MerahPutih.com - Organisasi Kesehatan Dunia, World Health Organization (WHO), melaporkan adanya kasus hantavirus yang terjadi di atas kapal pesiar MV Hondius yang tengah berlayar dari Argentina menuju Tanjung Verde di Samudra Atlantik.
Dalam laporan tersebut, WHO mencatat satu kasus terkonfirmasi dan lima kasus dugaan. Salah satu pasien, seorang warga negara Inggris berusia 69 tahun, saat ini menjalani perawatan intensif di Johannesburg, Afrika Selatan. Seperti dilansir BBC, pejabat setempat menyatakan bahwa pasien tersebut telah terinfeksi virus hantavirus.
Kasus ini menjadi sorotan setelah tiga orang penumpang dilaporkan meninggal dunia. Operator kapal MV Hondius, Oceanwide Expeditions, mengonfirmasi bahwa korban meninggal terdiri dari pasangan suami istri asal Belanda serta seorang warga negara Jerman.
Masih menurut laporan BBC, infeksi hantavirus juga telah dikonfirmasi pada perempuan asal Belanda yang meninggal dunia. Sementara itu, penyebab kematian penumpang lainnya masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut.
Baca juga:
3 Tewas dalam Pelayaran Kapal Pesiar Atlantik, Diduga Wabah Hantavirus
Cara Penularan Hantavirus
Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa virus hanta merupakan penyakit zoonosis yang umumnya ditularkan melalui paparan partikel dari hewan pengerat, terutama tikus.
“Hanta virus pulmonary syndrom ini adalah penyakit zoonosis dari keluarga virus hantavirus. Cara penularan utamanya itu inhalasi aerosol, jadi terhirup dari debu urin yang mengering, feses tikus ataupun air liur tikus yang sakit itu,” kata Dicky dilansir Antara, Rabu (6/5).
Ia menjelaskan, penularan juga dapat terjadi melalui kontak dengan permukaan yang terkontaminasi urin atau kotoran tikus. Namun, tidak semua jenis virus hantavirus dapat menular antar manusia.
Dalam kasus tertentu, seperti strain virus Andes, penularan terbatas antar manusia bisa terjadi melalui kontak dekat.
Baca juga:
Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Kasus Kedua Terkonfirmasi setelah 3 Meninggal Dunia
Gejala hingga Risiko Kematian
Dicky memaparkan bahwa infeksi hantavirus memiliki fase awal berupa gejala umum seperti demam, nyeri otot, dan kelelahan. Namun, kondisi dapat berkembang cepat menjadi serius.
Pada fase kritis, penderita dapat mengalami kerusakan pembuluh darah di paru-paru yang memicu kebocoran cairan hingga menyebabkan edema dan gagal napas akut.
“Biasanya kematian bisa sampai 40 persen dengan mekanisme utama adanya vascular leakage syndrome, sehingga paru terisi cairan dan ini terjadi hipoksia berat,” kata Dicky.
Ia menambahkan, kondisi pasien dapat memburuk hanya dalam hitungan hari, sehingga deteksi dini menjadi faktor krusial untuk meningkatkan peluang keselamatan.
Baca juga:
Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, WHO Sebut Risiko bagi Publik Rendah
Belum Ada Obat Spesifik
Hingga saat ini, belum tersedia terapi antivirus khusus untuk menangani hantavirus. Penanganan yang dilakukan bersifat suportif, seperti pemberian oksigen melalui ventilator serta pengelolaan cairan tubuh secara ketat.
Meski demikian, Dicky menegaskan bahwa potensi hantavirus menjadi pandemi global sangat kecil karena pola penularannya yang tidak dominan antar manusia.
Masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan, terutama di lingkungan dengan risiko tinggi seperti kapal laut atau ruangan tertutup dengan ventilasi terbatas.
Langkah pencegahan seperti menghindari paparan kotoran tikus serta menjaga sanitasi lingkungan menjadi kunci untuk menekan risiko penularan virus ini. (*)