Biaya Jangan Jadi Hambatan Orang Dapatkan Vaksin

Zulfikar SyZulfikar Sy - Senin, 26 Oktober 2020
Biaya Jangan Jadi Hambatan Orang Dapatkan Vaksin

Dokumentasi--Petugas medis menyiapkan vaksin untuk disuntikkan ke pasien ( ANTARA FOTO/Akbar Tado/aww.

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Pemerintah harus memastikan kelompok prioritas penerima vaksin COVID-19. Sebab bila tak tepat sasaran, bisa terjadi polemik di masyarakat.

Ketua DPR Puan Maharani mengatakan, pemerintah harus menyampaikan kepada publik mengenai kriteria kelompok-kelompok masyarakat yang didahulukan menerima vaksin COVID-19.

Puan meminta pemerintah memfasilitasi pemberian vaksin bagi kelompok masyarakat yang kurang mampu dan berisiko tinggi.

Baca Juga:

Jokowi Diminta Tunggu Hasil Uji Klinis Sebelum Vaksinasi COVID-19

"Dan biaya harus menjadi pertimbangan, tidak boleh menjadi hambatan untuk orang mengakses vaksin," kata Puan dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Senin (26/10).

Puan juga meminta pemerintah melakukan sosialisasi yang masif terkait vaksin agar tidak terjadi ketidakyakinan dan penolakan dari masyarakat.

"Libatkan dokter, ahli kesehatan, tokoh masyarakat dan semua elemen masyarakat, jangan berasumsi bahwa semua orang akan langsung setuju atau paham serta tahu bagaimana manfaat dan mau untuk divaksin," ujarnya.

Terkait proses pembuatan vaksin, Puan meminta pemerintah memastikan pembuatannya sesuai kaidah-kaidah ilmiah dan memperhatikan faktor keamanan.

"Karena ini nyawa manusia menjadi taruhannya, termasuk status halal atau haram dari vaksin tersebut pun perlu diperhatikan," ucapnya.

Puan meminta, pemerintah mempersiapkan tenaga kesehatan dalam pemberian jutaan vaksin kepada masyarakat Indonesia.

"Karena jutaan orang harus dan akan divaksin dalam waktu serentak. Walaupun saya juga mendengar bahwa akan juga dilakukan secara bertahap," pungkasnya.

Petugas menunjukan vaksin saat simulasi uji klinis vaksin COVID-19 di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/nz
Petugas menunjukan vaksin saat simulasi uji klinis vaksin COVID-19 di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/nz

Sementara itu, Presiden Joko Widodo memerintahkan agar vaksinasi tidak terburu-buru dilakukan tanpa mengikuti standar kesehatan yang tepat. Ini lantaran aspek keamanan vaksin menjadi perhatian utama masyarakat, pakar, maupun peneliti.

Selain itu, persoalan standar keamanan dan kesehatan dapat berpengaruh terhadap kepercayaan masyarakat terhadap vaksin corona.

Oleh sebab itu seluruh proses pengujian harus dilakukan lewat kaidah ilmu pengetahuan.

"Kalau tidak, ada satu saja bermasalah bisa menjadi ketidakpercayaan masyarakat terhadap upaya vaksinasi ini," kata Jokowi

Jokowi mengatakan memang saat ini semua negara sedang berlomba untuk mengembangkan vaksin demi memutus rantai penularan corona.

Meski demikian ia ingin agar tidak ada persepsi bahwa pemerintah terburu-buru tanpa mengikuti koridor ilmiah.

“Ini menyangkut banyak aspek yang harus dipersiapkan secara matang,” katanya.

Tak hanya itu, ia berharap vaksin dapat tersedia dengan harga terjangkau bagi masyarakat.

Antivirus tersebut sebenarnya akan disediakan secara gratis untuk kelompok tertentu dan berbayar untuk masyarakat yang mampu.

“Biaya pelaksanaan vaksinasi mandiri harus dihitung denga cermat dan disiapkan atura sejak awal,” katanya.

Baca Juga:

Jokowi Minta Pengadaan Vaksin Dilakukan dengan Hati-hati

Selanjutnya, Jokowi memerintahkan Menteri Badan Usaha Milik negara (BUMN) Erick Thohir dan Menteri Komunikasi dan Informatika Johny G Plate menyiapkan strategi komunikasi terkait vaksin kepada masyarakat.

Komunikasi tersebut dapat memaparkan manfaat dan peta jalan vaksinasi secara komprehensif kepada masyarakat. "Jadi tidak ada disinformasi dan berita hoaks dari berbagai platform di media yang ada," kata dia.

Selain itu, Jokowi meminta organisasi keagamaan, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU) Muhammadiyah mendapatkan penjelasan gamblang soal vaksin. Dengan demikian, masyarakat dapat meyakini kehalalan vaksin COVID-19.

Dalam rapat tersebut, Jokowi juga memerintahkan para menteri untuk menyusun linimasa pelaksanaan vaksin sesuai dengan ketersediaan infrastruktur, jalur distribusi, dan interval pemberian vaksin per wilayah.

"Buat detail sekali. Daerah ini kapan. Siapa yang dapat," katanya.

Terakhir, mantan Wali Kota Solo itu juga berharap adanya simulasi pelatihan vaksinasi kepada tenaga kesehatan, tenaga keamanan, dan relawan.

Isu terkait keamanan vaksin mengemuka usai 48 orang di Korea Selatan meninggal dunia setelah vaksinasi influenza. Tak hanya itu, perusahaan farmasi AstraZeneca sempat menghentikan pengujian kandidat antivirus COVID-19 setelah kematian satu relawan uji klinis. (Knu)

Baca Juga:

Pemkot Depok Mulai Data Jumlah Fasilitas dan Tenaga Kesehatan untuk Vaksinasi COVID-19

#Virus Corona #Vaksin Covid-19
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Vaksin COVID-19 Terkoneksi Bluetooth di Aplikasi Handphone
Informasi ini diunggah akun Facebook “Jefri Papahnya Aqiela”.
Frengky Aruan - Senin, 09 Juni 2025
[HOAKS atau FAKTA]: Vaksin COVID-19 Terkoneksi Bluetooth di Aplikasi Handphone
Dunia
Ilmuwan China Temukan Virus Corona Kelelawar Baru yang Sama dengan COVID-19, Disebut Dapat Menular ke Manusia Lewat
Virus baru ini berasal dari subgenus merbecovirus, yang juga termasuk virus penyebab Middle East Respiratory Syndrome (MERS).
Dwi Astarini - Jumat, 21 Februari 2025
 Ilmuwan China Temukan Virus Corona Kelelawar Baru yang Sama dengan COVID-19, Disebut Dapat Menular ke Manusia Lewat
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Kasus Autoimun Meroket Akibat Vaksinasi COVID-19
Reaktivitas silang antara protein SARS-CoV-2 pada vaksin dan protein manusia dapat menyebabkan berbagai kondisi autoimun, dari dermatitis ringan, kerusakan organ, kelumpuhan, sampai kematian.
Wisnu Cipto - Rabu, 09 Oktober 2024
[HOAKS atau FAKTA]: Kasus Autoimun Meroket Akibat Vaksinasi COVID-19
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Vaksin COVID-19 AstraZeneca Penyebab Sakit Jantung
Beredar narasi yang mengeklaim vaksin Astrazeneca merupakan penyebab jantung terasa sakit tanpa sebab.
Frengky Aruan - Jumat, 09 Agustus 2024
[HOAKS atau FAKTA]: Vaksin COVID-19 AstraZeneca Penyebab Sakit Jantung
Lifestyle
Kemenkes Jelaskan Vaksin COVID-19 AstraZeneca Disebut Timbulkan Thrombocytopenia Syndrome
Dwi Astarini - Kamis, 02 Mei 2024
Kemenkes Jelaskan Vaksin COVID-19 AstraZeneca Disebut Timbulkan Thrombocytopenia Syndrome
Indonesia
Indonesia Miliki Sisa Vaksin COVID-19 Sekitar 5,22 Juta Dosis
Terdapat sebanyak 1.345 kasus aktif pada Januari hingga Maret 2024. Adapun kasus mingguan mencapai 28 kasus, dan pengecekan mingguan sebanyak 7.700 kasus.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 26 Maret 2024
Indonesia Miliki Sisa Vaksin COVID-19 Sekitar 5,22 Juta Dosis
Bagikan