Tsunami Selat Sunda Bisa Picu Stres Masyarakat

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 25 Desember 2018
Tsunami Selat Sunda Bisa Picu Stres Masyarakat

Bencana alam, seperti tsunami di Selat Sunda, bisa memicu stres masyarakat. (foto: pixabay/rolandmey)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

BENCANA alam tak bisa ditebak kapan terjadinya. Seperti halnya bencana tsunami yang menerjang Selat Sunda, Sabtu (23/12).

Korban jiwa dan materi sudah pasti terjadi akibat bencana tersebut. Namun ternyata, dampak bencana tsunami Selat Sunda bisa meluas hingga ke masyarakat di berbagai daerah. Tak hanya dalam hal fisik, tapi juga kesehatan mental.

1. Keadaan lingkungan pengaruhi kesehatan

forest
Keadaan lingkungan amat memengaruhi kesehatan manusia. (foto: pixabay/skitterphoto)


Kesehatan kamu memang enggak hanya ditentukan faktor nutrisi. Ada faktor kondisi lingkungan yang juga berpengaruh.

Seperti dilansir Hellosehat, American Psychological Association menyebut perubahan iklim ekstrem yang terjadi belakangan ini secara merata di seluruh belahan dunia mengakibatkan orang-orang lebih rentan stres.

2. Perubahan cuaca terkait dengan suasana hati

sunset
Di kala musim panas, emosi jadi meledak-ledak. (foto: pixabay/pixel2103)


Tak hanya itu, sudah banyak penelitian di mancanegara yang berhasil mengaitkan hubungan antara perubahan cuaca dan kestabilan suasana hati. Suhu dan tekanan udara, kecepatan angin, terik sinar matahari, curah hujan, serta lama jalannya hari menjadi beberapa faktor lingkungan yang tanpa disadari ikut 'mengatur' suasana hati kamu.

Pakar kesehatan berpendapat bahwa hal itu berkaitan dengan reaksi psikologis seseorang. Sebagai contoh, cuaca panas yang terbukti bikin kamu gampang emosi. Hal itu disebabkan cuaca yang terlalu panas menyebabkan denyut jantung meningkat. Produksi hormon stres pun meningkat.

Akibatnya, muncullah reaksi metabolik untuk mengaktifkan respons melawan atau kabur. Reaksi itu membuat seseorang jadi lebih agresif demi berusaha melawan sensasi tidak nyaman tersebut.

Norman B Anderson, PhD, pendiri American Psychological Association, mengatakan dampak perubahan iklim ini juga akan sangat terasa dalam aspek kehidupan sehari-hari. Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam laman Science, peneliti melaporkan saat suhu meningkat drastis, frekuensi kasus kriminalitas terhadap orang lain meningkat sebesar 4% dan konflik kekerasan antarkelompok, seperti penjarahan dan tawuran, melonjak hingga 14%.

Bagikan
Ditulis Oleh

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Bagikan