MERAHPUTIH.COM - MELEPASKAN ketergantungan dan bergerak bebas. Dua hal itu mungkin menjadi cara paling sederhana untuk menggambarkan Tyra Kleen, seniman perempuan Swedia yang memilih jalan hidupnya sendiri, bahkan ketika pilihan itu berarti meninggalkan pertunangan demi terus berkarya.
Karin Strom Lehander, mahasiswa doktoral dalam bidang sejarah seni di Universitas Abo Akademi, melihat Kleen sebagai perempuan yang sangat serius menjalani profesi sebagai seniman. Kleen tumbuh sebagai perempuan di dunia seni yang kala itu didominasi pria. Ia menunjukan sifat tahan bantingnya untuk selalu berdiri di atas kaki sendiri.
"Pada saat itu, ia serius menjalani profesi sebagai seniman. Tumbuh sebagai perempuan di dunia seni yang kala itu hampir di dominasi pria, Kleen menunjukan sifat tahan bantingnya untuk selalu berdiri di atas kaki sendiri. Pada saat itu, perempuan tidak bisa memilih, bahkan untuk masuk ke sekolah seni. Jadi sangat sulit menjadi perempuan seniman untuk bekerja masa itu. Kamu harus memiliki kemampuan dan stamina untuk menjadi seorang artis. Jadi Tyra Kleen sangat keras kepala dengan cara yang baik," kata Lehander saat ditemui di pameran Tyra Klee: A Journey Through Java and Bali 1919-1921, di Upfinity, Selasa (8/9).
Baca juga:
Keberanian Kleen menjelajah tempat jauh rupanya tidak muncul begitu saja. Sejak kecil, ia telah terbiasa berpindah dari satu kota ke kota lain mengikuti tugas ayahnya sebagai diplomat. Dalam buku Tyra Kleen Her Life and Rediscovered disebutkan Kleen menemani ayahnya saat di tempatkan di luar negeri, misalnya Saint Petersburg, Wina, hingga Wiesbaden. Hal itulah yang membuatnya berpikir bahwa dia merupakan 'pengembara sejak lahir'.
Pada 1890, Kakek Tyra meninggal dunia. Sosok yang amat disayanginya. Pada tahun yang sama, Kleen berusia 16 tahun, dikirim Sekolah Seni Eksklusif untuk perempuan Dresden, tapi karena merasa tidak cocok dengan lingkungan di sana, dia kerap berkonflik dengan guru dan temannya.
Pada 1892, Kleen berusia 18 tahun, dari Dresden, ia pindah ke Karlsruhe. Di masa ini, Kleen selalu membantu pekerjaan sang ayah sehingga dia banyak tahu soal hukum internasional, dia ditugasi untuk menulis salinan manuskrip dan membaca bukti cetak. Kleen tumbuh menjadi sosok yang lebih dewasa. Ia mulai perjalanan yang lebih jauh untuk belajar. Dia mendatangi Prancis pada 1894- 1895. Di sana dia mengenyam pendidikan di sekolah seni ternama Academie Vitti, Academie Colarossie, Academie Delecluse.
Selama di Paris, Kleen makin banyak bersentuhan dengan symbolism art--sesuatu yang masih kurang familier di Swedia--karena saat di Jerman, dia sudah merasa tertarik dengan Symbolism. Sebagaimana yang dicatat Kleen dalam buku hariannya, dia kagum pada hasil karya seniman Max Pietschmann Fischen der Polyphemus, yang ia dianggap sebagai karya dengan pengaruh Arnold Bocklin, salah seorang pelopor utama Symbolism. Ternyata hal tersebut benar, Pietschmann juga terinspirasi oleh Bocklin Polyphemus si Cyclops.
Selama Kleen menatap di Jerman, sejumlah gaya seniman Symbolist Bocklin, Pietschmann, Max Klinger, dan Von Stuck memberi pengaruh terhadap karya Kleen.
Di Paris, Kleen mulai mencari sekolah dari Academie Julian, tapi batal karena alasan tertentu, lalu ke Acadie Delecluse, sebulan kemudian juga Academie Colarossi. Tak berselang lama, Kleen kembali tertarik masuk ke Academie Julian. Selama di Paris, Kleen sangat produksi diikuti dengan keterampilan yang lebih baik.
Selain belajar dan berkarya, di Paris juga Kleen menemukan hubungan romantis. Dia menjalin hubungan dengan pelukis Max Bohm. Kleen dilamar Bohm pada 10 Oktober 1896. Namun, Kleen mengambil keputusan yang tidak biasa masa itu, dia membatalkan pertunangan pada 7 Januari 1897. Kleen berpikir bahwa pernikahan akan merenggut kebebasannya, dan kreativitasnya.
Mimpi Menjadi Karya
Kleen ialah seniman yang memfokuskan pada objek, warna, bentuk, atau figur sebagai cara mengekspresikan pesan kebatinan serta emosi yang dia rasakan. Oleh karena itu, dia sangat berbeda dengan perempuan seniman pada masa itu, alih-alih hanya melukis bunga Stilia Beno, Kleen dengan caranya mengekspos hal gelap dan ketakutan yang tak umum dibagikan dalam wadah lukisan.
"Kleen memiliki gaya yang berbeda jika dibandingkan dengan artis-artis Swedis yang semua mengenali satu sama lain dan menulis tentang hal yang sama. Kleen sangat terpengaruh dengan Symbolism, dia tidak seperti artis-artis lainnya di Swedia" katanya.
Menurut Lehander, salah satu cara melihat symbolism itu termanifestasi dalam karya Kleen yakni bentuk malaikat kematian yang ditemukan Kleen di mimpinya sebagai sumber inspirasi di atas kanvas lukisaannya, dengan litografi yang mengukuhkan ciri khasnya sebagai seniman di abad 19.
"Dia menuliskan dalam buku hariannya, mengungkapkan perasaan, mimpi-mimpi. Lalu memindahkannya dalam wadah lukisannya. Makanya, lukisan Kleen dianggap tidak bagus karena terlalu menakutkan seperti mimpi buruk. Dia membuat litografi symbolis. Sebuah litografi yang menakutkan," kata Karin.
Kacamata Tyra Kleen Melihat Bali dan Jawa
Perjalanan Kleen sampai ke Indonesia dimulai dari rasa terpananya dengan Mata Hari, penari oriental yang menebarkan aura mistis.
Kleen datang ke Indonesia pada 1919. Sebagai wisatawan Swedia pertama yang ke Indonesia, Kleen menuju Jakarta sempat melakukan beberapa pameran. Lalu bertolak ke Yogyakarta sebagai destinasi awalnya. Namun, perjalanannya di Yogyakarta tak berkesan, ia kehilangan kopernya dan diperlakukan kasar oleh saorang pemandu wisata saat berkunjung ke Prambanan.
Ia lalu bertolak ke Solo. Ia mendatangi rekannya, Beata Van Helsdingen Schoevers, seorang jurnalis yang suaminya ialah penjabat senior administrasi di Solo. Dengan hak istimewa itu, mereka meminta kepada Pangeran Solo, Susuhunan Paku Buwana X, untuk memberikan akses agar Kleen masuk ke istana mendokumentasikan tarian ritual istana Solo.
Walaupun perizinannya tidak mudah, akhirnya proyek studi tersebut mereka kerjakan. Namun sempat terhenti, lantaran rekan Kleen meninggal mendadak. Barulah di 1925 terlahirlah Het Serimpit Boek.
Dalam buku ini, berisikan gambar lukisan Kleen yang menjadikan penari wanita sebagai objek gambarnya. Tidak ada alasan khusus di balik penyorotan ini melainkan sebagai motif dan keindahan itu sendiri.
Hal yang paling menarik dari koleksi lukisan di Het Serimpit Boek yakni Bedhaya Ketawang. Tarian ini langka ditunjukan, tapi berhasil didokumentasikan lewat perspektif Kleen dengan arah visual yang tidak umum. Detail tubuh menjelaskan perpindahan gerakan penari serta penampakan kostum adat jawanya yang detail.
Lalu ada Mudras, sebuah buku yang menangkap detail tangan seorang pendeta Hindu yang berdoa. Kleen menangkap lewat lensa kamera lalu menuangkannya dalam torehan pensil hitam yang presisi, detail anatomi tangan saat melakukan gerakan doa.
Selama dua tahun di Indonesia, Kleen memiliki sejumlah karya lainnya seperti Vajang, Ni Si Pleng: en Historia om Svarta bartn berattad och ri tad for vita bard, Tempeldancer och mu sikinstrument pa bali.
Perjalanan Kleen di Jawa dan Bali pada 1919–1921 akhirnya meninggalkan lebih daripada sekadar catatan perjalanan. Melalui lukisan, fotografi, dan buku, ia merekam perjumpaannya dengan seni serta kehidupan spiritual di Indonesia.
Kini, lebih daripada seabad setelah perjalanan itu berlangsung, karya-karya tersebut kembali hadir di Indonesia dalam Tyra Kleen A Journey Through Java and Bali 1919-1921. Pameran ini sekaligus membuka kembali cerita tentang seorang perempuan yang pada masanya memilih kebebasan, seni, dan perjalanan sebagai bagian dari hidupnya.(tka)
Baca juga:
Putri Mahkota Swedia Victoria Terpikat Wastra NTB, Borong Kain Tenun dan Mutiara