Alasan Mengapa Seseorang Mencari Kebahagiaan
Hubungan itu indah ketika dua orang utuh bertemu dan berbagi kehidupan. (Pexels/Asad Photo Maldives)
HAMPIR semua orang mencari kebahagiaan. Mereka mencari benda dan materi untuk mengisi kekosongan di tengah dada. Nilai-nilai konsumerisme kapitalis mempromosikan perolehan materi dengan mengorbankan kesejahteraan emosional.
Dengarkan narasi budaya yang dominan, “Beli X, itu akan membuatmu bahagia.” Padahal, ketika mencari kebahagiaan melalui objek material, kamu tidak akan pernah menemukannya.
Berikut ada tiga cara lain yang biasanya digunakan seseorang untuk mencari kebahagiaan menurut Startup Executive Psychologist Matthew Jones, PsyD yang dijelaskan di quora.com.
Baca Juga:
Hubungan
Jika kamu bergantung pada orang lain untuk merasa baik-baik saja tentang diri sendiri, maka kamu mencari kebahagiaan di tempat yang salah. Hubungan itu indah ketika dua orang utuh bertemu dan berbagi kehidupan mereka, tetapi bermasalah ketika orang menggunakan orang lain untuk menghindari masalah mereka.
"Kamu dapat menutupi ketidakbahagiaan, tetapi tidak untuk waktu yang lama. Penderitaan selalu mencari ekspresi," ujar Jones.
Pengalaman
Jalan-jalan dan petualangan merupakan salah satu harta terbesar dalam hidup, pengalaman itu memperkaya hidup tapi bukan sumber dari semua kepuasan.
"Ketika kamu bergantung pada peristiwa eksternal untuk bahagia, sulit untuk menciptakan keadaan positif tanpa pengalaman yang menyenangkan," ujar Cofounder CoachAuthor tersebut. Kebahagiaan sejati dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari yang “biasa-biasa” saja.
Baca Juga:
Pujian, pengakuan, dan persetujuan
Banyak orang mencari kebahagiaan dengan mengejar kesuksesan. Apakah keamanan finansial atau promosi, kita berpikir bahwa jika orang menyukai, kita akan merasa puas.
"Sebagai mantan pecandu Instagram, saya dapat berbicara tentang fakta bahwa likes, perhatian, dan kekaguman memang membuat kamu merasa lebih baik dalam jangka pendek. Sayangnya, ketika tidak menerima aliran perhatian yang konstan, kamu terpaksa duduk dengan ketidakbahagiaan yang mendasari hidupmu. Ketenaran dan pengakuan tidak membawa kebahagiaan abadi," dia menjelaskan.
"Kita mencari kebahagiaan karena dicuci otak. Pengkondisian budaya kita memberi tahu bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang eksternal. Kita diberitahu bahwa diri sendiri, tidak cukup," Jones menegaskan.
Entah itu melalui hubungan, pengalaman menarik, kekaguman, atau objek material, kita berpikir bahwa jika memperoleh sesuatu di luar diri sendiri, kita akhirnya akan merasa lengkap. Padahal tidak demikian menurut Jones. (aru)
Baca Juga:
Bagikan
Berita Terkait
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!