BENCANA alam tak bisa ditebak kapan terjadinya. Seperti halnya bencana tsunami yang menerjang Selat Sunda, Sabtu (23/12).
Korban jiwa dan materi sudah pasti terjadi akibat bencana tersebut. Namun ternyata, dampak bencana tsunami Selat Sunda bisa meluas hingga ke masyarakat di berbagai daerah. Tak hanya dalam hal fisik, tapi juga kesehatan mental.
1. Keadaan lingkungan pengaruhi kesehatan
Kesehatan kamu memang enggak hanya ditentukan faktor nutrisi. Ada faktor kondisi lingkungan yang juga berpengaruh.
Seperti dilansir Hellosehat, American Psychological Association menyebut perubahan iklim ekstrem yang terjadi belakangan ini secara merata di seluruh belahan dunia mengakibatkan orang-orang lebih rentan stres.
2. Perubahan cuaca terkait dengan suasana hati
Tak hanya itu, sudah banyak penelitian di mancanegara yang berhasil mengaitkan hubungan antara perubahan cuaca dan kestabilan suasana hati. Suhu dan tekanan udara, kecepatan angin, terik sinar matahari, curah hujan, serta lama jalannya hari menjadi beberapa faktor lingkungan yang tanpa disadari ikut 'mengatur' suasana hati kamu.
Pakar kesehatan berpendapat bahwa hal itu berkaitan dengan reaksi psikologis seseorang. Sebagai contoh, cuaca panas yang terbukti bikin kamu gampang emosi. Hal itu disebabkan cuaca yang terlalu panas menyebabkan denyut jantung meningkat. Produksi hormon stres pun meningkat.
Akibatnya, muncullah reaksi metabolik untuk mengaktifkan respons melawan atau kabur. Reaksi itu membuat seseorang jadi lebih agresif demi berusaha melawan sensasi tidak nyaman tersebut.
Norman B Anderson, PhD, pendiri American Psychological Association, mengatakan dampak perubahan iklim ini juga akan sangat terasa dalam aspek kehidupan sehari-hari. Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam laman Science, peneliti melaporkan saat suhu meningkat drastis, frekuensi kasus kriminalitas terhadap orang lain meningkat sebesar 4% dan konflik kekerasan antarkelompok, seperti penjarahan dan tawuran, melonjak hingga 14%.
3. Galau dan depresi muncul di musim hujan
Tidak seperti saat cuaca panas, saat cuaca dingin atau musim hujan, tingkat emosi pun berubah. Karena hanya ada sedikit sinar matahari dan suhu lingkungan turun drastis, kadar serotonin dalam tubuh kamu juga akan turun.
Saat kadar serotonin menurun, kamu akan lebih mudah merasa galau dan murung. Selain itu, cuaca yang serbalembap membuat tubuh kamu cepat lemas dan menurunkan konsentrasi. Ujungnya, hal itu bikin kamu mager atau malas gerak.
Pada orang-orang tertentu yang berisiko depresi, musim hujan berkepanjangan bisa memicu gejala seasonal affective disorder (SAD) atau gangguan suasana hati musiman. SAD adalah jenis depresi ringan yang terkait dengan perubahan musim.
4. Bencana seperti tsunami bangkitkan trauma
Selain mengubah mood, perubahan iklim yang ekstrem belakangan juga memicu berbagai bencana alam.
Berita bencana alam, seperti banjir bandang, badai, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, hingga bahkan kekeringan membuat masyarakat jadi gampang panik dan cemas karena takut mengalaminya. Beberapa bencana alam juga mengharuskan beberapa orang untuk pindah rumah demi menghindari risiko bahaya.
Kecemasan, kepanikan, dan ketakutan yang terus menghantui diri lama-kelamaan dapat mengganggu kestabilan psikologis seseorang. Hal itu amat mungkin memicu munculnya gejala penyakit kejiwaan, seperti depresi atau gangguan kecemasan (ansietas).
Sementara itu, bagi para penyintas, bencana alam yang mereka lalui dapat menyebabkan stres pascatrauma alias PTSD. Hal itu disebabkan kondisi yang memakas mereka bertahan hidup di situasi ekstrem, misalnya tinggal bersama ratusan orang lainnya di tempat evakuasi, terpisah dari sanak saudara, kelaparan dan kedinginan, hingga bahkan karena mengidap penyakit terkait bencana. Belum lagi ditambah trauma fisik dan kehilangan orang-orang terdekat yang juga mesti mereka hadapi.
Sejumlah studi bahkan melaporkan adanya peningkatan kejadian bunuh diri yang cukup drastis, baik selama musim dingin ekstrem dan musim panas ekstrem.
5. Jaga lingkungan dan saling menguatkan
Mengingat dampak perubahan iklim yang sedemikian seram, sudah saatnya nih kamu ikut ambil bagaian dalam mencegahnya. Ada berbagai hal kecil yang bisa kamu lakukan. Contohnya, tidak buang sampah sembarangan di selokan atau sungai, tidak membakar sampah di pekarangan, dan mengurangi pemakaian kendaraan bermotor yang polusinya bisa merusak lingkungan.
Selain itu, dosen psikologi dari College of Wooster, Susan Clayton, PhD, bersama seorang dosen ilmu lingkungan Christie Manning, PhD, serta peneliti asal Amerika, Caroline Hodge, menyarankan agar kamu dan masyarakat sekitar lebih kompak dan tangguh demi memperkuat kerja sama untuk bahu-membahu menanggulangi risiko masalah mental akibat dampak perubahan iklim.(*)