue (Penyelamatan): Intervensi awal untuk menstabilkan fluktuasi gula darah ekstrem sekaligus menjadi fondasi pemulihan.
- Road to Reverse (Pembalikan): Perbaikan kondisi metabolik dengan target menurunkan HbA1c ke batas normal melalui perubahan gaya hidup dan intervensi klinis terukur.
- Road to Remission (Remisi): Kondisi ketika pasien mampu mempertahankan HbA1c ≤6,5% secara berkelanjutan, dengan atau tanpa obat.
Protokol tersebut telah diimplementasikan melalui ekosistem layanan terintegrasi mGanik. Berdasarkan data internal sejak 2023, sekitar 500 pasien telah mencapai tahap Reverse.
Lalu, sekitar 7 hingga 10 persen di antaranya berhasil memenuhi kriteria klinis untuk masuk fase remisi diabetes.
Baca juga:
Komplikasi Diabetes, Ray Sahetapy Pernah Sebulan Masuk RSPAD Sebelum Tutup Usia
dr. Kelvin menambahkan, momentum Hari Diabetes Nasional menjadi pengingat bahwa remisi diabetes bukan hasil instan, melainkan proses yang terukur.
"Remisi bukanlah hasil instan yang bisa dipaksakan. Ini adalah peluang nyata dan terukur yang dapat dicapai apabila sistem dijalankan dengan tepat dan konsisten oleh pasien. Fokus kami di mGanik adalah memberikan harapan yang realistis dan kesempatan kedua bagi penyandang diabetes untuk mendapatkan kembali kualitas hidupnya," tutupnya. (*)