Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Presiden Prabowo Didesak Ubah Kebijakan Kerja Sama Ekonomi Dengan Amerika

Alwan Ridha Ramdani - Sabtu, 25 April 2026

MerahPutih.com - Dinamika global memperlihatkan kecenderungan negara-negara Eropa dan Kanada untuk mengambil jarak strategis serta memperluas kebijakan luar negeri secara independen.

Selain itu, poros kerja sama baru kini mulai terbentuk di antara kekuatan non-Barat, terutama antara China, Rusia, dan Iran yang mencakup sektor ekonomi, politik, hingga militer.

Ekonom mendorong pemerintah Indonesia melakukan penataan ulang hubungan ekonomi dengan Amerika Serikat guna memperkuat kemandirian strategi nasional di tengah sistem multipolar.

“Momentum ini perlu dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai negara berdaulat yang mampu menentukan arah kebijakan ekonominya sendiri,” kata Ekonom Senior Pusat Kajian Keuangan, Ekonomi, dan Pembangunan Universitas Binawan, Farouk Abdullah Alwyni dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu.

Baca juga:

Amerika Bersiap Rebut Kendali Selat Hormuz

Menurut Farouk, perubahan lanskap geoekonomi global saat ini ditandai dengan meningkatnya dorongan sejumlah pemimpin dunia untuk mengurangi ketergantungan terhadap Amerika Serikat (AS).

Pandangan ini, lanjut ia, secara faktual telah dijawab oleh Presiden RI Prabowo Subianto melalui rangkaian kunjungan diplomatik ke Jepang, Korea Selatan, Rusia, dan Prancis sepanjang April 2026 untuk mendiversifikasi mitra strategis.

Farouk menjelaskan, kemandirian strategis mulai disuarakan secara nyata oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong yang menyiapkan skenario “the world minus one”.

Langkah serupa juga terlihat di kawasan regional saat Menteri Perdagangan Malaysia Tengku Zafrul Aziz membatalkan sejumlah kesepakatan tarif dengan AS seiring putusan Mahkamah Agung negara tersebut yang menggugurkan kebijakan era Donald Trump.

Dengan kondisi saat ini, pemerintah Indonesia perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap hubungan perdagangan dengan AS.

Ia menyarankan pengurangan ketergantungan struktural terhadap kebijakan ekonomi AS yang dinilai fluktuatif dan unilateral.

Sebagai bentuk implementasi nyata dari penguatan kemitraan alternatif, Presiden Prabowo telah mengunjungi Moskow untuk membahas kerja sama energi serta memperkuat posisi Indonesia dalam kerja sama Selatan-Selatan.

Diplomasi ini dinilai strategis mengingat posisi Indonesia yang terus berupaya menjaga prinsip politik luar negeri bebas aktif tanpa terjebak dalam rivalitas kekuatan besar.

Farouk menegaskan bahwa langkah peninjauan kembali kesepakatan tarif dan pengkajian ulang kerja sama strategis bukan merupakan bentuk konfrontasi terhadap Amerika Serikat.

"Upaya tersebut merupakan refleksi untuk menjaga kedaulatan nasional dan memastikan posisi Indonesia sebagai negara mandiri yang berorientasi pada kepentingan jangka panjang," ungkapnya. (pon)

Baca Artikel Asli