MerahPutih.com - TNI menetapkan status siaga 1 pasca konflik yang terjadi di Timur Tengah mulai memanas. Di mata DPR, penetapan status siaga 1 oleh Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto merupakan hal wajar sebagai langkah antisipasi dari meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.
"Pemerintah Indonesia mulai memperlakukan dinamika konflik global sebagai faktor yang dapat berdampak langsung terhadap keamanan nasional," kata Anggota Komisi I DPR RI Amelia Anggraini, dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (8/3).
Baca juga:
Efek Rambatan Konflik
Menurutnya, konflik Timur Tengah sering memiliki efek rambatan, baik terhadap stabilitas ekonomi global, jalur energi, maupun potensi dinamika keamanan domestik. "Karena itu, kesiapsiagaan militer menjadi langkah preventif yang logis," kata dia.
Anggota Dewan dari Fraksi Partai NasDem ini menegaskan peningkatan status siaga tidak serta-merta membuat Indonesia berada dalam kondisi darurat keamanan.
Legislator asal Dapil Jawa Tengah (Jateng) VII itu menjelaskan siaga 1 dalam konteks ini lebih tepat dipahami sebagai kesiapan negara merespons berbagai skenario krisis secara cepat dan terkoordinasi.
Baca juga:
Proaktif Membaca Geopolitik
Amelia menilai langkah panglima TNI ini juga menunjukkan Indonesia berusaha bersikap proaktif dalam membaca dinamika geopolitik global.
Bagi Amelia, negara yang memiliki sistem kesiapsiagaan baik dalam situasi konflik eskalatif akan lebih mampu melindungi kepentingan nasional dan keselamatan warganya.
"Dalam praktiknya, status siaga seperti ini sering diterapkan sebagai bagian dari langkah kehati-hatian negara ketika situasi geopolitik global meningkat," tuturnya.
"Artinya, sistem keamanan nasional bekerja secara aktif untuk menjaga stabilitas dan keselamatan masyarakat," tandasnya. (knu)

