MERAHPUTIH.COM - LIMA komoditas bahan pokok mengalami peningkatan tertinggi menjelang perayaan Idul Fitri 2026/1447 Hijriah. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok memastikan ketersediaan stok pangan menjelang Lebaran 1447 Hijriah dalam kondisi aman.
Komoditas tersebut yakni telur ayam yang naik 17,20 persen dari kebutuhan normal 9.010 ton menjadi 10.560 ton dengan prognosa ketersediaan 11.616 ton, daging ayam yang meningkat 10,77 persen dari kebutuhan normal 10.904 ton menjadi 12.078 ton dengan prognosa ketersediaan 26.965 ton, dan bawang merah yang naik 10,67 persen dari kebutuhan normal 2.777 ton menjadi 3.073 ton dengan prognosa ketersediaan 7.295 ton.
Selain itu, ada pula minyak goreng yang mengalami kenaikan kebutuhan sebesar 9,67 persen dari kebutuhan normal 17.591 ton menjadi 19.292 ton dengan prognosa ketersediaan 37.777 ton. Sementara itu, cabai rawit meningkat 9,18 persen dari kebutuhan normal 2.215 ton menjadi 2.419 ton dengan prognosa ketersediaan 3.525 ton.
Di sisi lain, Pemprov DKI Jakarta juga mencatat adanya kenaikan harga pada sejumlah komoditas pangan di tingkat eceran. Berdasarkan perkembangan harga pangan pada minggu kedua Maret 2026, terdapat lima komoditas yang mengalami kenaikan harga tertinggi.
Komoditas tersebut yaitu cabai rawit merah yang naik 3,83 persen atau sebesar Rp 3.962 per kilogram menjadi Rp 107.391 per kilogram. Kemudian ayam potong yang naik 1,24 persen atau sebesar Rp 546 per kilogram menjadi Rp 44.680 per kilogram.
Selanjutnya beras IR 42 naik 1,03 persen atau sebesar Rp 161 per kilogram menjadi Rp 15.844 per kilogram. Beras IR I naik 1,02 persen atau sebesar Rp 155 per kilogram menjadi Rp 15.379 per kilogram, serta beras IR II naik 0,88 persen atau sebesar Rp 128 per kilogram menjadi Rp 14.675 per kilogram.
Baca juga:
Jelang Lebaran 2026, Mendag Pastikan Pasokan Bahan Pokok di Jakarta Aman
Meski demikian, Hasudungan menilai kenaikan harga tersebut masih tergolong wajar menjelang periode hari besar keagamaan Idul Fitri. "Kenaikan harga pangan dengan besaran kurang dari lima persen menjelang HBKN Idul Fitri 2026 masih dalam batas fluktuasi wajar dan cenderung stabil jika dibandingkan dengan lonjakan tinggi," katanya, Jumat (13/3).
Ia menjelaskan terdapat dua faktor utama yang memengaruhi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan tersebut, yaitu adanya kenaikan permintaan menjelang momen perayaan Idul Fitri dan faktor cuaca dengan curah hujan tinggi di daerah produsen yang menyebabkan penurunan kualitas dan berkurangnya hasil produksi.
Hasudungan mengatakan Pemprov DKI menyiapkan sejumlah langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga. Langkah yang dilakukan antara lain, monitoring ketersediaan pangan baik dilakukan OPD Pemprov DKI Jakarta dan juga sinergi Pemprov DKI Jakarta dengan Satgas Pangan Kepolisian.
Selain itu, pemerintah juga melakukan penyediaan dan pendistribusian pangan subsidi kepada masyarakat tertentu. Ada pula program pangan keliling oleh BUMD Provinsi DKI Jakarta seperti PT Food Station Tjipinang Jaya, Perumda Dharma Jaya, dan Perumda Pasar Jaya juga terus dilaksanakan setiap hari.
"Pemprov DKI Jakarta juga melakukan komunikasi efektif kepada masyarakat agar berbelanja secara bijak guna menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di pasaran menjelang Idul Fitri," pungkasnya.(Asp)
Baca juga:
Mendag Pastikan Harga Bahan Pokok di Kudus Stabil Jelang Lebaran 2026