MerahPutih.Com - Para rektor dari sejumlah perguruan tinggi di Jawa Timur baik dari PTN maupun PTS menggelar pertemuan khusus di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. Pertemuan yang digelar Sabtu (6/1) itu bertujuan menyikapi kondisi sosial politik jelang Pilgub Jatim.
Rektor yang hadir, antara lain Rektor Universitas Jember Drs Moh Hasan, Rektor Universitas Brawijaya Malang Prof Mohammad Bisri, Rektor ITS Prof Joni Hermana, Rektor Uinsa Prof Abd A'la, Rektor Unesa Prof Warsono, Rektor Unair Prof Muhammad Nasih, dan Rektor Universitas Negeri Malang Prof Budi Soetjipto.
Selain itu, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Prof Abdul Haris, Rektor Universitas Trunojoyo Madura Dr EC Muhammad Syarif, Rektor UPN Prof Teguh Soedarto, Rektor Unusa Prof Achmad Jazidie, dan Rektor Universitas Darul Ulum Jombang Dr Mujib Musta'in.
"Ini adalah bentuk kepedulian dari pimpinan perguruan tinggi di Jatim untuk terus menerus mengawal, merawat kesejukan yang ada di Jatim. Jangan sampai yang sudah sejuk, sudah nyaman gara-gara ada pilkada saling tuding menuding, menjelekkan, akhirnya konflik di antara kita sendiri," kata Penasihat Peguyuban Rektor Jatim Prof Muhammad Nuh sebagaimana dilansir Antara.
Ia menjelaskan para rektor tidak ingin dengan adanya pilkada, Jatim yang sudah sejuk, damai, dan nyaman berubah menjadi sebaliknya.
Hal itu karena mereka memahami betul bahwa selalu saja ada potensi untuk dibenturkan dan membenturkan diri. Oleh karena itu, para rektor jauh hari menyampaikan sikapnya.
"Kita ingin melakukan edukasi politik. Esensi dari itu adalah perbedaan. Perbedaan harus dihargai sehingga harus belajar menghargai itu. Mau pilih A, monggo. Mau pilih B, monggo. Yang penting punya alasan," kata Menteri Pendidikan Nasional era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu.
Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam (Yaris) itu, menegaskan bahwa pertemuan tersebut dilakukan bukan karena dinamika yang terjadi dalam proses pemilihan gubernur saat ini. Namun, akan dilakukan secara berkelanjutan.
Nuh menjelaskan dari pertemuan itu, pihaknya ingin membangun pendewasaan dalam berpolitik sehingga ikatan emosional diimbangi berpikir rasional.
"Pimpinan perguruan tinggi menginginkan di samping proses elektoral nyaman, sejuk, tapi ada dinamika. Pascapemilihan juga akan dikawal dengan cara memberikan pandangan-pandangan, program apa saja yang harus dijadikan kebijakan di Jatim untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," pungkas Muhammad Nuh.(*)