Sains

Antartika Punya Hutan Hujan Tropis, 90 Juta Tahun Lalu

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 15 September 2020
Antartika Punya Hutan Hujan Tropis, 90 Juta Tahun Lalu

Karena cuaca yang lebih hangat, dulu Antartika tidak ada es dan penuh dengan hutan. (unsplash @mandddysweettt)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MENGEJUTKAN. Tak ada yang menyangka tempat sedingin antartika pernah ditumbuhi rimbunnya hutan hujan tropis. Saat zaman dinosaurus, Antartika punya cuaca yang hangat. Jadi hutan hujan yang tropis tumbuh di sana.

Temuan itu diketahui berkat fosil dari hasil pengeboran. Fosil itu menunjukkan pernah adanya sebuah hutan di Antartika. Melansir The Guardian, penelitian yang dipublikasi di jurnal Nature menyebutkan pada 2017, penulis utama Johann Klages dan timnya mengebor lubang sempit ke dasar laut dekat gletser Pulau Pine di Antartika Barat.

BACA JUGA:

Ambisius, Uber akan Gunakan Mobil Listrik

Lokasi itu berada sekitar 2.000 km dari kutub selatan saat ini. Namun, sekitar 90 juta tahun yang lalu, jarak itu setara dengan sekitar 900 km dari kutub. "Kami segera melihat bahwa sesuatu yang istimewa sedang terjad. Kami melihat jaringan akar fosil yang luar biasa, murni, lengkap, dan padat di inti yang terhubung ke dasar inti," ucap Klages dalam penelitian, dikutip VICE.

Berbeda dengan batu pasir berwarna terang, Klages mengatakan kepada VICE bahwa inti itu berwarna gelap. Hal itu menunjukkan kayanya bahan organik. The Guardian melaporkan tim peneliti melihat materi yang ditutup dengan bahan seperti batu bara dan dikemas tanah dari hutan purba, lengkap dengan akar, spora, dan serbuk sari. Hal itu diidentifikasi berasal dari tumbuhan termasuk pohon konifer dan pakis.

antartika
Antartika saat ini dikelilingi dengan es dan binatang ikoniknya, penguin. (Foto:unsplash @eadesstudio)

"Ini seperti jika kamu pergi ke hutan dekat rumahmu di suatu tempat dan mengebor sebuah lubang ke tanah hutan. Ini benar-benar murni dan luar biasa," kata Klages dalam penelitiannya.

Para peneliti menemukan bukti lebih dari 65 jenis tanaman berbeda di dalam material, mengungkapkan bahwa lanskap di dekat kutub selatan sempat tertutupi hutan hujan konifer rawa yang mirip dengan yang ditemukan saat ini di bagian barat laut Selandia Baru. Materi tersebut bertanggal antara 92 juta dan 83 juta tahun yang lalu.

Fosil-fosil yang diawetkan dalam inti yang sangat langka itu merupakan gambaran pertama dari ekosistem periode kapur di garis lintang selatan, hanya 500 mil dari Kutub Selatan. "Ini jelas bukti periode kapur paling selatan yang pernah ditemukan di planet ini. Kami orang pertama yang mengebor di lingkungan itu," kata penulis utama Johann Klages, ahli geologi di Alfred Wegener Institute Helmholtz Center for Polar and Marine Research kepada VICE.

hutan
Peneliti menemukan bukti 65 jenis tanaman dari fosil-fosil. (Foto: unsplash @chrisabney)

Kapur, 145 juta hingga 66 juta tahun yang lalu, merupakan periode hangat saat Bumi memiliki iklim rumah kaca dan tumbuh-tumbuhan tumbuh di Antartika.

Para ilmuwan mengatakan penemuan itu tidak hanya mengungkapkan bahwa hutan hujan rawa tumbuh subur di dekat Kutub Selatan sekitar 90 juta tahun yang lalu, tetapi juga suhu lebih tinggi daripada yang diperkirakan.

Kondisi seperti itu, tambah mereka, hanya dapat terjadi jika tingkat karbondioksida jauh lebih tinggi daripada yang diperkirakan sebelumnya dan tidak ada gletser di wilayah tersebut. "Kami tidak tahu bahwa iklim rumah kaca Cretaceous ini ekstrem. Ini menunjukkan apa yang mampu dilakukan karbondioksida," kata Klages kepada The Guardian.

antartika
Ilustrasi Antartika 90 tahun yang lalu. (Foto: Facebook Alfred Wegener Institute, James McKay)

VICE menyebut peneliti juga mengatakan mereka cukup yakin sekarang untuk mengatakan bahwa pada saat itu tidak ada es, Antartika benar-benar bervegetasi dan memiliki konsentrasi CO2 yang sangat tinggi.

Dr James Bendle, seorang ahli geokimia organik dari Universitas Birmingham, mengatakan kepada The Guardian bahwa mempelajari ekosistem Antartika sangat penting dalam memahami perubahan iklim di masa lalu dan masa depan.

Ia juga menambahkan, penggunaan bahan bakar fosil yang terus-menerus dapat mendorong konsentrasi karbondioksida ke tingkat yang serupa dengan 90 juta tahun yang lalu pada awal abad berikutnya.

"Pada akhirnya, jika kita memiliki atmosfer lebih dari 1.000 bagian per juta karbondioksida, kita berkomitmen pada planet masa depan yang memiliki sedikit atau tanpa es. Pada akhirnya sebuah benua Antartika yang akan ditumbuhi tumbuhan dan tidak akan memiliki tutupan es," katanya kepada The Guardian.(lev)

BACA JUGA:

Ilmuwan Harvard Menang Nyaris Rp45 Miliar untuk Karya Tentang Naluri Mengasuh

#Sains
Bagikan
Ditulis Oleh

Dwi Astarini

Love to read, enjoy writing, and so in to music.

Berita Terkait

Lifestyle
Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Status baru tersebut dipublikasikan pada Rabu (8/4) oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN).
Dwi Astarini - Jumat, 10 April 2026
  Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Lifestyle
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Bulan tampak memenuhi jendela kapsul mereka, saat para astronaut Artemis II melaju memasuki penerbangan melintasi bulan.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Dunia
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Badan antariksa Amerika Serikat NASA mengumumkan misi antariksa Artemis II akan membawa kru manusia meluncur ke bulan.
Dwi Astarini - Kamis, 02 April 2026
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Lifestyle
Arkeolog Temukan Kerangka yang Diduga Anggota Three Musketeers D'Artaganan
Kerangka itu ditemukan terkubur di sebuah makam di depan altar Gereja St Peter and Paul di Kota Maastricht, Belanda Selatan.
Dwi Astarini - Selasa, 31 Maret 2026
Arkeolog Temukan Kerangka yang Diduga Anggota Three Musketeers D'Artaganan
Indonesia
Dikira Punah 6.000 Tahun Lalu, Possum Kecil dan Glider Muncul di Papua Barat
Penemuan seperti ini dikenal sebagai ‘lazarus taxon’, sebuah istilah yang terinspirasi dari tokoh dalam Alkitab yang dibangkitkan dari kematian.
Dwi Astarini - Jumat, 06 Maret 2026
 Dikira Punah 6.000 Tahun Lalu, Possum Kecil dan Glider Muncul di Papua Barat
Dunia
Kura-Kura Raksasa Kembali ke Pulau Galapagos, Pernah Punah Hampir 200 Tahun
Spesies asli Floreana, 'Chelonoidis niger niger', punah pada 1840-an karena pelaut mengambil mereka dari pulau tersebut untuk sumber makanan dalam pelayaran.
Dwi Astarini - Senin, 23 Februari 2026
Kura-Kura Raksasa Kembali ke Pulau Galapagos, Pernah Punah Hampir 200 Tahun
Indonesia
Temui Profesor Oxford hingga Imperial College, Prabowo Ingin Bangun 10 Kampus Baru di Indonesia
Presiden Prabowo Subianto bertemu profesor dari 24 universitas top Inggris yang tergabung dalam Russell Group. Kerja sama pendidikan hingga rencana bangun 10 kampus baru di Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 22 Januari 2026
Temui Profesor Oxford hingga Imperial College, Prabowo Ingin Bangun 10 Kampus Baru di Indonesia
Fun
Water Turbine Project: Inisiatif Pendidikan Seni Museum MACAN untuk Isu Air dan Lingkungan
Museum MACAN meluncurkan Water Turbine Project, program pendidikan seni kolaborasi dengan Grundfos Indonesia. Angkat isu air, lingkungan, dan keberlanjutan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 18 Desember 2025
Water Turbine Project: Inisiatif Pendidikan Seni Museum MACAN untuk Isu Air dan Lingkungan
Lifestyle
Ribuan Jejak Kaki Dinosaurus Ditemukan di Pegunungan Italia, Polanya Rapi bahkan Membentuk Pertahanan
Jejak-jejak yang sebagian berdiameter hingga 40 sentimeter itu tersusun sejajar dalam barisan paralel.
Dwi Astarini - Rabu, 17 Desember 2025
Ribuan Jejak Kaki Dinosaurus Ditemukan di Pegunungan Italia, Polanya Rapi bahkan Membentuk Pertahanan
Indonesia
Temui Jokowi di Solo, Dato Tahir Bocorkan Tanggal Peresmian Museum Sains dan Teknologi
Founder dan Chairman Mayapada Group, Dato Sri Tahir, menemui Jokowi di Solo. Ia mengatakan, Museum Sains dan Teknologi diresmikan Maret 2026.
Soffi Amira - Jumat, 12 Desember 2025
Temui Jokowi di Solo, Dato Tahir Bocorkan Tanggal Peresmian Museum Sains dan Teknologi
Bagikan