Merahputih.com - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuka perdagangan pasar valuta asing dengan tren positif. Pasaran mencatat kenaikan sebesar 4 poin atau setara 0,02 persen, mengantarkan rupiah ke posisi Rp17.873 per dolar AS. Angka ini memperlihatkan penguatan ketimbang penutupan sesi sebelumnya pada level Rp17.877 per dolar AS.
Baca juga:
IHSG Dibuka Melemah Tipis! Sentimen Nota Keuangan RAPBN 2027 Bayangi Pergerakan Saham BEI
Kinerja positif mata uang Garuda terdorong rilis data Producer Price Index (PPI) AS terkini berada di bawah estimasi pasar. Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai kondisi tersebut memberikan ruang napas bagi nilai tukar domestik.
Secara bulanan, PPI meningkat menjadi 0,0 persen MoM dari -0,1 persen MoM, namun berada di bawah konsensus sebesar 0,2 persen MoM,
ujar Josua Pardede.
Josua Pardede menambahkan, "Secara tahunan, PPI melandai menjadi 4,7 persen YoY dari 5,5 persen YoY, juga lebih rendah dari ekspektasi sebesar 4,9 persen YoY."
Peredaan Inflasi Energi dan Sinyal The Fed
Laporan data PPI lebih rendah ketimbang prediksi awal memberikan indikasi kuat peredaan tekanan inflasi sektor energi di AS. Kondisi ini secara otomatis menekan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) mendatang.
Garis data ekonomi global dan indikator pasar mencatat sejumlah poin penting berikut:
-
Pergerakan Kurs: Rupiah menguat 4 poin (0,02 persen) menuju Rp17.873 per dolar AS.
-
Tingkat PPI Bulanan AS: Berada pada level 0,0 persen MoM (di bawah konsensus 0,2 persen MoM).
-
Tingkat PPI Tahunan AS: Melandai ke angka 4,7 persen YoY (di bawah ekspektasi 4,9 persen YoY).
-
Proyeksi Suku Bunga: Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed via FedWatch turun menjadi 34,8 persen.
-
Rentang Proyeksi Rupiah: Diperkirakan bergerak stabil dalam kisaran Rp17.825 hingga Rp17.950 per dolar AS.
Fokus Investor pada Sentimen Domestik
Selain dinamika global, perhatian para pelaku pasar valas tertuju pada agenda penting dalam negeri. Komunitas investor menantikan arah kebijakan ekonomi melalui pidato Presiden Indonesia Prabowo Subianto terkait penyampaian Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Baca juga:
Sinergi antara penurunan potensi pengetatan moneter AS dan kejelasan arah fiskal domestik diyakini mampu menjaga stabilitas mata uang nasional. Analisis pasar memperkirakan pergerakan rupiah tetap berada pada koridor aman sepanjang sesi perdagangan.