DEMENSIA merupakan sebuah sindrom yang berakitan dengan penuruan kemampuan fungsi otak. Gejala dimensia meliputi berkurangnya daya ingat, penurunan kemampuan berpikir, seperti sulit memahami sesuatu, banyak melakukan pertimbangan, sulit memahami bahasa, serta menurunnya kecerdasan mental.
Bagi kamu yang telah melajang terlalu lama, risiko terkena demensia akan meningkat. Kendati kamu bisa survive dengan kesendirianmu, fakta mengungkapkan bahwa kesendirian akan memengaruhi kualitas otak kamu.
Seperti yang dilansir laman Daily Mail, sebuah studi belum lama ini menjelaskan bahwa terlalu lama sendiri akan meningkatkan risiko demensia sebanyak 40%, meskipun kamu merasa dikelilingi orang-orang yang menyayangimu.
Studi itu dilakukan selama 10 tahun. Salah satu alasan terkuat dari hasil tersebut ialah kesendirian memengaruhi terjadinya peradangan di otak. Selain itu, kesendirian memungkinan seseorang untuk menjalani sebuah gaya hidup yang tak sehat.
Kendati demikian, penyebab demensia sendiri masih belum diketahui, tapi bukti yang ada saat ini menjelaskan bahwa diet serta olahraga yang cukup dapat memperkecil risiko sindrom yang mengganggu memori otak tersebut.
Dalam hal ini, kamu harus sadar bahwa bersosialisasi sangat penting guna menjaga pikiran kamu agar tetap aktif. Caranya ialah dengan meningkatkan kesehatan kognitif. Para peneliti juga menganalisis 12.030 orang di atas usia 50 tahun dan menekanan bahwa kesepian atau kesendirian dapat meningkatkan risiko demensia.
Studi tersebut turut melibatkan para peserta yang melaporkan tentang kesepian dan isolasi sosial yang mereka rasakan. Dimana hal itu dibandingkan dengan banyaknya kontak sosial yang mereka jalani.
"Hal ini termasuk juga dengan perasan jika kamu tidak cocok atau tak termasuk orang-orang disekitarmu," ucap Dr Angelina Sutin dari Universitas Negeri Florida
Disamping itu, fakta lain menjelaskan jika kamu dapat berada disekitar banyak orang dan berinteraksi dengan mereka, tapi beberapa orang merasa kesepian.
"Dari luar sepertinya mungkin seseorang memiliki interaksi atau keterlibatan sosial yang tinggi, namun perasaan subjektifnya ialah dia bukan bagian dari grup dan tetap merasa sendirian" lanjut Sutin.
Status kognitif para orang-orang yang jadi objek penelitian, dinilai pada awal penelitian dan setiap dua tahun selama satu dekade melalui wawancara telepon. Selama penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Gerontology: Psychological Sciences, 1.104 orang yang menjadi objek penelitian terbukti menderita demensia.
Hasil menunjukkan kesepian meningkatkan risiko demensia seseorang lebih besar 40%. Dalam hal ini tanpa memandang Suku, Agama, Ras, Jenis Kelamin dan tingkat pendidikan mereka. Bahkan telah disesuaikan seperti orang yang kesepian menjadi kurang aktif ataupun lebih suka merokok, risiko demensia mereka tetaplah tinggi.
"Kami bukan orang pertama yang menunjukan jika kesepian dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia, akan tetapi sejauh ini penelitian ini melibatkan sampel terbesar, tindak lanjut yang panjang dan penduduknya yang lebih beragam" ucap Sutin.
Dalam kasus ini Dr Sutin pun menyarankan mereka yang merasa terkucil secara sosial untuk tak menyalahkan diri sendiri. (ryn)
Baca juga yuk artikel menarik yang lainnya Usia Paling Aman Hadiahi Anak Smartphone Versi Bill Gates