Tidak seperti saat cuaca panas, saat cuaca dingin atau musim hujan, tingkat emosi pun berubah. Karena hanya ada sedikit sinar matahari dan suhu lingkungan turun drastis, kadar serotonin dalam tubuh kamu juga akan turun.
Saat kadar serotonin menurun, kamu akan lebih mudah merasa galau dan murung. Selain itu, cuaca yang serbalembap membuat tubuh kamu cepat lemas dan menurunkan konsentrasi. Ujungnya, hal itu bikin kamu mager atau malas gerak.
Pada orang-orang tertentu yang berisiko depresi, musim hujan berkepanjangan bisa memicu gejala seasonal affective disorder (SAD) atau gangguan suasana hati musiman. SAD adalah jenis depresi ringan yang terkait dengan perubahan musim.
Selain mengubah mood, perubahan iklim yang ekstrem belakangan juga memicu berbagai bencana alam.
Berita bencana alam, seperti banjir bandang, badai, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, hingga bahkan kekeringan membuat masyarakat jadi gampang panik dan cemas karena takut mengalaminya. Beberapa bencana alam juga mengharuskan beberapa orang untuk pindah rumah demi menghindari risiko bahaya.
Kecemasan, kepanikan, dan ketakutan yang terus menghantui diri lama-kelamaan dapat mengganggu kestabilan psikologis seseorang. Hal itu amat mungkin memicu munculnya gejala penyakit kejiwaan, seperti depresi atau gangguan kecemasan (ansietas).
Sementara itu, bagi para penyintas, bencana alam yang mereka lalui dapat menyebabkan stres pascatrauma alias PTSD. Hal itu disebabkan kondisi yang memakas mereka bertahan hidup di situasi ekstrem, misalnya tinggal bersama ratusan orang lainnya di tempat evakuasi, terpisah dari sanak saudara, kelaparan dan kedinginan, hingga bahkan karena mengidap penyakit terkait bencana. Belum lagi ditambah trauma fisik dan kehilangan orang-orang terdekat yang juga mesti mereka hadapi.
Sejumlah studi bahkan melaporkan adanya peningkatan kejadian bunuh diri yang cukup drastis, baik selama musim dingin ekstrem dan musim panas ekstrem.
Mengingat dampak perubahan iklim yang sedemikian seram, sudah saatnya nih kamu ikut ambil bagaian dalam mencegahnya. Ada berbagai hal kecil yang bisa kamu lakukan. Contohnya, tidak buang sampah sembarangan di selokan atau sungai, tidak membakar sampah di pekarangan, dan mengurangi pemakaian kendaraan bermotor yang polusinya bisa merusak lingkungan.
Selain itu, dosen psikologi dari College of Wooster, Susan Clayton, PhD, bersama seorang dosen ilmu lingkungan Christie Manning, PhD, serta peneliti asal Amerika, Caroline Hodge, menyarankan agar kamu dan masyarakat sekitar lebih kompak dan tangguh demi memperkuat kerja sama untuk bahu-membahu menanggulangi risiko masalah mental akibat dampak perubahan iklim.(*)