MerahPutih.com - Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskow, Senin (13/4), menyisakan momen simbolis yang menekankan nilai toleransi antarbangsa.
Saat bertemu, Prabowo sempat mengucapkan Selamat Paskah kepada Putin, yang langsung mendapat sambutan apresiasi tinggi dari orang nomor satu di Rusia itu.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan ucapan tersebut bukan sekadar basa-basi diplomatik, melainkan bentuk penghormatan terhadap tradisi keagamaan di Rusia.
Baca juga:
Presiden Prabowo Konsultasi Geopolitik ke Putin, Juga Tingkatkan Kerja Sama Energi
“Ucapan itu menunjukkan sikap saling menghormati, dan Presiden Putin merespons dengan apresiasi mendalam,” kata Teddy, dalam keterangannya dilansir Antara, Selasa (14/4).
Respon Apresiasi Presiden Putin
Seskab melanjutkan ucapan Selamat Paskah yang disampaikan Prabowo itu merupakan sesuatu yang sangat istimewa bagi Putin, mengingat Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.
"Presiden Putin menyambut baik dan sangat apresiasi kepada Presiden Prabowo dan sangat senang mendengar ucapan selamat Hari Suci Paskah karena terucap dari kepala negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia," tutur Teddy.
Baca juga:
Prabowo Mau ke Rusia Lagi Temui Putin, Lawatan Ketiga Sejak Jadi Presiden
Presiden Putin, lanjut Seskab, lalu menjelaskan Rusia juga menjunjung tinggi keberagaman dan toleransi antarumat beragama.
Berbekal semangat toleransi itu, berbagai perayaan keagamaan dihormati dan dirayakan bersama di Rusia sebagai bagian dari kehidupan berbangsa.
"Beliau menyampaikan bahwa negara Rusia adalah negara multikonvensional, yang menganut agama-agama, tetapi tetap merayakan semua hari raya agama," tandas Teddy.
Baca juga:
Prabowo Apresiasi Dukungan Rusia atas Masuknya Indonesia ke BRICS, Buka Banyak Peluang Kerja Sama
Simbol Persahabatan Indonesia-Rusia
Momen antara Prabowo dan Putin ini menjadi simbol kuat persahabatan Indonesia dan Rusia. Perbedaan latar belakang agama tidak menjadi penghalang, melainkan jembatan untuk mempererat hubungan dan saling pengertian antarbangsa.
Pertemuan bilateral berlangsung selama dua jam, dilanjutkan dengan pertemuan empat mata selama tiga jam, menandakan intensitas komunikasi kedua pemimpin. (*)