MerahPutih.com - Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) mengatakan Pembangkit Listrik Tenaga nuklir (PLTN) Bushehr atau BNPP dihantam serangan gabungan AS-Israel dan menewaskan seorang karyawan dalam insiden keempat sejak konflik berlangsung pada 28 Februari.
Teheran juga melaporkan sejumlah serangan sebelumnya terhadap situs nuklir, termasuk Bushehr, Natanz, dan fasilitas lainnya, dan menyalahkan AS dan Israel atas kejadian tersebut.
Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi memperingatkan bahwa aktivitas militer di sekitarnya dapat menyebabkan kecelakaan radiasi serius.
"Sekali lagi, Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi memperingatkan bahwa aktivitas militer yang berkelanjutan di dekat BNPP - pembangkit listrik yang beroperasi dengan sejumlah besar bahan bakar nuklir - dapat menyebabkan kecelakaan radiologis parah dengan konsekuensi berbahaya bagi manusia dan lingkungan di Iran dan sekitarnya," kata IAEA melalui pernyataan yang diunggah di X.
Baca juga:
Gencatan Senjata Hanya Cara AS Siapkan Kembali Kekuatan, Jadi Alasan Iran Menolaknya
Dirjen mendesak agar serangan terhadap PLTN dan sekitarnya itu segera dihentikan, menyatakan, serangan tersebut menimbulkan ancaman signifikan terhadap keselamatan nuklir.
Uni Eropa menegaskan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur energi Iran merupakan tindakan ilegal dan tidak dapat diterima.
“Setelah lima minggu perang di Timur Tengah, jelas bahwa hanya solusi diplomatik yang dapat menyelesaikan akar masalahnya. Setiap serangan terhadap infrastruktur sipil, khususnya fasilitas energi, adalah ilegal dan tidak dapat diterima… Populasi sipil Iran adalah korban utama dari rezim Iran,” ujar Presiden Dewan Uni Eropa Antonio Costa melalui platform X.
Eskalasi konflik di Timur Tengah tidak akan membawa perdamaian. Uni Eropa mendesak Iran segera menghentikan serangan terhadap negara-negara di kawasan serta mengizinkan kembali kebebasan penuh navigasi di Selat Hormuz.