MerahPutih.com - Pandemi COVID-19 tidak hanya menjadi krisis kesehatan namun juga memiliki dampak jangka panjang terhadap berbagai aspek seperti kesenjangan sosial, ekonomi, dan digital. Paling tidak, sekitar 150 juta orang di dunia masuk ke dalam jurang kemiskinan ekstrim karena adanya krisis pengangguran yang dipicu oleh resesi ekonomi dalam dua tahun ke depan.
Tercatat, virus ini sudah menjangkiti 100 juta orang di seluruh dunia dan lebih dari 2 juta kematian.
"Ini adalah salah satu virus paling mematikan dalam sejarah,” katanya Presiden World Economic Forum (WEF) Borge Brende dalam acara Peluncuran Global Risks Report 2021 secara virtual di Jakarta, Selasa (19/1).
Baca Juga:
Sistem Kemitraan Perkuat UMKM
Ia menyatakan, langkah untuk keluar dari potensi risiko itu adalah dengan memastikan pertumbuhan pada tahun-tahun mendatang harus lebih inklusif dan berkelanjutan serta menciptakan lapangan kerja yang layak.
“Salah satu kekhawatiran utama kami pada tahun-tahun mendatang adalah ketidaksetaraan dan fragmentasi masyarakat. Ini adalah risiko langsung yang akan membawa konsekuensi jangka panjang jika tidak ditangani,” katanya.
Pandemi COVID-19 juga, kata ia, berpotensi membawa ancaman terhadap resesi ekonomi dan teknologi berkelanjutan dalam tiga sampai lima tahun mendatang. Potensi risiko tersebut akan menyebabkan rusaknya infrastruktur teknologi informasi (TI), guncangan komoditas, ketidakstabilan harga, hingga krisis utang jika tidak segera ditangani.
Terkait dengan akses teknologi dan keterampilan digital, kesenjangan antara masyarakat yang mampu dan tidak mampu berisiko semakin melebar sehingga mempersulit terbentuknya ikatan sosial.
Borgo menegaskan, pandemi ini juga diperkirakan memiliki dampak lima sampai 10 tahun berikutnya yaitu adanya senjata pembunuh massal, keruntuhan negara, hilangnya keanekaragaman hayati, dan kemajuan teknologi yang merugikan.
"Potensi risiko jangka panjang itu, akan terjadi jika terdapat perpecahan masyarakat di berbagai negara serta pandangan geopolitik yang semakin tegang dan rapuh sehingga menghambat pemulihan global," katanya dikutip Antara. (*)
Baca Juga:
Ekonomi Tiongkok Pulih Dengan Cepat