Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Try Sutrisno Dari Penumpasan PRRI Tahun 1957, Ajudan, Panglima ABRI ke Wakil Presiden Ke-6

Alwan Ridha Ramdani - Senin, 02 Maret 2026

MerahPutih.com - Wakil Presiden (Wapres) Ke-6 RI Try Sutrisno meninggal di Rumah Sakit Pusat TNI Angkatan Darat (RSPAD), Jakarta, pada Senin (2/4) pagi.

Try Sutrisno lahir di Surabaya pada 15 November 1935, Try kecil sangat tertarik pada dunia militer sampai akirnya mengantarkannya meniti karier panjang di lingkungan TNI Angkatan Darat dengan penuh dedikasi dan konsisten.

Try berhasil menapaki berbagai posisi strategis hingga mencapai puncak kepemimpinan militer dan politik nasional. Karirya dimulai ketika ia terlibat dalam penumpasan pemberontakan PRRI pada tahun 1957.

Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk kepemimpinannya di kemudian hari.

Baca juga:

Rumah Duka Wapres Ke-6 Try Sutrisno di Jalan Purwakarta Nomor 6 Menteng Jakpus

Seiring waktu, ia dipercaya menduduki sejumlah jabatan penting di tubuh TNI AD. Pada tahun 1978, ia menjabat sebagai kepala staf Kodam XVI/Udayana. Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi panglima Kodam IV/Sriwijaya.

Pada 1985, ia diangkat sebagai wakil kepala staf Angkatan Darat, lalu menjabat sebagai kepala staf Angkatan Darat pada periode 1986 hingga 1988.

Saat menjabat sebagai KSAD, ia menggagas pembentukan Badan Tabungan Wajib Perumahan TNI AD sebagai bentuk perhatian terhadap kesejahteraan prajurit.

Puncak karier militer Try Sutrisno tercapai ketika ia menjabat sebagai panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada periode 1988 hingga 1993.

Dalam masa kepemimpinannya, ia menghadapi berbagai dinamika keamanan nasional. Salah satu isu yang menonjol adalah penanganan Gerakan Pengacau Keamanan di Aceh pada tahun 1989. Pada masa tersebut, stabilitas keamanan menjadi prioritas utama pemerintah.

Pengalaman panjang di bidang militer inilah yang semakin menguatkan posisinya sebagai tokoh strategis di lingkaran pemerintahan saat itu.

Pada tahun 1993, Try Sutrisno diangkat menjadi wakil presiden Indonesia keenam mendampingi Presiden Soeharto. Jabatan tersebut diembannya hingga 1998.

Sebelum menduduki kursi wakil presiden, ia juga memiliki pengalaman sebagai ajudan Presiden Soeharto selama empat tahun.

Kedekatan dan pengalaman kenegaraan tersebut memberinya pemahaman mendalam mengenai tata kelola pemerintahan.

Meski sempat muncul anggapan bahwa posisi wakil presiden hanya sebagai pelengkap, pengalaman dan latar belakang Try Sutrisno menjadikannya figur yang tetap memiliki pengaruh dalam pemerintahan.

Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai wakil presiden, Try Sutrisno tetap aktif dalam berbagai organisasi.

Ia terpilih sebagai ketua Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri) pada periode 1998 hingga 2003. Dalam perannya tersebut, ia berhasil menyatukan berbagai unsur purnawirawan dari beragam matra dalam satu wadah organisasi.

Kemampuannya dalam membangun soliditas organisasi menjadi salah satu ciri kepemimpinannya. Selain itu, dipercaya sebagai sesepuh partai di Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia.

Di balik perjalanan kariernya yang panjang, Try Sutrisno dikenal sebagai pribadi yang menjunjung tinggi nilai keluarga.

Ia menikah dengan Tuti Sutiawati dan dikaruniai tujuh orang anak. Dua diantaranya sukses sebagai perwira tinggi Polri dan TNI yakni Irjen (Purn) Firman Santyabudi dan Letjen Kunto Arief Wibowo.

Selamat Jalan Negarawan, Pengabdianmu Abadi

Baca Artikel Asli