MerahPutih.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang resmi meningkatkan status penanggulangan kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin dari siaga merah menjadi tanggap darurat.
Langkah ini diambil setelah api terus meluas dan asap pekat mulai mengancam kesehatan warga sekitar. Tercatat area kebakaran TPA Jatiwaringin telah meluas hingga 15 hektar lebih.
Baca juga:
Kebakaran TPA Jatiwaringin Mauk Meluas Hingga 15 Hektare, Ratusan Warga Terkena ISPA
Status Naik Jadi Darurat
Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid menegaskan keputusan ini diambil setelah rapat evaluasi bersama BPBD, DLHK, dan instansi terkait.
Kita tetapkan bahwa ini sudah masuk kategori darurat. Karena ini menyangkut masalah kesehatan masyarakat, menyangkut juga risiko daripada api yang terus menjalar begitu kita tetapkan,
kata Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid, Rabu (1/7).
Surat keputusan bupati telah diterbitkan sebagai dasar peningkatan status kebencanaan. Pertimbangan utama adalah luas kebakaran yang terus bertambah, lonjakan titik api, serta kondisi musim kemarau yang memperburuk situasi.
Baca juga:
Status Merah Kebakaran TPA Jatiwaringin, Pemkab Tangerang Minta Bantuan Helikopter BNPB
BNPB Kerahkan Helikopter Water Bombing
Untuk mempercepat pemadaman, BNPB mengerahkan dua helikopter pengebom air (water bombing) dan menyiapkan opsi operasi modifikasi cuaca.
Dilansir Antara, sebanyak 10 unit mobil pemadam kebakaran dari berbagai instansi dikerahkan untuk menahan laju penyebaran api di darat.
Meski demikian, api masih belum dapat dikendalikan hingga saat ini. Material sampah di kawasan TPA yang mudah terbakar serta tumpukan dengan ketinggian tertentu membuat api sulit dijangkau.
Kondisi diperparah dengan cuaca panas dan embusan angin kencang, sehingga asap pekat menyebar dengan radius yang sangat luas.
Baca juga:
Asap Kebakaran TPA Jatiwaringin Belum Ganggu Bandara Soetta, Jadwal Penerbangan Masih Aman
Kepala BNPB Suharyanto telah menginstruksikan jajaran segera melakukan asesmen lanjutan, berkoordinasi dengan pemerintah daerah, dan memperkuat upaya pemadaman.
Material yang terbakar didominasi sampah dan bahan mudah terbakar, titik api berada di tumpukan sampah dengan ketinggian tertentu sehingga sulit dijangkau. Kondisi diperparah dengan angin kencang dan cuaca panas,
Kepala BNPB Suharyanto.
(*)