MerahPutih.com - Dalam beberap pekan terakhir ini, hilai tukar rupiah terpukul dan melampaui rekor terendah sepanjang sejarah di atas Rp 18.000 per dolar AS.
Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan fenomena aliran modal ke luar negeri sebagai faktor utama yang melemahkan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing dalam beberapa dekade.
"Kalau sekarang ada yang mengatakan rupiah kita lemah ini dan itu, ya karena kekayaannya keluar. Kalau darah kita tiap hari keluar, di ujungnya badan kita kolaps," kata Presiden Prabowo dalam sambutannya pada Penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2026 di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6).
Presiden menjelaskan, istilah untuk menggambarkan kebocoran konstan kekayaan nasional yang terus mengalir ke luar wilayah Indonesia tersebut adalah net outflow of national wealth.
Baca juga:
Rupiah Loyo pada Penutupan Perdagangan Senin (22/6), Mulut Pedas Donald Trump Guncang Pasar
Berdasarkan data internasional, kata Prabowo, Indonesia sebenarnya mencatatkan keuntungan neraca perdagangan selama 17 tahun dari total rentang waktu 22 tahun terakhir.
Namun, Presiden menyayangkan keuntungan perdagangan senilai USD 436 miliar tersebut, sebagian besar, yaitu senilai USD 343 miliar, langsung dialirkan kembali ke luar negeri oleh para pemilik modal.
Kepala Negara mengatakan, kondisi timpang tersebut membuat dana riil yang tersisa dan mengendap di dalam negeri menjadi sangat sedikit.
Pihaknya, komitmennya untuk mengubah sistem ekonomi yang keliru tersebut demi menjaga kepentingan domestik sesuai dengan sumpah jabatan yang diucapkannya saat dilantik.
"Yang terjadi di Indonesia ini adalah mengalir keluar kekayaan bangsa Indonesia, keluar negeri," ucap Prabowo menegaskan kembali premis ekonominya.