MerahPutih.com - Konsumsi BBM Indonesia menapai 1,6 juta barel per hari, Namun, lifting hanya kurang lebih sekitar 600.000 sampai 610.000 barel per hari, sehingga pemerintah mencari tambahan pasokan di tengah kondisi Selat Hormuz yang diblokade.
Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, menerima laporan dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengenai hasil negosiasi kerja sama Indonesia-Rusia bidang energi termasuk pembelian minyak mentah (crude) dari Rusia.
Presiden Prabowo telah menugaskan secara khusus Menteri ESDM untuk menindaklanjuti hasil pertemuan Presiden Prabowo dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, yaitu dengan menemui utusan khusus Presiden Putin bidang energi, dan Menteri Energi Rusia.
“Beliau (Menteri ESDM, red.) melaksanakan rapat dengan utusan khusus Presiden Putin, dan menteri (energi Rusia, red.), dan hasilnya Beliau laporkan kepada Bapak Presiden baru saja,” kata Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya.
Baca juga:
Bawa 2 Juta Barel Minyak, Supertanker Iran Bobol Blokade AS di Selat Hormuz
Menteri ESDM kemudian memaparkan poin-poin pertemuannya dengan Pemerintah Rusia kepada Presiden Prabowo. Bahlil menilai hasil pertemuannya dengan delegasi Pemerintah Rusia "cukup menggembirakan".
“Kita akan mendapat pasokan crude (minyak mentah, red.) dari Rusia, dan juga dari pihak Rusia akan siap membangun beberapa infrastruktur penting dalam rangka meningkatkan cadangan dan ketahanan energi nasional kita,” kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia kepada wartawan saat jumpa pers.
Bahlil mengatakan, dirinya yang mewakili Pemerintah Indonesia, juga membuka komunikasi mengenai kerja sama impor LPG dari Rusia.
Walaupun demikian, Bahlil menyebut pembicaraan mengenai kerja sama terkait LPG masih membutuhkan 2–3 kali pertemuan.
“Insya Allah kita juga akan mendapat support (dukungan, red.), tetapi yang ini masih butuh perjuangan, masih butuh komunikasi dua-tiga tahap, tetapi kalau crude-nya saya pikir sudah, sudah hampir final,” ujar Bahlil Lahadalia.
Bahlil menjelaskan kerja sama bidang energi yang saat ini dirundingkan dengan Rusia sifatnya jangka panjang. (*)