Eco Iftar, Menjaga Kelestarian Lingkungan dengan Pantang Plastik

Ikhsan Aryo DigdoIkhsan Aryo Digdo - Selasa, 05 Juni 2018
Eco Iftar, Menjaga Kelestarian Lingkungan dengan Pantang Plastik

Suasana buka puasa bersama di Masjid Raya Pondok Indah dengan Konsep Eco Iftar (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

PLASTIK pasti tidak asing lagi di kehidupan kamu. Dari kantong plastik, botol kemasan plastik, sampai sedotan plastik. Semua benda tersebut pasti pernah kamu gunakan. Ya, plastik memang memudahkan. Sekali pakai bisa langsung dibuang.

Padahal, tanpa kamu sadari membuang sampah plastik seperti menumpuk sampah yang tidak pernah hilang. Benar sekali, plastik itu sulit diuraikan. Sampai saat ini belum ada alat yang bisa menguraikan sampah plastik. Solusi termudah yang bisa dilakukan adalah mengurangi pemakaiannya.

Nah, sebuah organisasi kampanye global yang mempromosikan pelestarian lingkungan hidup tergerak melihat fenomena ini. Greenpeace mencoba memberikan penyuluhan kepada masyarakat melalui kampanye bertajuk #PantangPlastik.

Greenpeace mengajak beberapa masjid di Indonesia untuk mengadakan acara buka puasa bersama tanpa plastik. Sebab, menurut Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi, di bulan Ramadan ini sampah plastik meningkat.

Sampah plastik banyak berasal dari kegiatan buka puasa bersama. Artinya, masyarakat menjadi lebih konsumtif di bulan ramadan ini. Karena itu melalui program Eco Iftar, acara buka puasa bersama di Masjid Raya Pondok Indah, Senin (4/6) menggunakan piring dan gelas beling. "Kita memang approach beberapa masjid untuk buka puasa tanpa plastik," papar pria yang akrab disapa Atha itu.

Terlepas dari hal ini, menurut Atha, penggunaan plastik juga dapat berdampak kepada mahluk hidup lain. Seperti ikan di laut, misalnya. Atha mengatakan sampah yang terangkut seperti di Jakarta ini tidak sampai 100 persen. Sehingga banyak sampah yang akhirnya terbuang ke saluran air.

Plastik tidak mudah diurai. (Foto: Pixabay/Ben_Kerckx)

Bahkan ada pula warga yang sengaja membuang sampah plastik ke saluran air. Akhirnya, 'tujuan' akhir sampah plastik dalam saluran air ialah lautan. "Jadi sampah ini memiliki potensi berakhir di laut," tambah Atha.

Plastik yang berada di lautan pun tidak menghilang begitu saja, tapi hancur menjadi sebuah partikel yang sangat kecil. Partikel kecil ini tidak kasat mata dan bisa termakan oleh ikan yang ada di laut. "Plastik tidak bisa diurai, apalagi dicerna mahluk hidup," tegas pria berkacamata itu.

Burung-burung pun tidak jarang menjadikan ikan sebagai makanan mereka. Akhirnya, ikan juga termakan oleh burung. Akibatnya burung juga terjerat dengn 'racun' plastik ini. Lebih menakutkannya lagi ikan-ikan tersebut tentunya akan masuk ke dalam rantai makanan manusia.

Berangkat dari fenomena ini Atha mengajak masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik. Bukan cuma kantong plastik, melainkan termasuk sedotan dan botol plastik. Atha menegaskan agar masyarakat mulai menggunakan tumblr sebagai pengganti botol plastik.

Di pasaran memang sudah banyak beredar produk-produk botol kemasan plastik. Tapi, menurut Atha perilaku harus diubah terlebih dulu dari para konsumen. Misalnya membiasakan membawa bekal air dengan tumblr. Intinya jangan selalu bergantung dengan botol plastik yang praktis, sekali pakai langsung buang.

Selain itu, penggunaan sedotan plastik sebaiknya juga harus dikurangi. Sedotan plastik termasuk salah satu jenis plastik yang banyak digunakan di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Caranya adalah menggantinya dengan sedotan bambu.

Walaupun penggunaannya juga tidak bisa selamanya. Maksimal kata Atha setiap enam bulan sekali sedotan bambu harus dibuang. Sebab, meskipun dicuci, sedotan bambu bisa ditumbuhi lumut di dalam lubangnya karena lembab. "Kalau sedotan bambu lebih ramah lingkungan," imbuhnya. Selain sedotan bambu, ada pula sedotan stainless sebagai alternatif sedotan plastik.

Dalam melakukan kampanye tersebut, Greenpeace juga bekerjasama dengan Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (Lembaga PLH & SDA MUI). Ketua Lembaga PLH & SDA MUI Dr. Hayu S. Prabowo mendukung penuh konsep Eco Iftar yang dicetuskan oleh Greenpeace.

Kata Dr. Hayu, masjid bisa menjadi tempat yang tepat untuk menerapkan konsep ramah lingkungan tersebut. Sebab sebagai tempat ibadah, masjid harus mencontohkan hal baik kepada para jamaah. Jadi dengan sendirinya, para jamaah yang berdatangan ke masjid akan mulai mengenal pentingnya pengurangan penggunaan plastik.
"Karena secara aksi jamaahnya kan akan tahu," tutur Dr. Hayu.

Namun, ada banyak tantangan untuk menerapkan konsep tersebut penggantian piring dan gelas plastik dengan beling tentunya meningkatkan risiko pecah. Saat berbuka puasa bersama kondisi masjid akan sangat ramai.

Seperti di Masjid Raya Pondok Indah yang mengadakan buka puasa bersama di ruang aula masjid. Aula tersebut langsung dilapisi dengan lantai, tidak diredam dengan karpet. Sehingga kalau jatuh tentu akan langsung pecah.

Dr. Hayu S. Prabowo. (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Selain itu, pihak masjid juga harus melakukan perawatan terhadap wadah-wadah makanan dan minuman tersebut. Tidak seperti sebelumnya yang lebih praktis, plastik bersifat sekali pakai. "Menjaga fasilitas masjid juga harus berubah, karena ada proses mencuci dan menyimpan piring," imbuhnya.

Untuk menyadarkan masyarakat menjaga pelestarian lingkungan hidup, MUI juga telah menetapkan fatwa terkait hal tersebut. Fatwa nomor 47 tahun 2014 tentang pengololaan sampah untuk mencegah kerusakan lingkungan. "Setiap muslim wajib menjaga kebersihan lingkungan," tegasnya. Tentunya, menjaga kebersihan lingkungan juga berlaku terhadap non muslim.

Bersamaan dengan penerapan konsep Eco Iftar, MUI dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) juga menerapkan konsep Eco Masjid dengan rencana penerapan di 1.000 masjid di Indonesia. Eco masjid artinya masjid yang ramah lingkungan.

Menurut Dr. Hayu, Masjid menjadi tempat yang lebih sering mengeluarkan air (wudu). Karenanya, Eco masjid memiliki beberapa program untuk mengatasi hal tersebut. Misalnya membuat sumur resapan, pemanen air hujan, masjid mandiri energi, dan keran hemat air.

Salah satu program yang paling menarik adalah keran hemat air. Keran akan dipasangkan orifice dari sandal karet dan sedotan. Caranya dengan membuat bulatan dari sandal karet. Dengan membuat lubang pada sendal karet, dimasukkan sedotan baru. Setelahnya dipasangkan pada keran. Dengan demikian, air yang keluar dari keran akan sangat kecil dan menghemat air hingga 50 persen.

Menerapkan konsep ini jaga menjadi pekerjaan panjang. MUI bersama DMI memiliki target pada tahun 2020 penerapan ECO Masjid pada 1000 masjid akan tercepai. "Kegitan Eco Iftar bersama Greenpeace kali ini merupakan salah satu upaya ke arah sana," tukasnya. (Ikh)

#Sampah #Sampah Plastik #Masjid
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Tok! 46 Negara Pilih Menag Nasaruddin Umar Presiden Pertama Majelis Imam Masjid Dunia
Menag Nasaruddin Umar resmi terpilih jadi Presiden Pertama IAMI di IGIC 2026. Jakarta ditunjuk sebagai sekretariat permanen Majelis Imam Masjid Dunia!
Wisnu Cipto - Senin, 28 September 2026
Tok! 46 Negara Pilih Menag Nasaruddin Umar Presiden Pertama Majelis Imam Masjid Dunia
Indonesia
Pemprov DKI Targetkan 9.000 Sekolah Jalankan Program Pengelolaan Sampah Elektronik
SMA Negeri 68 Jakarta Pusat menjadi titik awal pelaksanaan program E-Waste School Movement.
Dwi Astarini - Selasa, 22 September 2026
Pemprov DKI Targetkan 9.000 Sekolah Jalankan Program Pengelolaan Sampah Elektronik
Indonesia
Aksi Nyata JHL Group Sapu Bersih Sampah Sungai Cisadane Jelang World Cleanup Day 2026
Menyambut World Cleanup Day 2026, JHL Group dan Banksasuci menggelar aksi bersih-bersih Sungai Cisadane lewat program Impactful Ecosystem. Simak aksi selengkapnya!
Wisnu Cipto - Sabtu, 19 September 2026
Aksi Nyata JHL Group Sapu Bersih Sampah Sungai Cisadane Jelang World Cleanup Day 2026
Dunia
Penembakan di Masjid Pakistan, 16 Orang Tewas
Baku tembak masih berlangsung antara para penyerang dan pasukan keamanan di lokasi kejadian yang berada di distrik Kohat, Khyber Pakhtunkhwa.
Dwi Astarini - Jumat, 18 September 2026
Penembakan di Masjid Pakistan, 16 Orang Tewas
Indonesia
Area TPAS Galuda Bogor Terbakar Meluas, Asap Masih Keluar Dari Gundukan Sampah Puluhan Tahun
Petugas membongkar setiap gundukan menggunakan alat berat, kemudian menyemprot dan mendinginkannya sebelum menutup kembali bagian tersebut.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 11 September 2026
Area TPAS Galuda Bogor Terbakar Meluas, Asap Masih Keluar Dari Gundukan Sampah Puluhan Tahun
Indonesia
Jakarta Hasilkan 9.000 Ton Sampah Sehari, DPRD Buka Opsi Buangan Hotel hingga Restoran Dikelola di Luar
Wilayah sekitar Jakarta seperti Tangerang dan Bekasi dapat menjadi salah satu opsi lokasi pengelolaan sampah.
Dwi Astarini - Selasa, 01 September 2026
Jakarta Hasilkan 9.000 Ton Sampah Sehari, DPRD Buka Opsi Buangan Hotel hingga Restoran Dikelola di Luar
Indonesia
Pramono Anung Ungkap Jakarta Hasilkan 9.000 Ton Sampah per Hari, Gerakan Pilah Mulai Berdampak
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut Jakarta menghasilkan lebih dari 9.000 ton sampah per hari. Gerakan pilah sampah naik menjadi 23,14 persen.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 01 September 2026
Pramono Anung Ungkap Jakarta Hasilkan 9.000 Ton Sampah per Hari, Gerakan Pilah Mulai Berdampak
Indonesia
Pemkot Solo Dapat Hibab Rp 107 Miliar Buat Tangani Sampah Dari Hulu Sampai Hilir
Program ini untuk perubahan perilaku dan fokus penanganan sampah dari sumber sampah serta perbaikan tata kelola sampah terintegrasi.
Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 30 Agustus 2026
Pemkot Solo Dapat Hibab Rp 107 Miliar Buat Tangani Sampah Dari Hulu Sampai Hilir
Indonesia
Enam Perusahaan Penyedia Jasa Kebersihan Disanksi Denda Rp 10 Juta akibat tak Sesuai Izin
. Setiap pihak yang menghasilkan, mengangkut, maupun mengelola sampah harus dapat mempertanggungjawabkan alur penanganannya.
Dwi Astarini - Jumat, 28 Agustus 2026
Enam Perusahaan Penyedia Jasa Kebersihan Disanksi Denda Rp 10 Juta akibat tak Sesuai Izin
Indonesia
PSI Ngaku Heran, masih Banyak TPS Ilegal Besar di Jakarta
Seharusnya pemda sudah menertibkan TPS ilegal jauh-jauh hari.
Dwi Astarini - Kamis, 13 Agustus 2026
PSI Ngaku Heran, masih Banyak TPS Ilegal Besar di Jakarta
Bagikan