Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Rupiah Hari Ini Makin Terpuruk, Bergerak Tembus Rp 17.900 per Dolar

Wisnu Cipto - Rabu, 03 Juni 2026

MerahPutih.com - Nilai tukar rupiah kembali melemah tajam hingga menembus Rp 17.900 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6/2026).

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai tren pelemahan rupiah belakangan ini bukan sekadar faktor musiman.

Baca juga:

Rupiah Melorot ke Rp17.859 per Dolar AS, IHSG Malah Meroket Pada Pembukaan Perdagangan Selasa 2 Juni 2026

Pasalnya, pelemahan terjadi meski Indonesia masih mencatat surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut. Namun, kualitas surplus yang menurun membuat rupiah kehilangan bantalan kuat untuk menjaga stabilitas.

“Pasar melihat tekanan rupiah sebagai kombinasi tekanan global dan domestik. Surplus perdagangan yang melemah membuat pasokan dolar dari ekspor tidak cukup untuk menyeimbangkan kebutuhan impor,” Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede

Surplus Perdagangan Menyusut

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan surplus perdagangan April 2026 hanya sebesar US$ 0,09 miliar, turun drastis dari US$ 3,32 miliar pada Maret.

Baca juga:

Rupiah Loyo Tembus Rp 17.800 Dianggap Tidak Masuk Akal, Menkeu Ogah Hitung Ulang APBN

Secara kumulatif, surplus Januari–April 2026 merosot dari US$ 11,07 miliar menjadi US$ 5,64 miliar. Kondisi ini membuat pasokan dolar dari perdagangan barang semakin tipis, sementara impor bahan baku, energi, dan barang modal terus meningkat.

“Rupiah melemah bukan karena defisit perdagangan, tetapi karena kualitas surplusnya sudah tidak lagi cukup kuat menjadi penyangga nilai tukar,” tutur Josua, dalam keterangan kepada media, dikutip Rabu (3/6).

Tekanan Global Masih Dominan

Ketidakpastian konflik AS–Iran, risiko pasokan energi di Selat Hormuz, serta harga minyak yang tetap tinggi mendorong permintaan dolar sebagai aset aman. Indeks dolar AS pun menguat tipis 0,01% ke level 99.227.

Baca juga:

Mata Uang Negara Tetangga Menguat, Ini Alasan Rupiah Terseok-Seok

Pergerakan mata uang Asia, termasuk rupiah, masih sangat sensitif terhadap perkembangan damai AS–Iran. Harga energi yang tinggi menekan negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.

“Impor minyak, LPG, dan biaya logistik membutuhkan dolar. Setiap kenaikan harga energi langsung menambah permintaan valas dan memperlemah rupiah,” Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede


Rupiah di Pasar Spot Hari Ini

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat melemah ke Rp 17.905 per dolar AS pada pukul 09.40 WIB. Selang beberapa menit, rupiah kembali anjlok 75 poin (0,42%) ke Rp 17.914 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah masih berlanjut hingga siang tadi, meski pemerintah dan Bank Indonesia berupaya menjaga stabilitas melalui intervensi pasar. (*)

Baca Artikel Asli