MerahPutih.com - Komisi XI DPR RI berencana memanggil Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk membahas dampak lonjakan harga minyak dunia terhadap perekonomian nasional. Kenaikan harga energi global tersebut dipicu meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, mengatakan rapat bersama Menteri Keuangan akan segera dijadwalkan. Namun, hingga kini pihaknya masih mempertimbangkan waktu yang tepat untuk menggelar pertemuan tersebut.
“Kita akan agendakan itu (panggil Purbaya), tapi kita lihat ini kan suasananya masih dalam situasi ketidakstabilan di awal,” kata Misbakhun di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (10/3).
Baca juga:
Pemerintah Janji Tidak Naikkan Harga BBM Bersubsidi Saat Harga Minyak Dunia Melonjak
Menurut Misbakhun, situasi pasar energi global saat ini masih sangat dinamis. Pergerakan harga minyak dunia dinilai masih menunjukkan volatilitas tinggi sehingga belum mencerminkan kondisi yang stabil.
Politikus Partai Golkar itu menyoroti fluktuasi harga minyak yang terjadi secara ekstrem dalam beberapa hari terakhir. Ia mencontohkan harga minyak jenis Brent sempat melonjak hingga menyentuh level tertinggi sebelum akhirnya kembali mengalami penurunan.
Data perdagangan menunjukkan harga minyak Brent sempat terkoreksi sekitar 20 dolar AS dari level tertingginya. Penurunan tersebut menjadi salah satu yang terbesar dari posisi tertinggi intraday menuju harga penutupan.
Kontrak minyak Brent untuk pengiriman Mei 2026 bahkan sempat mencapai 119,50 dolar AS per barel sebelum akhirnya ditutup naik 6,8 persen ke level 98,96 dolar AS per barel pada perdagangan Senin.
“Volatilitasnya masih tinggi, up and down dalam varian yang sangat ekstrem,” ujar Misbakhun.
Baca juga:
Prancis Kerahkan Kapal Induk Charles de Gaulle ke Selat Hormuz, Amankan Jalur Minyak Dunia
Ia menilai pemerintah perlu menyiapkan berbagai skenario kebijakan terhadap postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) guna mengantisipasi pergerakan harga minyak yang tidak menentu.
Selain itu, pemerintah juga diminta terus memantau perkembangan konflik di Timur Tengah secara cermat. Menurutnya, dinamika geopolitik di kawasan tersebut memiliki pengaruh langsung terhadap harga energi global.
Misbakhun menekankan bahwa respons pemerintah harus dilakukan secara hati-hati dan tidak tergesa-gesa, mengingat situasi geopolitik masih berkembang.
“Respons kita harus terukur. Wait and see, jangan kita langsung setiap gerakan diberikan reaksi,” kata dia.
Ia berharap pemerintah dapat terus mencermati perkembangan terbaru konflik di kawasan tersebut, termasuk kemungkinan berlanjutnya serangan militer yang berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia dan berdampak pada stabilitas ekonomi global. (Pon)