Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Pengungsi Kembali Ngemper di Kantor UNHCR Jakarta, Mereka Bawa Bantal

Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 03 Juli 2026

MerahPutih.com - Sejumlah pengungsi kembali mendatangi bagian belakang kantor Komisioner Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Pengungsi (UNHCR). Padahal, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan, memberikan imbauan persuasif agar tidak melakukan aksi.

Para pengungsi ini duduk atau ngemper di trotoar sambil menunggu perwakilan UNHCR. Ada pula yang tiduran di tepi jalan dengan menggunakan karpet. Barang-barang yang ada di sekitar mereka, yakni tas, galon berisi air mineral serta bantal.

Saya sudah 10 tahun di Indonesia. Dua tahun di kamp di Surabaya, lima bulan di Makassar, di bawah panas dan hujan, lalu dua tahun di depan kantor UNHCR,

kata salah seorang pengungsi asal Afghanistan Jafar Ali Husaini (47).

Selama masa tersebut, dia mengaku sempat tinggal selama dua tahun di kamp pengungsian di Surabaya, lima bulan di Makassar, dan dua tahun bertahan di depan kantor UNHCR, Jakarta. Saat ini, dia tinggal di sebuah indekos di Depok, Jawa Barat.

Baca juga:

UNHCR Krisis Anggaran, 3.500 Pekerja Kena PHK

Dalam dua kali dalam sepekan, dia datang ke depan kantor UNHCR di Jakarta untuk mencari kejelasan atas statusnya.

Saya tinggal di Depok. Setiap minggu, dua kali saya datang ke depan kantor UNHCR Jakarta, tetapi belum mendapat respons,

ujar Jafar.

Ia mengaku tidak diperbolehkan bekerja selama berada di Indonesia. Untuk kebutuhan hidup, sebelumnya memperoleh bantuan dari International Organization for Migration (IOM), tapi bantuan tersebut dihentikan pada Februari 2024.

Saya berada di bawah organisasi IOM. Pada Februari 2024, IOM menghentikan seluruh dukungan finansial dan bantuan tempat tinggal,

tutur Jafar.

Akibat penghentian bantuan itu, mengaku harus menanggung beban utang hingga sekitar Rp 40 juta yang sebelumnya dipinjam untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Menurut pengakuannya, Jafar meninggalkan Afghanistan menuju Pakistan sebelum akhirnya tiba di Indonesia. Sebelum menjadi pengungsi, bekerja sebagai kontraktor konstruksi selama sekitar 18 tahun. Dia lalu memutuskan meninggalkan negara asalnya itu karena alasan keamanan.

Saya datang ke sini karena tidak memiliki keamanan. Saya tidak aman di negara saya,

ungkap Jafar.

Japar akan bertahan di depan kantor UNHCR karena belum mendapat kepastian mengenai proses penanganan dan penempatan. (*)

Baca Artikel Asli