Flu Burung Mewabah, Telur Langka di AS, belum Ada Tanda Mereda
harga telur di AS melonjak. (Foto: Unsplash/Jakub Kapusnak)
MERAHPUTIH.COM - WABAH flu burung masih merebak di AS. Sebagai imbasnya, telur menjadi langka di ‘Negeri Paman Sam’ itu. Ekonom ahli menyebut kelangkaan ini belum akan teratasi dalam waktu dekat.
Masalah kelangkaan telur telah melanda beberapa jaringan toko kelontong di tengah wabah flu burung terbesar dalam 10 tahun. Flu burung mendorong para petani menyembelih jutaan ayam. Tindakan tersebut telah menyebabkan harga telur di AS naik dua kali lipat sejak 2023. Departemen Pertanian AS memperkirakan harga telur akan naik 20 persen tahun ini.
Ekonom senior di Pusat Penelitian Ekonomi dan Kebijakan (CEPR) Dean Baker, seperti dilansir ANTARA, mengatakan harga telur telah menjadi sangat tinggi. Ia menyebut belum mengetahui apakah harganya akan melonjak lebih tinggi lagi.
Secara rata-rata, harga selusin telur besar kelas A mencapai USD 4,15 (hampir Rp 68.000) pada Desember 2024, naik 14 persen dari USD 3,65 (Rp 60.000) pada November. Angka tersebut juga menandai kenaikan sebesar 60 persen lebih dari harga USD 2,51 setahun lalu. Demikian dilaporkan CBS News.
Baca juga:
Kasus Flu Burung Terindentifikasi, 100 Ribu Bebek di AS Dimusnahkan
Pada Jumat (7/2), data dari Expana mengungkapkan harga rata-rata grosir untuk telur besar bercangkang putih mencapai USD 8 dolar per lusin, mengalahkan rekor sebelumnya dengan selisih yang besar, menurut , yang melacak harga komoditas pertanian.
"Kita tidak bisa langsung memperbaiki (situasi) keesokan harinya. Ini merupakan proses yang memakan waktu enam hingga sembilan bulan. Proses ini menyebabkan kelangkaan di pasar tertentu yang bersifat berkala dan terlokalisasi," kata Presiden sekaligus CEO American Egg Board Emily Metz, seperti dikutip CNN pada Januari.
Pengamat politik menilai, jika masalah ini berubah menjadi masalah politik, pemerintahan saat ini dapat dirugikan, terlebih saat inflasi untuk makanan dan tempat tinggal sedang meroket. Hal tersebut terjadi karena pemerintahan saat ini berjanji akan menurunkan inflasi yang terjadi pada pemerintahan sebelumnya.
Harga telur yang tinggi sangatlah memengaruhi banyak orang dan karena itu merupakan biaya yang sangat mencolok. “Makanan dan energi merupakan bagian besar dari kehidupan sehari-hari dan jika harga naik di salah satu area tersebut, itu akan mudah dirasakan," kata senior fellow di Brookings Institution Darrell West.
“Kelangkaan telur menguras kantong masyarakat, tetapi tidak cukup untuk memberi dampak yang signifikan terhadap perekonomian,” tutup Baker.(*)
Baca juga:
Kasus Pertama Babi di AS Terinfeksi Flu Burung H5N1 Langsung Disuntik Mati
Bagikan
Berita Terkait
Setelah Selat Hormuz, Militer AS Tingkatkan Kekuatan di Teluk Persia
Iran Siap Lawan Amerika, Uni Eropa Tambah Sanksi ke Pejabat Teheran
Amerika Serikat dan Iran di Ambang Perang, DPR RI Minta Pemerintah Indonesia Siapkan Evakuasi WNI
Ketegangan Dengan AS Meningkat, Iran Klaim Kendalikan Penuh Selat Hormuz
MPR RI Khawatir Aliansi Perdamaian Bentukan Trump Disabotase Israel untuk Rusak Palestina
AS Mengancam dengan Kapal Induk, Iran tak Mau Kalah Peringatkan Aksi Balasan jika 'Negeri Paman Sam' Menyerang
Kapal Induk AS USS Abraham Lincoln Standby di Timur Tengah, Siapkan Serangan ke Iran jika Diminta
Kapal Induk AS Tiba di Timur Tengah, Dikirim untuk Berjaga-Jaga
[HOAKS atau FAKTA]: Pengakuan Kezia Syifa Jadi Tentara AS karena Dapat Gaji Besar dan Merasa Dipersulit di Indonesa
7 Tewas dan 800 Ribu Rumah tanpa Listrik saat Badai Musim Dingin Landa Amerika Serikat