Cegah Anak Tumbuh dengan Sifat Kekerasan

Febrian AdiFebrian Adi - Senin, 27 Februari 2023
Cegah Anak Tumbuh dengan Sifat Kekerasan

Pola asuh didik yang salah bisa membuat anak trauma. (Unsplash/Kelly)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

APAPUN kondisinya sangat diharamkan menggunakan kekerasan, entah untuk sekadar memberi pelajaran atau pun membimbing si buah hati untuk tumbuh. Mendidik anak dengan kekerasan bisa berakibat fatal untuk efek mental sang anak, bahkan tak sedikit anak yang tumbuh dengan sifat keras dikarenakan pola didik keras dari orangtua.

Dikutip dari Antara, Psikolog anak dari Universitas Indonesia Dr. Rose Mini Agoes Salim, M. Psi menuturkan beberapa faktor yang bisa memicu dan mendorong anak tumbuh dengan sifat kekerasan.

Orangtua yang melakukan kekerasan pada anak bisa saja membuat anak mencari tempat lain untuk mempraktikkan apa yang pernah diobservasi atau dilihat selama berada dalam lingkungan keluarga tersebut.

Baca juga:

Masa Lalu Orang Tua Pengaruhi Pola Asuh Anak

Jangan pernah menggunakan kekerasan terhadap anak. (Unsplash/Katherine)

“Dan selain kekerasan dari keluarga atau kekerasan yang dilakukan orang tua kepada anak. Ada juga hal-hal lain yang bisa membuatnya tumbuh menjadi anak yang menyelesaikan masalahnya dengan kekerasan,” jelas psikolog yang akrab disapa Romi itu.

Ketika si buah hati merasa kehadiran dirinya tak dianggap, baik di rumah maupun di lingkungannya, maka bisa saja anak mencari tempat lain. di mana dirinya bisa menunjukkan kekuasaan, dominasi atau kekerasan.

Lebih lanjut, Romi menambahkan hal tersebut juga dipengaruhi oleh pergaulan. Anak yang mulanya tidak melakukan kekerasan, tiba-tiba bisa menjadi melakukan kekerasan sebab mungkin saja dia menirukan apa pun yang dilakukan oleh teman sebayanya.

“Banyak sekali penyebabnya, oleh karena itu kita harus mulai jagan sampai orang tua memulai untuk kemudian melakukan kekerasan pada anak di rumah,” papar Romi.

Ketika anak sudah sering melakukan kekerasan, perlu dilihat jauh apakah anak memang merasa tidak nyaman di tempat yang lain sehingga dia memerlukan kelompok teman-temannya yang melakukan kekerasan tersebut.

Baca Juga:

10 Kekeliruan Pola Asuh Anak yang Kerap Dilakukan Orang Tua

Banyak faktor anak tumbuh menjadi keras. Salah satunya karena pola didik yang salah dari orangtua. (Unsplash/Caleb Woods)

Apabila anak ingin menunjukkan eksistensi dengan melakukan kekerasan kepada orang. Maka hal ini juga harus dilihat kembali apakah konsep diri yang dimiliki anak cukup baik. Misal, anak merasa tidak berprestasi di sekolah dan merasa dirinya tidak diterima di sekolah sehingga membutuhkan tempat lain untuk menunjukkan eksistensi.

“Kalau dia tidak berprestasi di sekolah. Sebetulnya dia bisa saja berprestasi misalnya di olahraga, di seni dan sebagainya. Tapi hal itu tidak dia lihat dan orang-orang di sekitarnya. Terutama orang tuanya, tidak menunjukkan kelebihan anak itu sehingga apa yang dia dapat gambaran tentang dirinya mungkin sesuatu yang negatif terus,” lanjutnya.

Apabila hal itu terjadi terus-menerus, maka self-esteem atau rasa harga diri anak cenderung menjadi negatif hingga menghilangkan kepercayaan diri. Anak justru menjadi percaya diri bila bisa menunjukkan kemampuan untuk mendominasi orang lain.

“Untuk mengatasi ini, maka kita harus bantu dari menujukkan kepada dia bahwa anak ini punya potensi lain selain dia jadi orang yang suka berantem dan sebagainya,” tegas Romi. (far)

Baca Juga:

Pola Asuh yang Salah Sebabkan Anak Sering Tantrum

#Parenting #Anak
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Febrian Adi

part-time music enthusiast. full-time human.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
8 Cara Keluarga Cegah Anak Terpapar Pemahaman Kekerasan dan Radikalisme
Regulasi penggunaan sosial media pada anak di Indonesia belum seketat negara maju lainnya.
Dwi Astarini - Senin, 07 September 2026
8 Cara Keluarga Cegah Anak Terpapar Pemahaman Kekerasan dan Radikalisme
Indonesia
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
BNPT mengungkap 620 anak usia 11-18 tahun terpapar kekerasan dan radikalisme. 6 anak di Jakarta diarahkan menjalani rehabilitasi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 03 September 2026
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
Lainnya
Jangan Dianggap Sakit Perut Biasa, Ini Ciri-Ciri Gejala Usus Buntu Anak!
Usus buntu bisa mengakibatkan kematian. Jangan anggap semua sakit perut anak sebagai keluhan biasa.
Wisnu Cipto - Selasa, 01 September 2026
Jangan Dianggap Sakit Perut Biasa, Ini Ciri-Ciri Gejala Usus Buntu Anak!
Berita Foto
Jaring Bibit Padel Muda Lewat Rosiade Padel Tournament Youth Series 2026
Sejumlah anak mengikuti pertandingan padel dalam ajang Rosiade Padel Tournament Youth Series 2026 di Tangerang, Banten, Sabtu (29/8/2026).
Didik Setiawan - Sabtu, 29 Agustus 2026
Jaring Bibit Padel Muda Lewat Rosiade Padel Tournament Youth Series 2026
Indonesia
Menteri PPPA Soroti Pola Asuh di Era Digital, Anak Lebih Nyaman Curhat ke Teman
Survei Forum Anak di Jawa Tengah terhadap lebih dari 20 ribu anak menunjukkan 80 persen lebih nyaman curhat kepada teman dibanding orang tua.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 24 Agustus 2026
Menteri PPPA Soroti Pola Asuh di Era Digital, Anak Lebih Nyaman Curhat ke Teman
Foto Essay
Peluh dan Semangat Anak Menteng Berlatih Tinju Melawan Keterbatasan
Gio dan Hamzah berlatih tinju dengan alat seadanya di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (15/8/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 19 Agustus 2026
Peluh dan Semangat Anak Menteng Berlatih Tinju Melawan Keterbatasan
Indonesia
Ramai Bincang Anak Jadi Bintang Vape di Media Sosial, DPR Desak Polisi Bertindak
Perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama. Jangan pernah menjadikan anak sebagai alat untuk memperoleh keuntungan ekonomi
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 03 Agustus 2026
Ramai Bincang Anak Jadi Bintang Vape di Media Sosial, DPR Desak Polisi Bertindak
Indonesia
KPAI Soroti Dugaan Anak Dijadikan Promosi Vape, Minta Penegak Hukum Bertindak
KPAI menyoroti dugaan keterlibatan anak dalam promosi vape di YouTube dan meminta aparat penegak hukum segera melakukan penyelidikan.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 03 Agustus 2026
KPAI Soroti Dugaan Anak Dijadikan Promosi Vape, Minta Penegak Hukum Bertindak
Lifestyle
AIMI Ingatkan Risiko Mitos Menyusui yang tidak Berbasis Bukti
Masyarakat diharapkan lebih kritis dalam menerima informasi, terutama yang disampaikan key opinion leader (KOL) atau figur publik.
Dwi Astarini - Jumat, 31 Juli 2026
AIMI Ingatkan Risiko Mitos Menyusui yang tidak Berbasis Bukti
Indonesia
DPR Nilai Penggunaan Gawai Anak sudah Lampaui Batas, Minta Sekolah Punya Aturan Jelas
Penggunaan perangkat digital yang berlebihan dapat mengurangi interaksi sosial hingga memengaruhi kesehatan mental peserta didik.
Dwi Astarini - Rabu, 29 Juli 2026
DPR Nilai Penggunaan Gawai Anak sudah Lampaui Batas, Minta Sekolah Punya Aturan Jelas
Bagikan