MerahPutih.com - Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel mengguncang fondasi politik Republik Islam.
Serangan tersebut juga menewaskan sejumlah tokoh penting, termasuk penasihat keamanan utamanya dan beberapa pejabat tinggi militer, mempercepat dinamika transisi kekuasaan di Teheran.
Di tengah ketegangan regional yang meningkat dan ancaman lanjutan dari Presiden AS Donald Trump, pertanyaan besar muncul, siapa yang akan menggantikan Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran? Dan bagaimana proses pemilihannya?
Baca juga:
Konflik AS-Israel dengan Iran, Menhub Maskapai Waspadai Kawasan Timur Tengah
Pengganti Ayatollah Ali Khamenei, Kandidat Kuat
Berikut sejumlah nama yang paling sering disebut sebagai calon pemimpin tertinggi Iran selanjutnya:
1. Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei adalah putra kedua Ali Khamenei dan dianggap memiliki pengaruh besar di lingkaran elite, khususnya di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Kelebihan:
- Jaringan kuat di militer dan birokrasi
- Dukungan dari kelompok garis keras
Tantangan:
- Suksesi ayah ke anak dipandang negatif di Iran
- Trauma sejarah terhadap monarki Shah sebelum 1979
Baca juga:
58 Ribu Jemaah Umrah Tertahan karena Konflik AS-Iran, Legislator Dorong Skema Pemulangan
Banyak analis menilai jalannya menuju kursi tertinggi tidak akan mudah meskipun memiliki dukungan internal.
2. Alireza Arafi
Sebagai anggota Dewan Garda dan wakil ketua Majelis Ahli, Alireza Arafi memiliki posisi strategis dalam proses suksesi.
Ia juga imam salat Jumat di Qom pusat pendidikan Syiah paling penting di Iran.
Kelebihan:
- Kredibilitas keagamaan kuat
- Terlibat langsung dalam struktur transisi
Kekurangan:
-
Minim basis politik luas
3. Mohammad Mehdi Mirbagheri
Baca juga:
Iran Kecam Pembunuhan Ali Khamenei oleh AS-Israel, Menyebutnya Aksi Terorisme
Mohammad Mehdi Mirbagheri dikenal sebagai ulama ultra-garis keras dan anggota Majelis Ahli.
Ia memimpin Akademi Ilmu Islam di Qom dan memiliki pandangan keras terhadap Barat.
Kelebihan:
- Didukung faksi konservatif
- Ideolog kuat
Risiko:
-
Bisa memperuncing isolasi internasional Iran
Momen haru di Teheran setelah Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan udara, membuka babak baru suksesi kepemimpinan Iran. Foto X: khamenei_ir
4. Gholam-Hossein Mohseni-Ejei
Sebagai kepala yudikatif Iran, Gholam-Hossein Mohseni-Ejei dikenal sebagai figur konservatif yang loyal terhadap sistem.
Pengalaman:
- Mantan Menteri Intelijen
- Jaksa Agung
- Wakil Ketua Mahkamah Agung
Kedekatannya dengan struktur keamanan membuatnya kandidat yang diperhitungkan.
Baca juga:
5. Hassan Khomeini
Hassan Khomeini adalah cucu pendiri Republik Islam.
Berbeda dengan kandidat lain, ia dikenal memiliki kecenderungan reformis dan pandangan lebih moderat.
Kelebihan:
- Nama besar keluarga Khomeini
- Diterima kalangan reformis
Kendala:
- Pernah didiskualifikasi dari Majelis Ahli pada 2016
- Kurang dukungan dari kelompok garis keras
Siapa yang Paling Berpeluang?
Secara realistis, peluang terbesar berada pada figur yang memiliki dukungan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang merupakan cabang elit militer Iran yang dibentuk pasca-Revolusi 1979 untuk melindungi sistem pemerintahan Islam Iran, jika lolos maka akan diterima oleh faksi konservatif dominan dan tidak memicu perpecahan internal.
Baca juga:
Nama seperti Mojtaba Khamenei dan Mohseni-Ejei dinilai paling dekat dengan lingkar kekuasaan saat ini. Namun dinamika politik Iran sangat tertutup dan keputusan akhir berada di tangan Majelis Ahli.
Dalam sistem politik Iran yang berbasis prinsip velayat-e faqih (kepemimpinan ulama), pemimpin tertinggi memiliki otoritas tertinggi dalam urusan politik, militer, dan agama.
Pemimpin tertinggi dipilih oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts), badan ulama beranggotakan 88 orang yang dipilih rakyat setiap delapan tahun. Namun, kandidat Majelis Ahli harus terlebih dahulu disetujui oleh Dewan Garda (Guardian Council) lembaga kuat yang sebagian anggotanya ditunjuk langsung oleh pemimpin tertinggi.
Jika posisi kosong karena wafat atau pengunduran diri, Majelis Ahli bersidang dan memilih pengganti melalui suara mayoritas sederhana.
Menurut konstitusi Iran, kandidat harus:
- Ulama senior dengan pemahaman mendalam tentang fikih Syiah
- Memiliki kecakapan politik
- Berani dan mampu secara administratif
Sejak Revolusi Islam 1979 yang dipimpin oleh Ruhollah Khomeini, baru satu kali terjadi transisi kekuasaan yakni saat Khamenei menggantikan Khomeini pada 1989.
Baca juga:
Saat Terjadi Kekosongan Kekuasaan
Pasal 111 Konstitusi Iran mengatur pembentukan dewan sementara hingga pemimpin baru terpilih.
Dewan tersebut terdiri dari:
- Presiden Iran, Masoud Pezeshkian
- Ketua Mahkamah Agung, Gholam-Hossein Mohseni-Ejei
- Seorang ulama dari Dewan Garda, yakni Alireza Arafi
Struktur ini memastikan tidak terjadi kekosongan komando, terutama dalam situasi krisis militer dan tekanan eksternal.