Merahputih.com - Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan akhir pekan menghadapi tantangan berat akibat faktor domestik dan global.
Para pelaku pasar memproyeksikan indeks saham domestik bergerak melemah terbatas akibat aksi profit taking menjelang libur akhir pekan.
Baca juga:
Pada awal perdagangan, IHSG sebenarnya sempat merangkak naik 4,63 poin atau sekitar 0,08 persen menuju level 6.112,84.
Kelompok 45 saham unggulan alias Indeks LQ45 juga mencatatkan apresiasi tipis sebesar 0,31 poin atau 0,05 persen ke posisi 608,89. Namun, penguatan dini tersebut rawan terkoreksi akibat sentimen geopolitik luar negeri.
Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 6.000 sampai 6.220,
ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus.
Konflik Timur Tengah Katrol Harga Energi Global
Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran besar sektor suplai energi dunia.
Serangan AS terhadap basis militer Iran mendapat balasan berupa gempuran ke pangkalan militer sekutu di Kuwait serta Yordania.
Selain itu, blokade Selat Hormuz oleh kelompok Houthi Yaman memperparah jalur logistik minyak mentah global.
Kondisi keamanan jalur laut berimbas langsung pada pergerakan harga komoditas global
-
Penurunan Suplai Minyak: Volume pengiriman melalui Selat Hormuz anjlok drastis dari sebelumnya 9,4 juta barel menjadi hanya 5,5 juta barel per hari.
-
Kenaikan Harga Minyak WTI: Kontrak minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak cepat hingga bertengger pada level 79,55 dolar AS per barel.
-
Kenaikan Harga Minyak Brent: Harga patokan minyak Brent menyentuh level 84,23 dolar AS.
-
Risiko Suku Bunga: Kenaikan harga energi global memicu potensi percepatan kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
“Pelaku pasar dan investor mungkin akan menghadapi masa-masa sulit, terutama bagi IHSG dan pasar obligasi untuk bisa bangkit kembali,” ujar Nico.
Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Ribuan Triliun
Kondisi ekonomi domestik turut mendapat sorotan tajam seiring rilis data keuangan terbaru dari Bank Indonesia. Laporan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada periode Mei 2026 menembus angka fantastis 462,4 miliar dolar AS.
Berdasarkan asumsi kurs Rp17.300 per dolar AS, total utang luar negeri tersebut kini menyentuh kisaran Rp8.000 triliun, atau tumbuh sebesar 2,1 persen secara tahunan (year on year).
Baca juga:
IHSG Sukses Melaju di Zona Hijau Bersama Bursa Saham Asia Sore Ini
Berikut rincian profil utang luar negeri serta perkembangan bursa saham global:
-
Rasio PDB Nasional: Rasio utang luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto berada pada tingkat terkendali sebesar 30,6 persen.
-
Profil Jatuh Tempo: Mayoritas utang didominasi oleh instrumen jangka panjang dengan porsi mencapai 84,6 persen dari total utang.
-
Penutupan Wall Street: Indeks S&P 500 melemah 0,51 persen ke posisi 7.533,77, indeks Nasdaq turun 1,62 persen ke 29.025,77, sedangkan Dow Jones terdepresiasi 0,20 persen ke level 52.552,97.
-
Pergerakan Bursa Asia: Indeks Nikkei Jepang merosot tajam 4,22 persen ke posisi 64.016,00, sementara Hang Seng Hong Kong menguat sendiri sebesar 1,55 persen ke level 24.602,00.
Meskipun nominal utang bertambah, struktur pembiayaan luar negeri nasional dinilai masih berada dalam batas aman. Dominasi utang jangka panjang meminimalisasi risiko gagal bayar atau refinancing risk dalam jangka pendek.
“Pelemahan Rupiah dan tingginya suku bunga global berpotensi meningkatkan beban pembayaran utang ke depan,” tutur Nico