Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Dunia

Selat Hormuz Memanas, Ratusan Tangker Terjebak Bikin Harga Minyak Terbang Tinggi

Wisnu Cipto - Senin, 02 Maret 2026

MerahPutih.com - Tiga kapal tanker berbendera Amerika Serikat dan Inggris di kawasan vital pelayaran dunia Selat Hormuz menjadi sasaran balasan Iran merespon serangan gabungan AS dan Iran.

Bahkan dikutip dari laporan platform pelacakan kapal Kpler, Senin (2/3), sedikitnya 150 kapal tanker kini tertahan dan memilih berlabuh di luar selat karena risiko keamanan tinggi serta biaya asuransi yang melonjak.

Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia praktis lumpuh. Imbas konflik Iran dengan AS dan Israel yang kian memanas ini langsung berdampak instans.

Baca juga:

Tangker di Selat Hormuz Jadi Target Serangan Balasan Iran, Kapal AS dan Inggris Terbakar

Lonjakan Harga di Pasar Asia

Pada perdagangan Senin pagi di pasar Asia, harga minyak mentah Brent melesat lebih dari 7 persen ke level US$78,25 per barel. Sementara minyak mentah WTI naik 7,3 persen ke angka US$71,93.

“Pasar saat ini memang belum panik, namun mereka terus mengamati apakah lalu lintas di Selat Hormuz bisa kembali normal dalam waktu dekat,” kata Saul Kavonic, Kepala Riset Energi di MST Research, dilansir Antara.

Analis juga memperingatkan harga minyak dunia bisa menembus US$100 per barel jika ketegangan di Selat Hormuz tak kunjung mereda.

Baca juga:

Pasokan Minyak Dari Timur Tengah Terganggu, Indonesia Bakal Pilih Impor Dari AS

Raksasa Pelayaran Maersk Pilih Rute Memutar

Presiden Automobile Association (AA), Edmund King, menegaskan kekacauan di Timur Tengah saat ini katalisator utama gangguan distribusi energi global. “Besarnya kenaikan harga sangat bergantung pada seberapa lama konflik ini berlangsung,” tandasnya.

Raksasa pelayaran dunia Maersk bahkan menghentikan seluruh pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb dan Terusan Suez, mengalihkan rute kapal memutar jauh melalui Tanjung Harapan, Afrika.

Kelompok negara penghasil minyak OPEC+, termasuk Arab Saudi dan Rusia, telah sepakat menambah produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk mengantisipasi langkanya peredaran minyak dunia. (*)

Baca Artikel Asli