Ancaman Kesehatan Sampai Risiko Banjir Susulan masih Membayangi Nepal

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 04 September 2026
Ancaman Kesehatan Sampai Risiko Banjir Susulan masih Membayangi Nepal

Banjir Bandang Terjang Nepal.(foto: Instagram @trendand.truth)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - BENCANA banjir bandang di perbatasan Nepal dan China masih menyisakan duka. Di tengah proses evakuasi dan pemulihan yang belum selesai, masyarakat Nepal kini masih dibayangi sejumlah ancaman, mulai dari banjir susulan hingga risiko kesehatan akibat pencemaran air dan dampak pencairan gletser.

Banjir bandang menerjang kawasan perbatasan Nepal-China pada 26 Agustus 2026. Material es, batu, lumpur, dan puing dalam jumlah besar bergerak dari kawasan pegunungan dan menerjang wilayah di bawahnya.

Disebutkan, korban meninggal 1.225 orang. Sebanyak 4.757 orang masih dinyatakan hilang sampai hari ini.

Selain korban jiwa, banjir bandang juga menyapu permukiman, jalan, lahan pertanian, serta berbagai infrastruktur yang berada di sepanjang jalur alirannya.

Baca juga:

Lebih dari 110 Orang Diselamatkan Sepekan setelah Banjir Bandang Nepal



Banjir Susulan masih Mengintai


Ancaman belum berakhir. Deutsche Welle (DW), melaporkan pemerintah Nepal meminta warga untuk mengungai ke kawasan yang lebiih tinggi. Salah satunya warga yang tinggal di sepanjang Sungai Bhotekoshi. Peringatan itu dikeluarkan karena danau yang tersisa dadi gelombang banjir terus mengalami kenaikan debit. Hal itu dikhawatirkan menjadi sumber banjir susulan.

Kepala Eksekutif Otoritas Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nepal Dharam Raj Uprety mengatakan peringatan dikeluarkan setelah China menginformasikan adanya peningkatan aliran air di wilayah hulu.

Kantor berita Xinhua juga melaporkan sebuah danau yang terbentuk akibat banjir di kawasan pegunungan tinggi sebagian besar telah surut. Namun, masih terdapat cekungan air sekitar 5,6 kilometer di bagian hulu yang menampung sekitar 1,4 juta meter kubik air.

Kondisi tersebut membuat potensi banjir susulan masih menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah hilir.

Baca juga:

3.000 Orang Dinyatakan Hilang Dalam Banjir Bandang di Nepal, Korban Tewas Ditemukan di Perbatasan India

Ancaman Kesehatan di Balik Pencairan Gletser



Selain ancaman banjir, pencairan gletser juga membawa persoalan lain yang tidak selalu terlihat. Peneliti menyebut lapisan bawah gletser yang dikenal sebagai moraine dan cryoconite pernah disebut sebagai sumber penting penyebaran mikroorganisme dari kawasan gletser menuju lingkungan di bawahnya.

Mikroorganisme yang keluar dari moraine dan cryoconite berpotensi berpindah melalui air lelehan maupun udara. Itulah mengapa mereka disebut sebagai potensial pantogen, tapi tak otomatis menyebabkan penyakit pada manusia.

Di lain sisi, glestser yang mencair bisa membawa kontaminan, gen resistansi antibiotik, serta bakteri yang berpotensi patogen menuju aliran sungai.

Risiko kesehatan dapat semakin besar ketika air banjir bercampur dengan limbah, kotoran, maupun material lain dan kemudian mencemari sumber air bersih. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit yang berkaitan dengan air dan sanitasi, seperti diare, kolera, hingga tifus.

Baca juga:

2.000 Orang Dilaporkan Hilang dalam Banjir Bandang Nepal, Banyak Merupakan Wisatawan



Krisis Pangan Mengintai



Dampak bencana juga dapat menjalar ke sektor pangan. Banjir yang merusak lahan pertanian berpotensi mengganggu hasil panen dan pasokan makanan masyarakat.

Jika berlangsung dalam waktu lama, berkurangnya pasokan pangan dapat meningkatkan risiko kekurangan gizi. Kondisi tersebut membuat masyarakat, terutama kelompok rentan, semakin mudah terserang penyakit.

Di saat yang sama, fasilitas kesehatan harus menghadapi tekanan tambahan. Rumah sakit dan layanan medis di wilayah terdampak berpotensi kewalahan menangani korban bencana sekaligus kebutuhan kesehatan masyarakat yang meningkat.

Baca juga:

Korban Banjir Bandang Nepal Mencapai 469 Orang, Danau Baru Ancam Banjir Susulan



Himalaya Bukan Satu-satunya



Persoalan pencairan gletser tidak hanya mengancam Nepal. Wilayah lain yang memiliki gletser, mulai dari Norwegia, Selandia Baru, Islandia hingga Cile, juga menghadapi risiko serupa akibat pemanasan global dan pencairan es yang semakin cepat.

Ahli gletser Universitas Kathmandu, Nepal, sekaligus Penjelajah National Geographic, Mohan Bahadur Chand, mengatakan seluruh wilayah yang tertutup gletser rentan terhadap dampak pemanasan yang cepat dan pencairan yang semakin meningkat.(Tka)

Baca juga:

Korban Tewas Banjir Bandang di Nepal 298 Orang, 10 Ribu Orang Kehilangan Rumah



Sumber Foto: website/bbc

Penampakan dari atas kawasan yang terkenal Banjir Bandang di Nepal

#Nepal #Banjir Bandang #Bencana Alam
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Banjir Bandang Padang: 120 Rumah Terdampak, Kementerian PU Percepat Pemulihan
Kementerian PU merampungkan tanggul darurat 200 meter di Padang setelah banjir bandang merendam 120 rumah. Simak rencana normalisasi sungai dan pembangunan check dam.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 13 Oktober 2026
Banjir Bandang Padang: 120 Rumah Terdampak, Kementerian PU Percepat Pemulihan
Dunia
Lagi, Banjir Bandang Terjang Nepal, Rumah-Rumah dan Jembatan Tersapu
Air bah yang dahsyat menerjang lembah dan menyapu seluruh kompleks bangunan.
Dwi Astarini - Senin, 12 Oktober 2026
Lagi, Banjir Bandang Terjang Nepal, Rumah-Rumah dan Jembatan Tersapu
Indonesia
Banjir Rendam 9 Kecamatan di Aceh Tamiang
Saat ini, petugas gabungan dari BPBD, Dinas Damkarmat serta Satgas SAR masih berada di lapangan untuk melakukan observasi, pendataan kerugian materiil, serta membantu proses evakuasi warga terdampak.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 12 Oktober 2026
Banjir Rendam 9 Kecamatan di Aceh Tamiang
Indonesia
87 Rumah Sakit dan 4.922 Sekolah Terdampak Bencana Sumatra Kembali Beroperasi
Rumah sakit hingga sekolah terdampak bencana Sumatra kini sudah kembali beroperasi. Hal itu diungkapkan Ketua PRR Pascabencana Sumatra, Tito Karnavian.
Soffi Amira - Minggu, 11 Oktober 2026
87 Rumah Sakit dan 4.922 Sekolah Terdampak Bencana Sumatra Kembali Beroperasi
Dunia
Nepal Hentikan Pencarian Ribuan Korban Banjir, Fokus pada Rehabiitasi
Sejauh ini, tim penyelamat telah menemukan setidaknya 1.455 jenazah, tetapi 5.285 orang lainnya masih dinyatakan hilang, termasuk ratusan warga negara asing.
Dwi Astarini - Kamis, 08 Oktober 2026
Nepal Hentikan Pencarian Ribuan Korban Banjir, Fokus pada Rehabiitasi
Indonesia
2 Orang Meninggal Tertimbun Longsor di Pekalongan Jawa Tengah
Tim petugas gabungan termasuk dari BPBD Pekalongan saat ini sedang melakukan kaji cepat terhadap dampak dari longsor ini.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 07 Oktober 2026
 2 Orang Meninggal Tertimbun Longsor di Pekalongan Jawa Tengah
Dunia
Longsor masih Mengintai Nepal, para Pendaki Dievakuasi dengan Helikopter
Ratusan pendaki di Jalur Annapurna, yang sangat krusial bagi perekonomian Nepal, harus menghentikan pendakian lebih awal untuk menyelamatkan diri.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Longsor masih Mengintai Nepal, para Pendaki Dievakuasi dengan Helikopter
Dunia
Perdana Menteri Nepal Sebut Banjir Bandang Peringatan bagi Dunia, Desak Kerja Sama Global untuk Hadapi Krisis
Pemanasan global telah merusak stabilitas ekologi Himalaya yang rapuh, melelehkan permafrost serta gletser, dan mempercepat timbulnya berbagai bahaya.
Dwi Astarini - Jumat, 25 September 2026
Perdana Menteri Nepal Sebut Banjir Bandang Peringatan bagi Dunia, Desak Kerja Sama Global untuk Hadapi Krisis
Indonesia
Banjir Bandang Solok Tewaskan Warga, 1 Jasad Ditemukan Lainnya Masih Dicari
Banjir bandang menerjang Nagari Batang Barus, Solok. Satu korban ditemukan meninggal dunia, tim SAR masih mencari korban hilang lainnya.
Wisnu Cipto - Selasa, 22 September 2026
Banjir Bandang Solok Tewaskan Warga, 1 Jasad Ditemukan Lainnya Masih Dicari
Indonesia
Banjir Bandang Hantam Solok, BMKG: Peringatan Sudah Sejak Seminggu Lalu
anjir bandang terjang Solok akibat hujan lebat 94 mm/hari. BMKG sebut peringatan dini sudah dikeluarkan 7 hari sebelum bencana.
Wisnu Cipto - Selasa, 22 September 2026
Banjir Bandang Hantam Solok, BMKG: Peringatan Sudah Sejak Seminggu Lalu
Bagikan