MerahPutih.com - Houthi menerapkan telah blokade laut bagi Arab Saudi sebagai tanggapan atas penguasaan wilayah udara Yaman selama 12 tahun oleh kelompok tersebut dan penembakan bandara Sanaa ketika sebuah pesawat Iran yang membawa delegasi Houthi sedang mendarat.
Dampaknya, pelayaran kapal-kapal komersial di Selat Bab al-Mandsb mengalami penurunan hingga 56 persen setelah pengumuman dari kelompok Houthi untuk menutup jalur tersebut bagi kapal-kapal Saudi.
Data tersebut diperoleh surat kabar Uni Emirat Arab National dari perusahaan analisis Kpler. Menurut koran tersebut, pada Minggu (26/7), ada sekitar 15 kapal yang melewati jalur tersebut. Angka tersebut menurun 56 persen dari jumlah kapal yang melintas pada Senin (20/7), saat Houthi mengumumkan embargo, yakni sebanyak 34 kapal
Sementara itu, dari data Kpler disebutkan bahwa sembilan dari kapal tersebut berlayar keluar Laut Merah, sementara enam lainnya memasuki wilayah perairan itu. Kapal-kapal tersebut membawa bahan-bahan seperti minyak mentah, gandum, dan pupuk.
Baca juga:
Houthi Serang 3 Kapal Tanker Minyak Arab Saudi, CENTCOM Usulkan Hentikan Serangan di Hormuz
Sementara itu, Pemerintah Yaman menegaskan komitmennya untuk bekerja sama dengan koalisi pimpinan Arab Saudi dan mitra internasional demi meredam ancaman serta melindungi jalur perairan vital di tengah meningkatnya ketegangan dengan kelompok Houthi.
Melalui media sosial X pada Sabtu, Ketua Dewan Kepemimpinan Kepresidenan Yaman, Rashad al-Alimi, menyatakan kerja sama tersebut juga berfokus pada penanganan terorisme, penyelundupan, dan kejahatan terorganisasi.
Ini merupakan tanggung jawab nasional sekaligus komitmen yang tak tergoyahkan terhadap keamanan Yaman, kawasan, dan perdamaian global,
kata Al-Alimi.
Al-Alimi menuding kelompok Houthi dan para pendukungnya merusak peluang deeskalasi. Ia menilai tindakan tersebut sengaja menyeret negara ke dalam krisis yang beruntun demi melayani agenda rezim Iran.
Ia menegaskan, aspirasi rakyat Yaman untuk membangun negara yang bermartabat dan stabil tidak akan pernah menjadi bahan tawar-menawar. Menurutnya, kelompok Houthi tidak memiliki pilihan selain menuruti kehendak rakyat.
Eskalasi yang terus berlanjut hanya membuang waktu dan menguras sumber daya Yaman tanpa sedikit pun melemahkan tekad publik untuk mengakhiri kudeta dan memulihkan otoritas negara,
ujar Al-Alimi.

