MerahPutih.com - Laju kenaikan permukaan laut dalam satu dekade terakhir semakin mengkhawatirkan. Laporan World Ocean Assessment III (WOA III) yang dipimpin PBB menegaskan tekanan terhadap samudra bersifat kumulatif, mulai dari polusi, eksploitasi industri perikanan, hingga perubahan iklim.
“Situasinya tidak bisa lagi dianggap normal. Kita tidak bisa terus memperlakukan laut sebagai sumber daya tak terbatas,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres, dikutip dari kantor berita Anadolu, Kamis (11/6).
Baca juga:
Perubahan Iklim makin Nyata, Kenaikan Permukaan Laut Ancam 1,5 Juta Warga Australia pada 2050
Guterres menekankan dunia harus membangun hubungan baru dengan laut. Untuk itu, PBB menyerukan kolaborasi global yang berbasis sains dan hukum internasional.
Dibingkai oleh hukum internasional, dan dibangun atas dasar tanggung jawab bersama di seluruh negara, sektor, dan generasi,
Sekjen PBB Antonio Guterres
Permukaan Laut Naik 2 Kali Lipat, Suhu Makin Panas
WOA III mencatat laju kenaikan permukaan laut meningkat signifikan, dari rata-rata 2 milimeter per tahun sebelum 2015, melonjak menjadi 4,3 milimeter per tahun pada 2023, atau naik dua kali lipat lebih.
Bahkan, sekitar 16 persen dari total peningkatan kandungan panas laut sejak 1955 terjadi hanya dalam kurun waktu 2018–2023. Menurut para ahli, tren ini menunjukkan percepatan yang berbahaya.
Baca juga:
Banjir Rob Menghantui Pesisir Jakarta, Warga Diminta Waspadai Pergerakan Cepat Air Laut
Penelitian WOA III melibatkan lebih dari 650 ahli dari puluhan negara yang menilai kondisi laut dunia periode 2021–2025. Hasilnya jelas: tanpa tindakan kolektif, samudra akan kehilangan kapasitasnya sebagai penyangga kehidupan.
Kenaikan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan ancaman nyata bagi jutaan penduduk pesisir dunia,
tim peneliti WOA III
Ekosistem Rusak, Banjir Rob, Hingga Krisis Pangan
Riset WOA III juga menyoroti industri perikanan skala besar memperburuk kondisi, sementara polusi plastik dan limbah industri menambah beban ekosistem. Dilansir Antara, imbasnya tidak hanya hilangnya keanekaragaman hayati, tetapi tekanan terhadap ekosistem laut juga berdampak pada ekonomi dan sosial.
Baca juga:
'Laut Kidul' Jadi Curahan Rindu dan Kehilangan dari Denny Caknan dan Hendra Kumbara
Tim peneliti menambahkan langkah mitigasi harus segera dilakukan untuk mencegah dampak yang lebih mengerikan di masa depan. Laporan terbaru WOA ini menjadi peringatan keras waktu untuk bertindak semakin sempit.
Jika tren ini berlanjut, jutaan orang di wilayah pesisir akan menghadapi banjir rob, hilangnya lahan, dan krisis pangan akibat rusaknya ekosistem laut. (*)