DPR Minta Pemerintah Susun Peta Jalan Ekosistem Kendaraan Listrik Nasional

Dwi AstariniDwi Astarini - Kamis, 10 September 2026
DPR Minta Pemerintah Susun Peta Jalan Ekosistem Kendaraan Listrik Nasional

DPR minta pemerintah jangan kecolongan lagi soal WNI gabung militer asing. Foto: MerahPutih/Didik Setiawan

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - ANGGOTA Komisi VII DPR RI Mohamad Toha meminta pemerintah memastikan pembangunan ekosistem kendaraan listrik nasional, baik melalui program Mobil Nasional (Mobnas) maupun Motor Listrik Nasional (Molinas), dilakukan secara komprehensif dari hulu hingga hilir.


Menurut Toha, pembangunan industri kendaraan listrik tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan produksi dan penjualan kendaraan. Pemerintah harus memiliki peta jalan atau roadmap yang mengatur seluruh rantai ekosistem, mulai dari penyediaan bahan baku, teknologi, industri komponen, sumber daya manusia, produksi, distribusi, pemasaran, layanan purna jual, hingga pengelolaan kendaraan dan baterai ketika sudah tidak digunakan.


"Kalau kita bicara ekosistem, sejak awal kita harus melihatnya secara menyeluruh. Ekosistem itu tidak hanya berbicara dari tengah kemudian menyebar, tetapi harus mencakup seluruh wilayah dan seluruh rantai proses, dari hulu sampai hilir," ujar Toha dalam RDP Panja tentang Pengembangan Ekosistem & Daya Saing Industri Kendaraan Listrik, Rabu (9/9).


Ia mempertanyakan apakah pemerintah saat ini telah memiliki roadmap kebijakan yang benar-benar terintegrasi untuk membangun ekosistem kendaraan listrik nasional.


Menurutnya, dari sisi hulu masih terdapat banyak aspek yang harus dipastikan, di antaranya kemampuan industri dalam negeri memproduksi rangka dan komponen kendaraan, ketersediaan bahan baku, tingkat ketergantungan terhadap impor, kesiapan tenaga kerja, penguasaan teknologi, hingga kapasitas industri nasional.

Baca juga:

Insentif EV Bakal Dikaitkan Dengan Program Pengembangan Motor dan Mobil Listrik Nasional




Toha menilai Kementerian Perindustrian memiliki posisi yang sangat strategis dalam pembangunan ekosistem kendaraan listrik. Karena itu, peran kementerian tersebut tidak cukup hanya disebut sebagai salah satu pihak yang terlibat, tetapi harus memiliki fungsi regulator yang kuat dalam mengatur keseluruhan ekosistem industri kendaraan listrik.


Toha juga meminta pemerintah memperjelas target utama program Mobnas dan Molinas. Ia mempertanyakan apakah program tersebut hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi dan penjualan kendaraan atau memiliki tujuan industrialisasi yang lebih luas. Menurutnya, keberhasilan ekosistem kendaraan listrik tidak dapat diukur hanya dari berapa banyak kendaraan yang diproduksi dan terjual.


"Kalau kita bicara ekosistem, yang kita lihat bukan hanya produksi. Ketika kendaraan sudah diproduksi, kita harus melihat kesiapan di sisi hilir: pemasaran, distribusi, layanan purna jual, pemeliharaan, ketersediaan suku cadang, sampai dengan bagaimana kendaraan tersebut diperlakukan ketika sudah tidak layak digunakan," jelasnya.


Aspek pengelolaan baterai bekas, kata Toha, juga harus menjadi bagian dari kebijakan sejak awal. Pemerintah perlu menyiapkan sistem pengumpulan, pengolahan, pemanfaatan kembali, hingga daur ulang baterai kendaraan listrik.


"Misalnya setelah lima atau sepuluh tahun kendaraan dan baterainya sudah tidak lagi layak digunakan, bagaimana kebijakan pemerintah terkait daur ulangnya? Apakah baterai dan komponen kendaraan dapat diproses kembali menjadi bahan baku? Ke mana limbahnya dibawa? Siapa yang bertanggung jawab? Semua itu harus sudah dipikirkan sejak awal," ujarnya.


Toha menegaskan bahwa ekosistem kendaraan listrik nasional harus dibangun secara utuh. Pemerintah jangan sampai hanya menyiapkan kemampuan produksi kendaraan, tetapi belum memiliki kesiapan untuk menangani persoalan yang muncul setelah kendaraan digunakan masyarakat.


Toha meminta pemerintah melihat program Mobnas dan Molinas dalam perspektif mobilitas masyarakat dan pembangunan ekonomi secara keseluruhan.


Menurutnya, peningkatan produksi kendaraan bermotor harus diikuti dengan pengembangan infrastruktur jalan dan sistem transportasi yang memadai. Jika tidak, peningkatan jumlah kendaraan justru berpotensi memperbesar persoalan kemacetan.


Ia meminta pemerintah merencanakan secara terukur tujuan pembangunan Mobnas dan Molinas. Apakah program tersebut diarahkan untuk mempercepat industrialisasi, menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri nasional, mengurangi ketergantungan terhadap impor, meningkatkan penguasaan teknologi, atau sekadar meningkatkan jumlah kendaraan yang terjual.(pon)





Baca juga:

Mau Mudik Pakai Mobil Listrik? Perhatikan 5 Hal Penting Ini Agar Tak Mogok di Jalan







#Mobil Listrik #Motor Listrik #DPR RI
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Komisi III DPR Sebut RUU Perampasan Aset Berpotensi Disahkan sebelum 15 Desember
Salah satu langkah yang ditempuh yakni memajukan jadwal rapat dengar pendapat umum (RDPU) untuk menyerap masukan dari masyarakat.
Dwi Astarini - Senin, 26 Oktober 2026
Komisi III DPR Sebut RUU Perampasan Aset Berpotensi Disahkan sebelum 15 Desember
Fun
Chery Bidik Pasar Roda Dua, Siapkan Motor Listrik dan Cruiser Berteknologi AI
Chery terdaftar di dokumen MIIT China membawa motor listrik ekonomis bergaya Yamaha Vino, membuka jalan menuju ekspansi motor listrik EREV.
Yusuf Abdillah - Rabu, 21 Oktober 2026
Chery Bidik Pasar Roda Dua, Siapkan Motor Listrik dan Cruiser Berteknologi AI
Indonesia
Demo Jakarta 20 Oktober 2026, ini Daftar Jalan Alternatif dan Titik Aksi
Demo Jakarta 20 Oktober 2026 akan dimulai pukul 10.00 WIB. Ada sejumlah jalan alternatif yang bisa dilalui.
Soffi Amira - Selasa, 20 Oktober 2026
Demo Jakarta 20 Oktober 2026, ini Daftar Jalan Alternatif dan Titik Aksi
Indonesia
Karhutla Berbulan-bulan, DPR Desak Pemerintah Pertimbangkan Bantuan Singapura
Penerimaan bantuan luar negeri bukan berarti Indonesia tidak memiliki kemampuan.
Yusuf Abdillah - Sabtu, 17 Oktober 2026
Karhutla Berbulan-bulan, DPR Desak Pemerintah Pertimbangkan Bantuan Singapura
Fun
Aion UT Cross Tampil Lebih Tangguh, Ini Spesifikasi Mobil Listrik Terbaru GAC
GAC memperkenalkan Aion UT Cross, hatchback listrik dengan tampilan lebih tangguh.
Yusuf Abdillah - Jumat, 16 Oktober 2026
Aion UT Cross Tampil Lebih Tangguh, Ini Spesifikasi Mobil Listrik Terbaru GAC
Lifestyle
Revolusi BYD Flash Charging Hadir di Indonesia, Isi Daya EV Kini Sekilat Isi Bensin di SPBU
Penasaran dengan teknologi Flash Charging BYD? Pengisian daya mobil listrik kini cuma butuh 9 menit buat penuh berkat Blade Battery generasi kedua. Cek selengkapnya!
Angga Yudha Pratama - Jumat, 16 Oktober 2026
Revolusi BYD Flash Charging Hadir di Indonesia, Isi Daya EV Kini Sekilat Isi Bensin di SPBU
Fun
Danza D9 Terbaru Punya Kursi Pijat 10 Titik dan Flash Charging 9 Menit, Berapa Harganya?
BYD resmi meluncurkan Danza New D9 di Indonesia. Apa saja fitur unggulannya?
Yusuf Abdillah - Kamis, 15 Oktober 2026
Danza D9 Terbaru Punya Kursi Pijat 10 Titik dan Flash Charging 9 Menit, Berapa Harganya?
Indonesia
Warga Dikepung Asap Karhutla, DPR Ingatkan Pejabat jangan Asal Bicara
Penanganan bencana tidak cukup hanya mengandalkan koordinasi dan pernyataan resmi.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
Warga Dikepung Asap Karhutla, DPR Ingatkan Pejabat jangan Asal Bicara
Fun
BYD Hadirkan Flash Charging di Indonesia, Ngecas Mobil Listrik 10-97 Persen Cuma 9 Menit
BYD menghadirkan teknologi pengisian daya cepat Flash Charging yang diklaim mampu memangkas waktu pengisian baterai mobil.
Yusuf Abdillah - Rabu, 14 Oktober 2026
BYD Hadirkan Flash Charging di Indonesia, Ngecas Mobil Listrik 10-97 Persen Cuma 9 Menit
Fun
BYD Racco Segera Dijual di Indonesia? Ini Spesifikasi Lengkapnya
BYD tengah mengkaji peluang memasarkan mobil listrik mungil Racco di Indonesia.
Yusuf Abdillah - Rabu, 14 Oktober 2026
BYD Racco Segera Dijual di Indonesia? Ini Spesifikasi Lengkapnya
Bagikan