Desa Shenshayba Bazaar, Desa Satu Ginjal
Ginjal menjadi jalan keluar dari kesulitan ekonomi di Afghanistan. (Foto: Pixabay/rikirisnandar)
MUNGKIN kamu pernah mendengar 'bercandaan' 'Mesti jual ginjal dulu kayanya kalau mau beli Ferrari'. Rupanya, 'bercandaan' tersebut ada di kehidupan nyata.
Desa Shenshayba Bazaar di Provinsi Herat, Afghanistan dikenal sebagai 'Desa Satu Ginjal'. Karena banyak penduduknya yang menjual salah satu ginjal mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Baca Juga:
Dilansir dari laman odditycentral, Afghanistan tidak terlalu baik secara ekonomi. Situasi dan kondisi dalam negeri menyebabkan ekonomi negara tersebut hancur. Banyak orang yang berjuang keras untuk bisa memberikan makan keluarganya.
Pada sejumlah kasus, keadaan menjadi sangat buruk Kemudian mendorong banyak orang memilih jalan pintas untuk menjual salah satu ginjalnya, demi membayar hutang dan membeli makanan. Warga desa itu menjual salah satu ginjal mereka di pasar gelap. Karena banyaknya penduduk yang menjual ginjalnya, maka desa itu kemudian berjuluk 'Desa Satu Ginjal'.
Menjual atau membeli organ tubuh manusia merupakan tindakan ilegal bagi sebagian besar negara di dunia. Sayangnya di Afghanistan aturan itu kemudian dilipat tak diperhatikan. Selama ada persetujuan dari pendonor dan dokter yang melakukan tindakan operasi, maka dianggap sah saja.
Ketika ginjal sudah diambil tidak ada yang pernah tahu kemana perginya. Dokter yang melakukan tindak operasi pun tidak pernah mencari tahu. Mereka mengatakan bahwa itu bukan tugas mereka untuk mencari tahu.
Baca Juga:
Seorang Wanita Menyumbangkan Ginjal untuk Suaminya Sebagai Kado Valentine
Tak ada angka yang pasti jumlah ginjal yang sudah dijual dari Afghanistan. Hanya saja catatan pembedahan menunjukan bahwa ada ratusan operasi pengangkatan ginjal sudah dilakukan di Provinsi Herat dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah itu menjadi bertambah jika ekonomi mengalami penurunan.
Salah satu perempuan yang menjual ginjalnya bernama Aziza mengaku, bahwa dia menjualnya karena terlilit hutang. "Saya menjual ginjal saya seharga USD2.900 (sekitar Rp41 juta). Saya harus melakukannya karena suami sudah tidak bekerja, kami punya hutang," jelas Aziza.
Aziza juga menjelaskan, bahwa anak-anakyna berkeliaran di jalanan meminta-minta. Karena itu, bila dia tidak menjual ginjalnya, Aziza terpaksa menjual putrinya yang berusia satu tahun.
Meskipun menjual ginjal tampak ekstrem bagi banyak orang dan melanggar hukum di sejumlah negara. Namun situasi yang buruk membuat banyak orang terpaksa melakukannya. Lebih dari 24 juta orang atau 59 persen dari populasi, berisiko kelaparan, dan setengah juta orang kehilangan pekerjaan di negara itu. (Ryn)
Baca Juga:
Bagikan
Berita Terkait
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya