MerahPutih.com - Sejumlah pemerintah di Asia dan Eropa mulai meningkatkan imbauan kesiapsiagaan kepada masyarakat.
Langkah tersebut dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari mengeluarkan panduan darurat hingga membentuk badan khusus penanggulangan bencana.
Jepang menjadi salah satu negara Asia yang aktif mengeluarkan imbauan tersebut. Pada 2 November 2026, Jepang dijadwalkan secara resmi mengeluarkan imbauan nasional bersamaan dengan pembentukan badan penanggulangan bencana baru.
Menteri Penanggulangan Bencana Jepang, Goshi Hosono, meminta masyarakat menyimpan persediaan makanan, air, dan perlengkapan sanitasi untuk kebutuhan minimal tiga hari. Ia juga menyarankan agar warga menyiapkan persediaan untuk satu pekan jika memungkinkan.
Menurut infografis World Visualized, setidaknya 18 negara sepanjang 2026 telah meluncurkan, memperbarui, atau berpartisipasi dalam inisiatif serupa.
Baca juga:
Alarm Bahaya dari Tokyo! Jepang Petakan 3 Pemicu Krisis Keamanan Negara Asia Tenggara
Sementara di Jerman, Badan Perlindungan Sipil (BBK) menyarankan masyarakat menyimpan persediaan makanan dan minuman untuk sekitar 10 hari. Namun, bagi warga yang belum mampu memenuhi jumlah tersebut, persediaan untuk minimal tiga hari tetap dinilai sangat membantu.
Sementara itu, Norwegia meningkatkan anjuran kemandirian rumah tangga dari tiga hari menjadi satu pekan. Republik Ceko juga meluncurkan kampanye "72 Hours" dan membagikan 5,2 juta panduan kesiapsiagaan ke rumah-rumah.
Kemudian, sejumlah negara lain yang turut mengambil langkah serupa adalah Inggris, Prancis, Irlandia, dan Belanda.
Mengapa Negara-negara Eropa Tingkatkan Kesiapsiagaan?
Strategi tersebut mendorong masyarakat untuk memiliki persediaan kebutuhan pokok setidaknya selama 72 jam. Selain itu, materi kesiapsiagaan juga didorong untuk masuk ke dalam kurikulum sekolah.
Komisi Eropa menyebutkan sejumlah faktor yang melatarbelakangi strategi tersebut. Di antaranya adalah meningkatnya ketegangan geopolitik dan konflik, ancaman hibrida dan siber, manipulasi informasi asing, hingga perubahan iklim serta bencana alam yang semakin sering terjadi.
Finlandia, yang sejak lama menjadi salah satu rujukan dalam hal kesiapsiagaan, menilai berbagai krisis dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa koordinasi Eropa masih perlu diperbaiki.
Baca juga:
Krisis tersebut mencakup pandemi COVID-19, banjir, kebakaran hutan, serangan hibrida, hingga perang agresi Rusia.
Sedangkan di negara-negara yang berdekatan dengan Rusia, panduan kesiapsiagaan bahkan dibuat lebih ketat. Menurut laporan Newsweek, masyarakat di wilayah tersebut mendapat informasi mengenai cara menghadapi konflik militer dan prosedur evakuasi.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, pada 15 September 2026 lalu menyatakan bahwa serangan hibrida terhadap Eropa terus meningkat sejak invasi penuh Rusia ke Ukraina. Namun, Kremlin menolak tuduhan bahwa Rusia mengancam negara-negara Eropa.
Jepang Bersiap Hadapi Ancaman Megagempa
Komite Penelitian Gempa memperkirakan peluang terjadinya megagempa bermagnitudo 8-9 di Palung Nankai dalam 30 tahun ke depan meningkat menjadi sekitar 80 persen, dari sebelumnya 70-80 persen.
Laporan pemerintah pada Maret 2025 juga memperkirakan skenario terburuk bencana tersebut dapat menyebabkan hingga 298.000 korban jiwa dan kerugian ekonomi mencapai 292 triliun yen (Rp 33,6 kuadriliun).
Evaluasi berikutnya sempat merevisi peluang tersebut menjadi kisaran sekitar 60-90 persen atau lebih tinggi. Dengan demikian, ancaman gempa besar di wilayah tersebut dinilai sebagai risiko yang serius dan nyata.
Bagi Hosono, persoalan kesiapsiagaan juga berkaitan dengan kemampuan pemerintah daerah. Ia mengakui, bahwa tingkat kesiapan setiap wilayah masih timpang, termasuk dalam hal ketersediaan stok logistik pemerintah daerah dan jumlah petugas yang mendapatkan pelatihan.
Baca juga:
Dunia di Ambang Krisis, Tinggi Permukaan Laut Naik 2 Kali Lipat dalam 10 Tahun
Kondisi tersebut membuat bantuan pemerintah belum tentu bisa segera tiba ketika gempa besar melanda banyak wilayah sekaligus.
Ia juga menyebut perbaikan tempat pengungsian sebagai salah satu prioritas. Rencananya, standar fasilitas pengungsian akan ditingkatkan dengan menambahkan fasilitas mandi, dapur yang menyediakan makanan hangat, serta tempat tidur. Sebelumnya, standar tersebut hanya mencakup fasilitas toilet.
Singapura Perbarui Panduan Darurat
Edisi terbaru panduan tersebut memuat sejumlah topik baru, seperti Peringatan Darurat (SG Alert), perlindungan darurat di rumah, serta prosedur perlindungan di tempat yang telah diperbarui.
Pembaruan buku panduan ini berjalan beriringan dengan latihan nasional Exercise SG Ready 2026. Kegiatan tersebut dipimpin Kementerian Pertahanan bersama IMDA, EMA, People's Association, dan SCDF.
Berdasarkan panduan tersebut, masyarakat perlu menyiapkan air sebanyak tiga liter per orang per hari serta makanan yang tidak memerlukan proses memasak atau pendinginan.
Sejumlah media lain juga menambahkan beberapa kebutuhan yang perlu disiapkan, seperti obat-obatan, tisu toilet, senter, dan uang tunai. (tka)